Pencipta Kue Dengan Sentuhan Prancis

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tak sedikit pengusaha sukses di bidang kuliner, awalnya dari iseng-iseng atawa coba-coba membuat masakan. Karina Mecca dan Keshia Deisra, contohnya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kakak beradik pendiri Dulcet Patisserie ini mulanya membuat kue ketika ada keluarga yang datang ke rumah. “Ternyata, mereka pada suka, terus ketagihan. Padahal kalau dari modal skill bikin kue masih minim banget,” kata Keshia.

Berbekal respons yang sangat positif dari keluarga mereka, Karina dan Keshia dengan penuh percaya diri mulai menawarkan kue buatannya ke teman-teman terdekat. Hasilnya, kue mereka laku keras.

Kini, dengan mengibarkan bendera Dulcet Patisserie, saban hari Karina dan Keshia bisa memproduksi puluhan loyang kue yang semuanya merupakan pesanan dibantu 10 karyawan. Sayangnya, keduanya menolak mengungkapkan omzet bulanan.

Yang jelas, harga jual kue bikinan mereka Rp 225.000–Rp 495.000 per loyang. “Saat Lebaran dan Natal, produksi bisa naik dua kali lipat dari hari biasa,” ungkap Karina.

Karina dan Keshia menjajakan kue sejak 2011. Tapi saat itu masih dari mulut ke mulut, pembelinya sebatas teman dan keluarga.

Melihat penjualan yang bagus, mereka pun menawarkan produknya melalui media sosial pada 2012, yakni Facebook, Twitter, dan Pinterest.

Keshia berkisah, ide berjualan online datang dari sang ayah. Saat itu, mereka belum punya modal yang cukup untuk membuka toko offline.

“Kan, enggak mungkin kami pinjam ke bank. Kami masih sekolah waktu itu. Pinjam orangtua apalagi, enggak enak, lah,” ujarnya, yang di awal membuka usaha mengantar sendiri semua pesanan kue ke rumah pelanggan.

Ya, waktu memulai usaha ini, usia Karina dan Keshia belum 20 tahun. Karina baru tahun pertama di perguruan tinggi, sedang Keshia menekuni hobi menulis sehingga memutuskan tidak kuliah dulu.

“Sambil mencari-cari, kira-kira apa yang bisa didalami tapi menghasilkan uang,” ucap Keshia yang lahir 30 Desember 1994. 

Kebetulan, Keshia juga suka membuat kue. Awalnya, kue yang mereka tawarkan betul-betul sederhana tanpa dekorasi, seperti red velvet cupcake dan lemon cupcake. Setelah laris manis, baru keduanya menjajakan kue yang lain, mulai cake, choux sable, hingga pie.

Tugas Karina yang senang fotografi adalah memotret kue untuk dipajang di etalase akun media sosial Dulcet Patisserie. “Dulu memotret pakai handphone, tapi tetap kami pikirkan estetikanya,” ungkap Karina yang lahir 5 Juni 1993.

Bantuan artis

Di 2013, Karina dan Keshia  menambah “cabang” dengan membuka toko di Instagram. Mereka mulai memakai nama Dulcet Patisserie.

Dulcet berasal dari bahasa Anglo-Saxon yang berarti manis. Sementara kata Patisserie adalah jenis kue asal Prancis.

“Waktu aku belajar membuat kue secara autodidak, style Prancis yang cocok ke aku,” jelas Keshia yang belajar dari video di YouTube dan buku-buku kue Prancis.

Kemudian, Keshia yang sekarang menjabat sebagai pastry chef dan Managing Director Dulcet Patisserie, menciptakan gaya sendiri, tidak lagi meniru kue buatan orang lain.

“Kami mengupayakan, agar kue yang kami jual hasil karya kami,” imbuh Karina yang duduk di kursi Brand and Marketing Director Dulcet Patisserie.

Kue ciptaan mereka, misalnya, matcha espresso cake yang merupakan hasil perpaduan teh hijau dan kopi. “Kue ini cukup ikonis karena komposisinya sendiri semua. Jadi, style Prancis lebih ke referensi saja buat saya,” beber Keshia.

Seiring penggunaan brand Dulcet Patisserie secara resmi,  Karina dan Keshia memakai kemasan baru yang menyematkan nama dan logo toko mereka. Keduanya terpaksa memesan 1.000 kemasan lantaran order minimal ke percetakan harus sebanyak itu.

Sejatinya, Karina dan Keshia ragu kemasan itu bakal terpakai semua. Mereka pesimistis bisa menjual kue sampai 1.000 loyang. “Tapi akhirnya, habis juga bahkan hanya dalam hitungan bulan,” kata Karina.

