Diplomasi Kandang Kambing Bebaskan TKI dari Eksekusi Mati

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Setiap kali terjadi eksekusi mati terhadap tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi, sebagian publik kerap mencemooh dan menuding duta besar dan para diplomat tak cakap menunaikan tugas dan fungsinya. Padahal sejumlah kasus menunjukkan mereka kerap kali menjalankan diplomasi formal maupun yang tak formal.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Duta Besar RI untuk Arab Saudi dan Wakil Tetap RI di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Agus Maftuh Abegebriel mengungkapkan pada 2017 pernah melakukan negosiasi di sekitar kandang kambing dengan seorang kepala suku di sebuah kota yang berjarak 300 km dari Riyadh.

Kepada si kepala suku, Agus mengungkapkan riwayat hubungan Indonesia dan Arab Saudi yang sudah berlangsung ratusan tahun sebelum kedua negara terbentuk. Ia menyebut Nawawi al-Bantani sebagai leluhur orang Indonesia. Al-Bantani adalah ahli hadis dan Alquran yang menjadi guru besar di Masjidil Haram.

Selain itu, Raja Salman yang sangat dihormati juga pernah berkunjung ke Indonesia dan melakukan liburan selama berhari-hari bersama keluarga besarnya. Karena itu, alangkah baiknya bila hubungan yang mesra ini tidak ternoda oleh adanya qisas.

"Alhamdulillah, setelah menyampaikan semua itu dalam bentuk syair-syair dan saya memohonkan maaf atas nama si terpidana, si kepala suku mengabulkan permohonan maaf," kata Agus Maftuh dalam Blak-blakan, yang ditayangkan detikcom, Selasa (6/11/2018).

Negosiasi untuk membebaskan seorang TKI asal Kalimantan Barat dari eksekusi mati itu kemudian dikenal sebagai diplomasi kandang kambing. "Iya, karena kami berbincang di sekitar kandang kambing hingga pukul satu dini hari," kata Agus, yang pernah selama 27 tahun menjadi akademisi di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Pada bagian lain, penulis buku 'Negara Tuhan' itu juga mengungkapkan tidak semua pemaafan diiringi dengan pembayaran kompensasi (diyat). Agus antara lain menyebut kasus Masamah sebagai contoh. Tenaga kerja wanita asal Desa Buntet, Cirebon, itu ditahan sejak 2009. Ia dituduh membunuh bayi (11 bulan) anak majikannya, sehingga dituntut mati.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Tapi nenek korban kemudian meminta agar orang tua si bayi memaafkannya karena Masamah sejatinya dikenal sebagai orang yang baik. Dia akhirnya bebas pada 13 Maret 2017. "Itu clear dan clean dari ahli waris majikannya memberikan pemaafan. Ahli waris mengatakan semata-mata ingin mencari rido Allah SWT," kata Agus.

Sumber:detikcom

No comments

Powered by Blogger.