Remaja 19 Tahun Ini Kantongi Puluhan Juta dari Main Game



    Perkembangan industri game di Indonesia sudah berkembang pesat. Terbukti saat ini Indonesia memiliki turnamen elektronik sport (e-sport) yaitu Indonesia E-Sports Premier League (IESPL) yang berisi tim profesional pemain game.



Layaknya olimpiade olahraga, turnamen e-sport juga berisi atlet-atlet muda profesional yang serius menggeluti dunia game. Tidak hanya itu, jika para atlet olah raga yang berprestasi dibayar mahal setiap bulan untuk menghadapi pertandingan, para atlet dalam turnamen kejuaraan game juga dibayar puluhan juta untuk bersiap tanding dalam tournamen liga game. 



Bayaran per bulan yang bisa didapatkan atlet game per bulannya yaitu bisa mencapai Rp 20-40 juta. Seperti atlet e-sport dari Rex Regum Qeon (RRQ) Divisi Game Mobile Legend William Setiawan ini sudah menjadi atlet game profesional meski usianya baru 19 tahun. Bayaran per bulan yang ia dapat dari timnya berkisar antara Rp 20- 50 juta. 

"Iya bisa segitu (Rp 20-50 juta)," kata dia kepada detikFinance, Jumat (23/11/2018). 

Tidak hanya itu, pendapatan lain dari endors review game di YouTube chanelnya juga ramai pengunjung. Pendapatan yang bisa ia dapatkan dari sana sini pendapatan Liam bisa lebih dari Rp 50 juta. 

Lelaki asli Jakarta ini menceritakan perjalanan kariernya dari seorang pelajar yang hobi main game sampai bisa bermain di liga profesional. Liam biasa ia dipanggil menyukai game sejak masih di taman kanak-kanak. 

Liam bercerita , orangtuanya tidak menyukai hobi anaknya yang sering menghabiskan waktu di tempat PS dibandingkan di rumah. Namun, karena hobi Liam beberapa kali sembunyi sembunyi untuk main di tempat PS. 

Sampai masuk SD, Liam mulai pindah tempat nongkrong. Tempat yang dulunya sering datangi yaitu tempat PS beralih ke Warnet.

Ia mengatakan, sempat kesulitan untuk bisa bermain game karena harus membayar sewa di warnet. Liam bercerita, dulu ia diberi uang saku Rp 5000/hari. Namun, hampir semua uang jajannya digunakan untuk bermain game di warnet.

"Dari uang jajan itu nyisihin-nyisihin aja. Kalo misalnya uang jajan nyisihin buat main. Kalau dulu main itu Rp 2.000/sejam. Dulu saya dikasih uang jajan Rp 5.000/hari," jelas dia.

Liam mengaku, meski sudah sering curi-curi waktu untuk bermain game di warnet namun Liam mengaku tetap pergi ke sekolah. Ia mengatakan orangtuanya termasuk yang selalu mengingatkan Liam untuk tidak lupa untuk belajar dan sekolah.

Liam bercerita sambil mengingat kembali masa-masa dimana ia dilarang bermain game. Liam masih ingat omelan orangtuanya ketika melarangnya untuk lama-lama bermain game. Sambil bercerita Liam menirukan nada omelan orangtuanya. 

"Kata mereka, mau jadi apa main game terus. Nggak kerja, gak ada penghasilan gak ada apa-apa. Jadi sejak jadi master dan gamer profesional RRQ itu, aku udah bilang ke orang tua, kalau aku mau sukes dan mau buktiin itu di game. Orang orang bilang, game itu gak bisa hasilin duit tapi aku buktiin," kata dia.

Meski memiliki hobi seru yang dibayar mahal, Liam mengaku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi gamer profesional. Ia mengaku dulu bercita cita menjadi pilot

Liam mengaku akan fokus menjadi profesional gamers. Ia mengaku tidak akan melanjutkan kuliah untuk saat ini. Ia akan fokus untuk mempersiapkan turnamen di liga-liga game yang lebih besar. 

"Mungkin kepikiran, orang-orang yang udah dapat gelar dan lulus kuliah itu sendiri pun masih nganggur. Jadi nggak kepikiran, takutnya udah ngabisin waktu selama kuliah, nggak dapat apa apa, cuma dapat gelar. Kerjaanya ya biasa aja. Penghasilan nggak seberapa, cukup untuk bayar kos dan apapun pasti gak bisa buat nabung," jelas Liam.

Dengan pencapaiannya saat ini Liam mengatakan berhasil membuktikan pada orangtuanya untuk bisa sukses di Liga Game.


Sumber : detik

No comments

Powered by Blogger.