Pesanan yang mengalir deras tersebut berkat bantuan sejumlah artis yang ikut mempromosikan kue Dulcet Patisserie di akun Instagram mereka masing-masing. Sebut saja, penyanyi Andien serta Raisa.

Cuma sebetulnya, sewaktu mengirim kue ke beberapa artis, tak ada permintaan sama sekali untuk mengunggah foto kue di akun Instagram mereka.

“Sejak mereka posting hampir secara bersamaan, follower Dulcet Patisserie langsung melejit. Ada ratusan e-mail yang masuk menanyakan harga, pesanan yang masuk juga banyak banget,” ujar Keshia yang saat itu baru punya seorang karyawan yang bertugas membantu melayani order yang datang.

Kini Dulcet Patisserie menyediakan dua menu: harian dan musiman. Menu musiman keluar saat perayaan khusus, seperti Lebaran, Natal, Tahun Baru China, serta Valentine.

Nah, varian kue baru biasanya mereka luncurkan ketika hari raya sebagai menu musiman. Kalau ada menu musiman yang laku keras, Karina dan Keshia bakal memasukkannya ke dalam menu harian.

Contoh, milk crumble cake. “Itu kami keluarkan Lebaran tahun lalu, tapi sampai sekarang jadi best seller,” beber Karina.

Nah, mulanya Karina dan Keshia memproduksi kue di dapur rumah orangtua mereka di daerah Ciganjur, Jakarta Selatan. Begitu pesanan bertambah banyak dan butuh ruang yang lebih luas, keduanya menyulap garasi rumah orangtua jadi dapur produksi.

Sampai sekarang, mereka masih menumpang di rumah orangtua, dengan 10 karyawan di bagian produksi, administrasi, dan pengantaran. “Tapi, kami sudah menyiapkan rumah produksi sendiri sekaligus toko offline. Mudah-mudahan bisa segera kami tempati rumah produksinya,” kata Karina.

Sebenarnya, akhir 2013 lalu, mereka ada keinginan memiliki toko fisik. Namun, keduanya memutuskan memakai keuntungan usaha untuk membeli tiga motor lengkap dengan boks untuk pengiriman kue, sekaligus mempekerjakan tiga orang sebagai kurir.

“Dan ternyata, punya kurir sendiri enak karena kami bisa mengontrol mereka,” ujar Karina. Sebelumnya, mereka menyerahkan pengantaran kue kepada orang lain.

Instagram utama

Pada 2014, Karina dan Keshia menambah saluran pemasaran baru, dengan membangun website resmi untuk Dulcet Patisserie. Situs ini mengalami perubahan besar pasca Karina mendalami ilmu pemasaran online selepas lulus kuliah dari Jurusan Arsitektur Binus University, Jakarta, di 2015.

Sebelumnya, mereka mendapat arahan dari sang ayah yang seorang konsultan keuangan. Sang ayah memberi asupan lewat artikel media massa, juga buku tentang manajemen bisnis dan pemasaran. “Papa kami juga yang mengajari bagaimana bikin keuangan yang sederhana,” kenang Karina.

Meski punya banyak saluran penjualan, Karina menyatakan, Instagram jadi platform yang utama buat Dulcet Patisserie. Maklum, setelah dapat bantuan promosi dari artis, kala itu jumlah pengikut Dulcet Patisserie melonjak, dari hanya ratusan menjadi belasan ribu follower dalam waktu sebulan.

Itu sebabnya, Karina menimba ilmu dengan mengikuti sejumlah workshop yang diselenggarakan Instagram. Misalnya, cara memaksimalkan tools yang ada di aplikasi berbagi foto dan video yang kini dimiliki Facebook Inc. tersebut.

“Pelatihan itu benar-benar memengaruhi dan membantu kami dalam meningkatkan penjualan. Kami juga belajar, bagaimana caranya mengemas produk yang bagus secara visual tetapi jujur,” cerita Karina.

Yang paling sulit dalam pengembangan usaha buat mereka adalah, mengelola karyawan. Sebab, isi kepala setiap pekerja berbeda dan tidak ada orang lain yang tahu.

“Ini masih terus kami pelajari. Karyawan kami kebanyakan perempuan, sering keluar dengan alasan menikah, punya anak. Akhirnya harus rekrut yang baru dan mengajari lagi dari awal, terutama di produksi,” beber Karina.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Karena itu, Karina dan Keshia terus memperbaiki sistem, baik manajemen maupun pelayanan. Lantaran bisnis makin berkembang, saat ini mereka dalam proses pembuatan badan usaha.

“Mudah-mudahan tahun depan sudah ada badan usahanya. Kami juga ingin punya toko dan dapur produksi sendiri yang sedang dalam proses pembangunan,” tambah Karina.

Coba-coba yang berbuah kesuksesan besar berbisnis.

Sumber:Kontan

No comments

Powered by Blogger.