Cerita Pengusaha RI Bawa Produk Ikan Tembus Pasar Korea Selatan hingga AS



        Pasar produksi ikan asal Indonesia makin terkenal tak hanya di Asia, tetapi juga Amerika Serikat (AS). Salah satu produksi ikan dari Indonesia  yang merambah pasar AS yaitu produksi ikan kayu.



Produksi ikan tersebut dihasilkan oleh PT Etmieco Sarana Laut (ESL). Perusahaan berkantor pusat di Bitung, Sulawesi Utara ini didirikan oleh Etty Rompis pada 13 September 2000.  Membangun bisnis di sektor perikanan bukan hal baru bagi Etty. Ibu dengan dua anak ini juga pernah membangun bisnis sektor perikanan sejak Mei 1990.



Etty pun berjuang keras untuk membangun perusahaan sektor perikanan sendirian. Ia bertekad untuk sukses membangun usahanya tersebut bahkan hingga taruhan nyawa.

"Saya harus sukses. Ini benar-benar berjuang bangun Etmieco hingga taruhan nyawa,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (18/11/2018).

Perempuan kelahiran 1962 ini menilai, sektor perikanan di Indonesia punya potensi besar sehingga membuat dirinya tekun menekuninya. Hal ini lantaran Indonesia dianugerahi kekayaan luar luar biasa.

“Bisnis berkaitan dengan laut sudah biasa. Sektor perikanan dan laut Indonesia itu terkaya di dunia,” ujar Etty .

Sebelum mendirikan ESL, Etty membangun Etmieco Makmur Abadi (EMA), perusahaan fokus untuk produk frozen. Kini dia menjalankan dua perusahaan bersama dua anaknya. Adapun Etmieco Sarana Laut yang produksi ikan kayu dan EMA fokus produk frozen.

Etty menceritakan, ketika mendirikan usaha di sektor perikanan tersebut, ia hanya memiliki tiga kapal dan storage berkapasitas 250 ton. Hingga bisnisnya pun berkembang. Apalagi ketika akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk bekerjasama dengan perusahaan pengolahan ikan Jepang Yamaki Co Ltd.  

Lewat temannya Yoseph, Etty mengenal Yamaki Co Ltd. Hingga akhirnya ia bekerjasama dengan Yamaki Co Ltd pada Desember 2015. Ia pun kini memiliki sekitar 300-400 karyawan. Belum lagi mitra nelayan yang memasok ikan kepada perseroan.

"Etmieco Sarana Laut masuk perusahaan penanaman modal asing (PMA) dengan masuknya Yamaki Co Ltd, dan porsinya tidak besar," kata Etty.

Masuknya Yamaki Co Ltd juga menjadi kebanggaan bagi Etty. Hal ini mengingat bekerjasama dengan perusahaan Jepang sangat sulit terutama menembus pasarnya.  Agar produk ESL diterima oleh perusahaan Jepang tersebut, ia harus bolak balik untuk memasok ikan dari Indonesia tersebut kepada perusahaan pengolahan ikan terbesar di Jepang tersebut. Yamaki Co Ltd ini ada di enam negara antara lain Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Indonesia.

"Butuh waktu 6-7 tahun. Saya datang kemudian disuruh ubah. Kemudian datang,ubah, dibimbing. Pelan-pelan uji coba. Butuh 6-7 tahun,” ujar Etty.

Usai mendapatkan kepercayaan tersebut, produk ESL pun menembus pasar Jepang. Etty menuturkan, produknya pun sudah ada yang dipasarkan di 7 Eleven di Jepang. Tak hanya di Jepang, hasil produk ESL juga dipasarkan di Korea Selatan. Sekitar 13,5-15 ton produksi ikan dari ESL pun diekspor.

 "Selain itu ekspor ke  Amerika Serikat sejak Juni 2018. Sebelumnya belum pernah di AS. Ini juga jadi kebanggaan karena bisa membawa nama Indonesia dengan ekspor produk ikan kayu. Tahun depan Yamaki bangun pabrik di Amerika Serikat, dan on process,” ujar Etty.

Berani Hadapi Tantangan dan Kendala
Etty menuturkan, dalam menjalankan bisnisnya tidak ada kata kendala dan tantangan. Menurut dia, kendala dan tantangan itu jangan membuat seseorang menjadi menyerah ketika menjalani bisnis. Akan tetapi, seseorang tersebut harus semangat dan maju menjalankan usahanya.

"Tidak ada kendala dan tantangan. Sebagai pemimpin ketika ada kendala harus bilang tidak ada. Ada kendala harusnya lebih bagus. Harus semangat, tegar dan maju," ujar dia.

Ketika ada keluhan lesunya industri karena kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang melarang praktik transshipment atau bongkar muat ikan di tengah laut dan moratorium, Etty menyebutkan hal itu bukan jadi halangan. Kebijakan Kementerian Kelautan itu menurut Etty juga untuk menjaga laut Indonesia .

"Moratorium itu hanya untuk kapal asing. Kalaun transshipment tetap menjaga laut ini kaya. Selain itu memberikan kesadaran bagi pengusaha. Saya salut dengan bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) yang di serang sana sini tetapi dia tetap tegar," ujar dia.

Ia menambahkan, ada kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini juga mendorong produksi ikan melimpah. Bahkan menurut dia, nelayan lebih mudah mendapatkan ikan sekarang ketimbang dahulu.”Bukan berkurang sekarang berlimpah (ikan-red),” tutur dia.

Meski demikian, ia mengharapkan pemerintah dapat memberikan bantuan kepada pengusaha perikanan. Hal itu mengingat sejumlah pengusaha juga butuh modal untuk mengembangkan usahanya.


Sumber : Liputan 6

No comments

Powered by Blogger.