Mafia TKI Berkeliaran, Penduduk Desa Diperingatkan Agar Berhati-hati


Sampai saat ini kasus yang menimpa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri masih jadi pekerjaan bersama. Bahkan yang perlu jadi perhatian ialah mafia yang mempengaruhi masyarakat agar jadi pekerja di luar negeri. Liaison Officer (LO) Polri di Tawau, Kompol Ahmad Fadilan mengatakan mafia ini menyerang masyarakat desa atau pelosok untuk mencari mangsa. Banyak cara yang dilakukan para mafia ini untuk mencari korban.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Mafia ini masih berkeliaran. Mereka membujuk korbannya dengan mengiming-imingi uang. Gaji yang tinggi. Tidak perlu repot mengurus persyaratan. Kalau sudah begini, jadilah TKI ilegal," ungkapnya saat memberikan materi dalam sosialisasi penanganan permasalahan WNI, di The Singhasari Resort, Kota Batu, Kamis (4/10/2018).

Ia mengungkapkan jika yang jadi sasaran itu ialah masyarakat desa. Karena kebanyakan masyarakat desa ini sangat menggebu-gebu jika diberi iming-iming pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Apalagi ditambah tidak perlu repot-repot mengurus persyaratan.

"Karena mereka (mafia) ini memberikan kemudahan agar tidak perlu memikirkan terkait persyaratan. Asal mau saja, dan siap, sudah jadi korban itu," imbuhnya.

Menurutnya, masyarakat desa ini masih lemah terkait hal seperti ini. Karena kebanyakan mereka masih terlalu mudah mendapatkan iming-iming hal yang menakjubkan. Ia mengungkapkan daerah mana saja bisa menjadi sasaran. Termasuk di Kota Batu.

"Semua berpotensi untuk jadi sasaran mafia ini. Tidak terkecuali di sini (Kota Batu). Iming-iming gaji 6 juta perbulan, apalagi mereka (mafia) memberikan uang jika korbannya ini menyetujui," ungkapnya.

Dalam sosialiasi ini juga dihadiri oleh KJRI Jeddah Pejabat Fungsi Konsuler Rahmat Aming L, dan KJRI Johor Bahru Wino Sumarno.

Sebelumnya, Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Direktorat Jendral Protokoler dan Konsuler Kementrian Luar Negeri, Jean Anes mengungkapkan apabila ia berjanji akan segera menyelesaikan kasus 70 anak dari Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) perempuan yang bekerja diluar negeri.


Ia menyebut kasus yang dialami itu ialah ketika mereka (TKI Perempuan) melahirkan, anaknya yang dilahirkan tidak bisa mendapatkan akte kelahiran atau masih belum diakui sebagai WNI.

Meski pengakuan bahwa bayi atau anak yang dilahirkan dari buah hati ibu kandungnya, statusnya tidak secara otomatis menjadi WNI. Perlu ada uji tes deoxyribonucleic acid (DNA).

"Tidak serta merta anak itu menjadi WNI, perlu tes DNA. Di Jatim dari 2501 kasus yang sudah kami selesaikan hampir semuanya," kata Jean.

Ia menyebutkan data yang dimiliki Kementerian Luar Negeri, 70 anaknya TKW yang tak miliki status kewarganegaraan kini dalam penanganan kementrian luar negeri.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Selama periode Januari hingga September 2018, tercatat sebanyak 13.004 kasus telah menimpa para WNI di luar negeri. Dari jumlah tersebut 2068 kasus sedang dalam penanganan secara intensif, khususnya 174 WNI yang terancam hukuman mati.

Kegiatan ini berlangsung selama lima hari mulai tanggal 30 September sampai 5 Oktober 2018 yang dihadiri peserta dari Disnaker se-Jawa Timur dan Jawa Tengah, Pengadilan Agama se-Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Dalam 3 hari ke depan para peserta dari Jatim dan Jateng akan diberi pembekalan teknis mengenai penanganan permasalahan WNI di luar negeri.


Sumber:tribunnews



No comments

Powered by Blogger.