Seonggok Mimpi Nyata Sarjana Pemulung Eceng Gondok

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Saya ini kan sarjana yang menjadi pemulung. Kerjanya tiap hari bareng dengan pemulung," ucap Indra Darmawan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Berciri khas topi pet ala mendiang seniman maestro pak Tino Sidin, Indra setia menemani dua perempuan dewasa yang duduk di lantai sembari menuntaskan tiga tikar pesanan salah satu bupati di Lampung, provinsi paling selatan di Pulau Sumatera. Tikar anyaman berbahan baku tumbuhan air itu diperoleh Indra dari para pemulung di Waduk Saguling dan Sungai Citarum.

"Tikar terbuat dari eceng gondok," kata Indra saat ditemui di tempat usahanya, Kampung Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu siang 3 November 2018

Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini menyulap eceng gondok menjadi kriya unik. Barang buatannya telah menyebar ke tangan para konsumen berdomisili di kota-kota besar Indonesia.

"Ada produk bentuk tas, tempat tisu, hiasan kaligrafi, gazebo, dan lainnya," ujar pria kelahiran Bandung 7 Maret 1972 ini.

Kiprahnya sebagai pengusaha terinspirasi dari buku-buku karya Robert Toru Kiyosaki, penulis sekaligus usahawan. Tuntas kuliah dan meraih gelar sarjana pada 1998, bertepatan era reformasi dan krisis moneter menerpa Indonesia, Indra bergegas pulang kampung.

Lelaki berkacamata tersebut prihatin melihat kondisi ekonomi masyarakat di Kampung Babakan Cianjur. Dia mengamati dua problem klasik di daerah tempat tinggalnya, yaitu kemiskinan serta masifnya pencemaran lingkungan yang menyergap Citarum dan Saguling.

Tekad Indra membara membenahi kesejahteraan ekonomi dan mengedukasi warga demi menyelamatkan lingkungan dengan pola 'simbiosis mutualisme'. Ia merintis bisnis dengan menggerakkan sejumlah pria dari Desa Cihampelas, Cipatik dan Citapen untuk terjun memulung limbah.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tiap hari mereka mencegat limpahan berkubik-kubik sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi yang mencemari sungai terpanjang di Jawa Barat ini agar tak bermuara ke Saguling, danau buatan beroperasi sejak 1985 yang berfungsi memasok listrik Jawa-Bali.

"Kami manfaatkan sampah-sampah yang mengotori Sungai Citarum dan Waduk Saguling," katanya.

Indra dan 'pasukan' berjibaku mengangkut aneka sampah rumah tangga dengan mengerahkan perahu. Puluhan ton sampah jenis plastik yang ia pilah dan sengaja dikumpulkan dalam kurun waktu satu bulan, lalu disuplai ke pengepul bervolume jumbo. Bertahun-tahun dia lakoni rutinitas tersebut.

Transaksi disepakati, pundi-pundi rupiah Indra kantongi. Hasil melego sampah itu dibagikan kepada jaringan binaannya.

Pada 2009, Indra mendirikan koperasi bernama 'Bangkit Bersama' yang menaungi seratusan anggota.

"Semenjak itu bukan hanya daur ulang limbah plastik, kami juga memanfaatkan eceng gondok menjadi barang komersial," tuturnya.

Ia mengajak emak-emak mengolah ragam produk kerajinan tangan. Sedangkan bapak-bapaknya memulung eceng gondok. Di balik jalinan kolaborasi tersebut, rupanya Indra menyelipkan niat mulia untuk menerangi masa depan anak-anak para pemulung.

"Kalau generasi sekarang ini kan orang tuanya jadi perajin, pemulung, dan pengambil sampah, misi saya yaitu kelak anak-anak mereka jadi sarjana. Cukup saya sarjana yang jadi pemulung," kata Indra.

Tak dinyana, bapak tiga anak ini mengarungi kejayaan berkat bisnis sampah dan kriya eceng gondok. Efek domino kental terasa. Banyak tetangganya terpapar jiwa wirausaha. Perekonomian warga setempat menggeliat.

