Rindu Istri, WNA Tenggak Tiner

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Ini kisah tentang Miah Helal. Warga Bangladesh yang beristri orang dari Desa Pehwetan, Papar, Kabupaten Kediri. Kini, Helal memang sudah berada di negaranya. Namun, lelaki itu mengaku tetap memendam hasrat kembali ke Indonesia. Berkumpul lagi dengan anak dan istrinya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Nah, soal rindu pada anak-istri itu, sempat memunculkan cerita yang nyaris berakhir tragis. Saat berada di tahanan imigrasi Helal frustasi. Sampai-sampai, cairan tiner pun dia tenggak. Untungnya tak sampai berujung maut.

“Saya penat hati. Mau mati saja rasanya. Saya minum itu air tiner,” cerita Helal pada Jawa Pos Radar Kediri via sambungan telepon.

Ayah dua anak ini mengaku rindu pada anak dan istrinya. Sayangnya, selama di tahanan Kantor Imigrasi Kelas III Kediri kerinduannya itu terobati. Istrinya, Linda, tengah berada di Singapura bekerja sebagai TKW. Sedangkan kedua anaknya berada bersama mertuanya di Pehwetan. Karena kesibukannya, mertua Helal tak pernah mengajak dua bocah itu mengunjungi lelaki yang tertangkap imigrasi 7 Agustus itu.

Saat bersamaan, pikirannya juga kacau karena butuh uang untuk kembali ke Bangladesh. Karena putus asa itulah dia mengaku menenggak tiner yang dia temukan di dekat kamar tahanan.

“Saya merasa sendiri. Tak ada teman. Tak ada duit. Tak punya tujuan,” akunya dalam bahasa berdialek Melayu.

Aksi Helal menenggak tiner itu dibenarkan Ade Yanuar Iqbal, kepala Sub Seksi Informasi Sarana Komunikasi dan Pengawasan Penindakan Keimigrasian (Insarkom dan Wasdakim). “Tiba-tiba seusai salat Maghrib dia minum tiner. Kami tidak tahu ia dapat dari mana,” cerita Iqbal.

Dugaannya, tiner itu diletakkan oleh tukang cat secara sembarangan. Yang pasti, usai mendapati Helal meneguk tiner, pihak imigrasi segera membawanya ke RS Aura Syifa. Dan sempat rawat inap selama tiga hari.  Sebelum akhirnya dipindah ke Kantor Imigrasi Kelas I Surabaya.

“Kami tanya alasannya, katanya frustasi karena ingin bertemu anak dan istri serta tak punya uang,” urai Iqbal.

Sebenarnya, menurut Iqbal, Helal berperilaku baik selama ditahan imigrasi. Selain rajin beribadah juga mudah bersosialisasi. Bahkan ikut membersihkan masjid di kantor imigrasi. Sering pula dia menjadi muazin. Terutama saat salat Ashar dan Maghrib.

Akhirnya, orang-orang imigrasi iba juga melihat nasib Helal. Mereka berinisiatif urunan untuk mendanai kepulangan Helal ke Bangladesh. “Tiba-tiba ada kotak keliling untuk biaya pemulangan Helal,” terangnya.

Memang, dari imigrasi tak ada dana khusus untuk pemulangan WNA yang overstay. Sedangkan Kedutaan Bangladesh juga tak memberikan biaya kepulangan. Dari urunan itu terkumpul Rp 2,7 juta. Uang itupun bisa digunakan Helal untuk pulang setelah dideportasi.

Bagaimana bila Helal kembali ke Indonesia lagi? Menurut Iqbal, hal itu tak masalah. Sepanjang dia memiliki surat-surat resmi. Serta batasannya adalah dua tahun setelah waktu deportasinya. “Dan tidak sampai overstay,” ucapnya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Soal kembali ke Indonesia, Helal mengaku sangat ingin. Karena itu dia berusaha mengumpulkan uang. Saat ini dia mengaku bekerja sebagai sopir kereta lori. Dalam sehari dia mengatakan mendapat hasil Rp 200 ribu dari pekerjaannya itu. “Saya tak kan lupa kebaikan imigrasi dan kawan-kawan. Saya ingin kembali ke Indonesia setelah urus surat nikah,” paparnya. 

Sumber:jawapos

No comments

Powered by Blogger.