Sebuah Keluarga di Sudan Rela Melelang Anak Perawannya di Media Sosial hanya Demi Harta



     Setiap orangtua tentu ingin melihat anaknya bahagia dan mendapatkan hidup yang terbaik. Berbagai cara mereka lakukan agar bisa mencapai cita-citanya tersebut. Namun, tidak semua keluarga memiliki keinginan yang sama untuk membahagiakan anaknya.



Sebuah keluarga “sakit” kabarnya rela menjual anak perawan mereka yang berusia 17 tahun di media sosial Facebook kepada penawar tertinggi untuk ditukar dengan 500 sapi, tiga buah mobil dan sejumlah yang di pasar budak.



Setelah dilelang oleh keluarganya, gadis muda malang tersebut menikah dengan seorang pebisnis bernama Kok Alat pada 9 November 2018. Pernikahan tersebut setelah terjadi perang penawaran terjadi di Sudan Selatan.

Salah satu penawar adalah David Mayom Riak, Wakil Gubernur Negara Bagian Danau Timur, dan dia telah menawarkan 250 sapi sebagai mahar.

“Saya sangat mengenal keluarga karena kami tetangga. Saya berjanji pada keluarga untuk menikahinya sejak dia masih muda,” tutur David, sebagaimana dilansir The Sun, Kamis (15/11/2018).

Meski demikian, alat dinyatakan keluar sebagai pemenang pada 3 Agustus 2018 setelah ayah remaja itu menerima 500 sapi, tiga mobil V8, dan sejumlah uang.

Dalam sebuah foto dari hari pernikahan gadis itu, ia duduk di sebelah suaminya, yang dilaporkan sudah memiliki sembilan istri, dengan pakaian putih yang menghadap ke depan dengan ekspresi kosong dan tanpa emosi.

Foto lain dari dugaan lelang menunjukkan seorang gadis tanpa ekspresi berdiri di samping seorang pria yang tersenyum.

“Kompetisi diperbolehkan secara sempurna dalam budaya Dinka / Jieng. Anak-anak pemenang dijamin untuk slot NBA,” tulis salah satu postingan.

Meski demikian, postingan tersebut sekarang telah dihapus dan anggota keluarga kini telah dilarang aktif dari Facebook setelah sempat mencuri perhatian.

“Setiap bentuk perdagangan manusia apakah posting, halaman, iklan atau grup yang mengkoordinasi aktivitas ini tidak diperbolehkan di Facebook,” tutur salah satu juru bicara Facebook.

George Otim, Direktur Pedesaan Plan International South Sudan, mengatakan bahwa penggunaan teknologi secara biadab ini mengingatkan pada pasar budak zaman akhir.

"Bahwa seorang gadis bisa dijual untuk menikah di situs jejaring sosial terbesar di dunia pada saat ini dan ini berada di luar batas keyakinan,” tutur George.

Meskipun mas kawin sudah biasa digunakan, namun dalam perkawinan budaya Sudan Selatan, tidak ada alasan bagi gadis ini diperlakukan tidak lebih dari objek, dijual kepada penawar yang siap menawarkan paling banyak uang dan barang.

Monica Adhiue, dari Aliansi Nasional untuk Pengacara Wanita Sudan Selatan, mengutuk adanya pelelangan

"Praktik ini adalah pelanggaran hak asasi manusia berat dan melanggar hak-hak seorang gadis,” tuturnya.


Sumber :okezone

No comments

Powered by Blogger.