TKW Sulut Merasa Betah di Hongkong, Cerita Kerja sambil Kuliah, Biayai Sekolah Adik di Kampung

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Menjadi pekerja atau buruh migran sebenarnya bukanlah cita-cita prioritas para tenaga kerja wanita (TKW)  asal Indonesia yang kini mengadu nasib di Hongkong.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Semasa muda, sewaktu menekuni pendidikan formal hingga tingkat Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) bahkan hingga bekerja di beberapa tempat di Manado dan Jakarta, saya tidak pernah membayangkan untuk menjadi TKW," tutur Like Kembau (48),TKW asal Rumoong Atas, Minahasa Selatan belum lama ini seusai pertemuan bersama persekutuan doa Glow Felllowship International di Victory Park, Hongkong.

Sekitar 15 tahun lalu, ibu dua anak Ini sempat bertemu dengan salah seorang temannya yang memiliki cerita sukses sebagai TKW. Dalam percakapan keduanya,  Like kemudian ditawarkan untuk bekerja sebagai TKW di Hongkong.  Singkat cerita, pertemuan dan ajakan tersebut ternyata membekas dalam ingatan Like sehingga dirinya memutuskan untuk mengadu nasib di negeri orang.

"Prosesnya cukup panjang karena saya harus berangkat ke Jakarta, mendaftarkan diri,  ikut pelatihan kerja dan bahasa hingga  pada akhirnya berangkat ke Hongkong, "kata Like.

Bulan-bulan pertama adalah masa-masa sulit bagi Like karena harus berkomunikasi dalam bahasa Kanton. "Kalu kerja rumah tangga apalagi momasa itu mudah sekali.Mar yang beking bingo kwa itu mo bacerita. Memang tabingo-bingo dan suka mo pulang. Untunglah ada teman-teman yang mendukung dan terus kase semangat. Puji Tuhan, masa sulit itu bisa terlewati dan majikan saya,  big bos sangat baik dan memperlakukan saya seperti keluarganya.  Akhirnya, sekarang so rasa berat kalu mo kase tinggal Hongkong. Kita semakin cinta Hongkong,"katanya.

Bagi Like, dengan cinta Hongkong bukan berarti tidak akan pulang ke Indonesia, tetapi berharap dengan tenaga dan umur yang memungkinkan dirinya akan tetap bekerja di Hongkong hingga usia pensiun nanti.

Pengalaman Like juga dialami oleh mayoritas TKW Indonesia asal Sulawesi Utara di Hongkong. Theresia Mangare (42) dan Feyke Rorong (39) juga teman-teman mereka asal Jawa dan Nusa Tenggara Barat yaitu Ami, Lili,  dan Adeline. Pada tahun-tahun pertama mereka harus beradaptasi dengan lingkungan kerja mereka sebagai pekerja rumah tangga ataupun pendamping orang lanjut usia.

Feyke yang sejak lulus SMA sudah bekerja di luar negeri, di Hongkong lalu di Singapura dan kembali lagi di Hongkong,  merasa Hongkong adalah tempat yang tepat baginya untuk hidup dan bekerja. TKW asal Molompar,  Minahasa Tenggara ini tidak hanya menjadikan Hongkong sebagai tempat untuk bekerja tetapi juga menjadikannya tempat untuk menimba ilmu.

Feyke yang sempat bekerja di Singapura selama tiga tahun dan sekitar 17 tahun di Hongkong berhasil menyelesaikan studi S-1 di bidang Bisnis dan Manajemen di salah satu universitas di Hongkong. "Semuanya karena anugerah Tuhan, "kata Feyke. Pengalaman Feyke tergolong langkah di antara para TKW, menimba ilmu sambil bekerja.

Theresia juga memiliki pengalaman tidak kalah menarik selama bekerja di luar negeri. Selama 10 tahun bekerja di Hongkong dirinya merasa terpacu untuk bekerja sebaik mungkin.  "Walaupun awalnya sulit untuk berkomunikasi dengan bahasa Kanton, tetapi lama kelamaan jadi nyambung, "kata TKW asal Lowian, Tompaso Baru, Minahasa Selatan.

Baik Like,  Feyke maupun Theresia senantiasa mensyukuri keberadaan dan pekerjaan mereka di Hongkong.  Ketiganya merasa bangga dianugerahkan kesempatan dari Tuhan untuk membiayai keluarga mereka di Indonesia.

"Awal bulan Oktober kedua anak saya, menantu dan cucu saya berlibur di Hongkong selama dua pekan. Mereka sengaja saya ajak agar melihat perjuangan saya di Hongkong, sekaligus juga mereka berwisata,"kata Like.

Perhatian yang sama juga diberikan Theresia kepada kedua orang tuanya yang sudah berumur 80 tahun.  "Beberapa tahun lalu saya pulang ke kampung di Tompaso Baru untuk merayakan HUT Emas perkawinan orang tua saya. Saya membelikan kebun untuk mereka karena mereka masih aktif berkebun walaupun so tua,  masih suka mo ba gerak,"kata Theresia.

Hal senada juga dituturkan Feyke yang tetap bersemangat menyekolahkan adiknya di salah satu perguruan tinggi di Manado.

Ketiganya mengakui mereka bisa bertahan di Hongkong karena mereka bisa membangun komunikasi dengan teman-teman TKW serta aktif dalam pelayanan gereja. Upah yang tinggi tidak sepenuhnya menjamin untuk mereka bertahan hidup di Hongkong.  Saat ini upah minimum TKW di Hongkong  mencapai 4.510 Hongkong Dolar atau sekitar Rp.  9 juta bagi pemula, sedangkan yang telah senior seperti Like, Feyke dan Theresia upahnya bisa lebih dari Rp. 10 juta per bulan.

Justru karena berteman dan bergereja mereka bisa bertahan. Dengan mengantongi hari libur sekali dalam seminggu, apakah Sabtu ataukah Minggu mereka mengisi liburan mereka dengan hal-hal positif. "Kami merasa terayomi dalam kebersamaan pelayanan gereja apalagi Pastor Jeanet yang melayani kami sangat memahami keberadaan kami, "kata Like.

Pastor Jeanet Saren yang tinggal di Hongkong sejak tahun 1999 adalah gembala sidang Glow Fellowship International. Rohaniwan asal Tondano ini mengabdikan dirinya bagi pelayanan jemaat di Hongkong yang mayoritas adalah TKW. "Mereka sangat luar biasa dan sungguh diberkati, "kata Pastor Jeanet yang kreatif mendampingi para TKW.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Bagi Like,  Feyke dan Theresia,  peran Pastor Jeanet sangatlah penting sebab bisa menjadi teman sekaligus orang tua mereka.  "Pelayanan pastor sangat down to earth,  mendampingi jemaat seperti kami dengan apa adanya, "kata mereka.  Hongkong. Dari jumlah tersebut umumnya berhasil dan giat membantu keluarga mereka di Indonesia. Mereka adalah pahlawan bagi keluarga dan negara mereka. Teruslah berjuang Like,  Feyke,  Theresia,  dan yang lainnya, apalagi semakin cinta Hongkong.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.