Pengiriman Tenaga Migran ke Taiwan Salah Prosedur

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Denpasar turun tangan untuk menangani kasus yang dialami Gede Yudi Ermawan, 23, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng yang bekerja di Taiwan. BP3TKI langsung mendatangi pemilik Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Eka Widya College (EWC) pada Selasa (2/10) kemarin.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Denpasar Setiadi Hidayat membeberkan pertemuan tersebut. Hasilnya, istri pemilik LPK EWC, Dewa Ayu Ngurah Sutami sepakat mengganti uang senilai Rp 60 juta. Uang tersebut sempat disetorkan Gede Yudi sebelum berangkat ke Taiwan.

Selain mengganti uang, di hadapan BP3TKI Denpasar Ayu Sutami juga berjanji akan memfasilitasi Gede Yudi untuk pulang ke Buleleng. Hal itu dilakukan jika anggaran yang dimiliki KBRI di Taiwan tidak memenuhi.

Setiadi menyebut, Ayu Sutami merupakan orang yang menjembatani keberangkatan para PMI  dengan agent BZ Mandiri yang dikoordinatori Jazilah, warga asal Jati Rahayu Pondok Gede, Bekasi, Jakarta. Bahkan uang senilai Rp 60 juta itu diterima secara tunai oleh Ayu Sutami.

"Dari hasil kordinasi kami, Ayu Sutami siap memenuhi tuntutan TKI dan siap memulangkan TKI itu ke Buleleng. TKI menuntut mereka akan pulang ketika uang Rp 60 juta yang disetorkan saat berangkat itu dikembalikan,” ujar Setiaji.

Uang sambung Setiaji memang diterima tunai oleh Ayu Sutami. Namun pihaknya tak mau tahu, perkara ada kaitannya dengan orang di Jakarta (Jazilah,red). Sebab itu di luar ranahnya untuk melakukan investigasi.  “Prinsipnya, kasus selesai dan tuntutan TKI terpenuhi," imbuhnya.

Terkait waktu pemulangan, kata Hidayat, akan dilakukan dalam tempo waktu yang secepatnya. Sebab jika diundur, pihaknya khawatir korban Gede Yudi akan ditahan oleh Imigrasi Taiwan. Sementara jika terciduk, persoalan akan semakin panjang. Korban Gede Yudi terancam mendekam di bali jeruji besi selama kurang lebih dua tahun lamanya.

"Ini juga saran KBRI di Taiwan agar TKI segera dipulangkan dari pada bermasalah di sana. Posisi TKI saat ini masih bekerja di perusahaan perkebunan. Mereka juga sudah termonitor oleh KBRI di Taiwan.  Prinsipnya masalah sudah selesai, TKI akan segera dipulangkan dengan difasilitasi oleh Ayu Sutami jika anggaran KBRI di Taiawan tidak mencukupi. Yang jelas harus secepatnya," terangnya saat ditemui di ruang kerja Disnakertrans Buleleng.

Rupanya, tak hanya Gede Yudi saja yang menjadi korban. Ada juga dua orang PMI lain yang bernasib sama seperti Yudi. Mereka adalah Kadek Krisna Yudana dan Kadek Mahendra. Kedua pria tersebut berangkat ke Taiwan, bersamaan dengan korban Gede Yudi. Keberangkatan mereka juga difasilitasi oleh Ayu Sutami.

Kata Hidayat, persoalannya pun sama. Para pekerja migran itu hanya diberi visa liburan, dan bukan visa kerja. Pun untuk gaji yang diterima. Tidak sesuai dengan kesepakatan. Dimana, sebelum berangkat Ayu Sutami dan Jazilah mengatakan bahwa gaji yang akan diterima oleh  ketiga PMI tersebut berjumlah Rp 20 juta per bulan. Namun nyatanya, setelah tujuh bulan bekerja sebagai buruh pertanian, mereka hanya menerima upah di bawah Rp 10 juta.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Jadi para TKI ini ditempatkan secara non prosedural. Awalnya dijanjikan gaji Rp 20 juta. Nyatanya yang diterima  dibawah Rp 10 juta dan dipotong selama enam bulan. TKI hanya diberi visa holiday, bukan visa kerja. Dan masa berlaku visa itu sudah habis, sehingga mereka bisa diciduk Imigrasi kalau tidak segera dipulangkan," imbuhnya.

Sumber:jawapos

No comments

Powered by Blogger.