Indra sukses memperkokoh ekosistem manusia-manusia produktif dengan meleburkan aksi kepedulian lingkungan dan praktik wirausaha. Proses tahapan panjang itu mengantarkan Indra mewujudkan seonggok impiannya.

"Berkat usaha kerajinan eceng gondok dan memulung sampah ini dapat menghasilkan hal-hal bermanfaat bagi saya dan warga setempat. Saya dibantu para donatur, telah membangun sekolah alam dan ruang baca," ujarnya.

Pada 2014, ia menggabungkan unit usaha dan pendidikan dalam naungan Bening Saguling Foundation. Aktivitas tersebut berlangsung di lahan seluas setengah hektare.

Dia bertutur, "sekolah alam ini mendidik anak-anak sejak usia dini agar produktif. Bukan menjadi orang konsumtif. Anak-anak belajar menanam padi, tanaman sayur, dan lainnya. Jadi mereka tak cuma menikmati atau konsumtif saja, tapi mengetahui bagaimana memproduksi atau menghasilkan sesuatu yang bermanfaat."

Sekolah alam bernama Tunas Inspiratif dikelolanya sejak 2016. Indra dan istrinya, Tati Mulyati, melibatkan sejumlah tenaga pendidik. Tercatat pada 2018 ini ada 42 anak usia TK gabung Tunas Inspiratif.

"Mayoritas anak-anak itu orang tuanya pemulung. Mereka sekolahnya Senin hingga Jumat. Khusus untuk anak yatim, kami kasih uang jajan tiap harinya," ucap Indra semringah.

Selain gratis, sekolah tersebut menerapkan iuran sampah kepada peserta didik. Tujuannya agar sang anak sejak usia dini terbiasa mengenal pengolahan dan pemilahan sampah.

"Mimpi saya, perubahan itu dari pendidikan. Pembentukan karakter juga penting. Tiap hari anak-anak menyiram sayuran, menebar benih tanaman, yang kemudian saat panen nanti dijual, hasilnya untuk mereka. Selain itu, setiap Kamis anak-anak bawa sampah, lalu kami sortir dan olah. Jadi, kami edukasi anak dan orang tuanya terbiasa mengolah sampah," tuturnya.

Area Bening Saguling Foundation dibalut nuansa alam yang bangunannya didominasi bambu. Lokasi ini dimanfaatkan kalangan milenial menjadi ruang publik untuk beinteraksi dan bersosialisasi. Anak usia SD hingga SMA saban sore berkumpul untuk bermain angklung, membaca buku, mengerjakan tugas dan kegiatan postitif lainnya.

"Saya berpikir ke depannya harus ada perubahan generasi. Para remaja di kampung ini kami upgrade. Di sini ada buku-buku bacaan, dilengkapi juga fasilitas free Wi-Fi," ucap Indra menegaskan.

Sosok aktivis lingkungan yang inspiratif ini membetot perhatian pemerintah dan pihak swasta. Seabreg penghargaan tingkat regional serta nasional diraih Indra atas pengabdiannya menjaga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat dari Gubernur Jabar pada 2016 disematkan kepada Indra. Lalu, pada 2017, mendapatkan penghargaan dari Bupati Bandung Barat. Juga piagam penghargaan dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi kategori Posyantek Berprestasi Tingkat Nasional pada 2016. Selain itu, pada 2013 dan 2015, Indra dinobatkan sebagai pahlawan untuk Indonesia kategori Pelestari Lingkungan versi salah satu media massa nasional.

Dia bangga sekaligus termotivasi atas penghargaan tersebut. Indra berujar, "semakin tertantang untuk terus berkarya dan berguna bagi masyarakat. Saya ingin terus melakukan yang terbaik bagi masyarakat. Ending-nya ialah masyarakat mandiri, lingkungan lestari."

Kriya Eceng Gondok Berkonsep Zero Waste

Indra gencar menggaet calon pembeli kerajinan tangan eceng gondok melalui toko online. Sarana media sosial (medsos) Instagram akun@saung_eceng telah dia fungsikan sebagai 'etalase' produk-produk asli buatan tangan manusia. Ia juga menerapkan sistem jualan langsung di tempat dan berpromosi selagi even pameran.

"Dampak perkembangan e-commerce saat ini membuat saya tertantang untuk berinovasi soal desain produk dan meningkatkan kualitas kriya eceng gondok. Saya merasa sangat terbantu sekali, banyak konsumen yang mengenal dan memesan produk lewat online," Indra menuturkan.

Ia mengumpulkan satu ton eceng gondong keadaan basah per minggu dari para pemulung. Satu kilogramnya dibanderol Rp 800.

Selanjutnya tumpukan eceng gondok dikeringkan dan diracik oleh tangan pekerja. "Bagian batang eceng gondong diolah menjadi tas, tempat tisu, keranjang, saung, dan lainnya. Kami autodidak mendesain produknya," ucap Indra yang membina empat pemulung dan delapan perajin.

Kerajinan tangan berupa tas harganya Rp 150-250 ribu, hiasan kaligrafi Rp 150 ribu, tempat tisu Rp 40-60 ribu, tikar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per unit, partisi Rp 1,7 juta, dan saung atau gazebo Rp 3,5 juta - Rp 5 juta per unit.

"Omzet per bulan dari penjualan kerajinan tangan eceng gondok mencapai 15 juta rupiah," kata Indra.

Pengolahan eceng gondok oleh Indra dan binaannya tak sekadar produk saja. Akar eceng gondok dapat dijadikan media tanam, limbahnya dibikin papan serta briket untuk bahan bakar.

"Jadi tak ada sampah eceng gondok yang terbuang. Konsepnya zero waste atau nol sampah," ucapnya.

Dia tidak khawatir kehabisan bahan baku. Menurutnya, keberadaan eceng gondok di Saguling melimpah lantaran cepat berkembang biak. Indra menyebut para pemulung berperan menanggulangi eceng gondok, sebab dibiarkan liar dapat memicu sedimentasi.

"Eceng gondok itu dicabut pemulung menggunakan arit. Tapi tidak semuanya eceng gondok kami habisi. Biar enggak meluas, kami ambil. Perlu diketahui, eceng gondok juga berfungsi penyaring logam," ujar Indra.

Bisnis kerajinan eceng gondok yang digelutinya telah ditopang dengan penyelenggara logistik. Indra memercayakan pengantaran produknya ke tangan konsumen melalui PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Kehadiran JNE memudahkan serta mendekatkan konsumennya dari sejumlah daerah yang tersebar di pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Bali. Sejak 2016, Indra memantapkan diri sebagai pelanggan setia perusahaan ekspedisi yang didirikan anak bangsa itu.

Sebelumnya, Indra mengaku harus kerja keras memasarkan barang jualannya dengan mengandalkan relasi dan mengikuti pameran. Namun seiring canggihnya perkembangan teknologi, mau tak mau mesti menjaring pembeli lewat dunia maya.

"JNE Express di Bandung Barat ada banyak. Sangat membantu UKM seperti yang saya jalani. Sejak jualan via online, otomatis produksi bertambah. Konsumen banyak dari luar Jawa Barat, di antaranya Bali, Lampung, Bangka dan daerah di Kalimantan," ucapnya.

Ia selalu mengarahkan pembeli menggunakan jasa kurir JNE. Banyak juga konsumennya, selagi transaksi, menginginkan pengiriman barang diurus JNE sesuai paket yang tersedia.

"JNE itu cepat pengirimannya," katanya.

"Nah, konsumen juga malah meminta pakai JNE. Kebiasaan saya, sebelum kirim pesanan, berkomunikasi dengan konsumen soal berat barang, pengemasan dan paket pengiriman yang diinginkan. Saya foto dulu, lalu kirim buktinya via WhatsApp ke konsumen. Setelah itu konsumen transfer uang," Indra menambahkan.

Penjualan kerajinan eceng gondok melonjak drastis setelah membuka toko online. Pesanan silih berganti berdatangan. Ke depannya, Indra berencana mengajak tetangganya yang lain untuk bekerja mengemas produk pesanan pembeli.

"Tiap bulannya saya kirim 20 hingga 30 barang ke konsumen di berbagai daerah di Indonsia. Pakai JNE. Alhamdulillah enggak ada komplain," kata Indra menegaskan.

Kabupaten Bandung Barat menaungi 16 kecamatan dan 165 kelurahan. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bandung Barat Ade Wahidin mengatakan pegiat UMKM tersebar di sleuruh kecamatan.

"Data statistik ada 30 ribu UMKM. Kalau yang sudah terdaftar sekitar 10 ribu UMKM," kata Ade via telepon.

Menurut Ade, pertumbuhan perekonomian lokal di Bandung Barat menjadi atensi pihaknya. Proses pembinaan terus digulirkan dengan menggelar pelatihan dan pemahaman soal pemasaran.

"UMKM ini beragam jenis, ada bidang fesyen, kuliner, jasa dan lainnya. Pertumbuhannya bagus," ucap Ade.

Dia mengakui jasa kurir berkontribusi positif bagi pelaku UKM di Bandung Barat. Bahkan, sambung Ade, para pengusaha tersebut telah menguasai pemasaran via online. "Mereka sudah paham soal perkembangan teknologi bisnis online dan rutin jasa kurir untuk pengiriman barang yang dipesan konsumen. Jasa kurir sangat membantu UMKM," tutur Ade.

JNE berkomitmen mendukung geliat perekonomian lokal di pedesaan, sebagaimana dilakoni Indra di Kabupaten Bandung Barat. Sebab, JNE menilai produsen ekonomi tradisional merupakan bagian dari ekosistem e-commerce. "JNE semaksimal mungkin dapat menjalankan program-program kolaborasi dengan para UKM atau IKM di pedesaan sebagai produsen ekonomi tradisional," kata Branch Manager JNE Bandung Iyus Rustandi kepada detikcom.

Dia mengungkapkan produk UKM di Bandung Raya yang menjadi primadona masih didominasi jenis fesyen, pakaian, makanan dan elektronik. Saat ini, Iyus menambahkan, kiriman yang mendominasi yaitu pelaku industri kreatif yang berjualan online (retail), persentasenya sebesar 80 persen dibandingkan pengiriman berupa dokumen sebesar 20 persen.

"Bandung Barat merupakan cabang di bawah Kota Bandung. Kota Bandung merupakan kota kedua setelah Jakarta yang memiliki jumlah kiriman terbanyak," ucapnya.

Edukasi terhadap pelaku UKM terus digelorakan perusahaan peraih penghargaan bergengsi Brand Asia 2018 untuk kategori Silver Champion Transportation & Logistic, dan Top 10 Strongest Brand in Indonesia. JNE pun merapatkan barisan dengan berbagai pihak, antara lain online marketplace, pemerintah, komunitas dan pihak lainnya, untuk menjalankan program atau kegiatan yang medorong perkembangan UKM di pedesaan. Strategi tersebut, menurut Iyus, dapat membentuk kualitas sumber daya manusia (SDM) dan berguna bagi pegiat UKM dalam memaksimalkan berjualan sistem online.

"JNE Bandung mengusung kegiatan rutin 'Be Creative, Be Competitive'. Acaranya berupa seminar pelatihan bidang marketing online, packaging, dan sebagainya. Tentunya diselenggarakan gratis," Iyus menjelaskan.

Selain itu, JNE merangkul pelaku UKM perorangan dengan cara bertatap muka langsung. Pertemuan digelar untuk memberikan solusi dan saran agar kebutuhan UKM terkait pendistribusian produk ke tujuan daerah mana pun terpenuhi. Sehingga, Iyus menuturkan, pelaku UKM memahami tantangan yang dihadapi saat mengirimkan produk kepada para kosumen.

Menurut Iyus, kini JNE Bandung memiliki lebih dari 250 sales counter atau titik layanan yang tersebar di Kota Bandung, Cimareme (Kabupaten Bandung Barat), Soreang, Rancaekek (Kabupaten Bandung), Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut. Dalam perluasan jaringan, JNE membuka peluang kerja sama kemitraan, sehingga masyarakat di pedesaan dapat menjadi titik layanan.

"Dengan menjadi titik layanan atau agen JNE, mereka telah ikut serta mendukung kemajuan UKM atau IKM setempat, karena aktivitas pengiriman paket menjadi mudah dilakukan dengan titik layanan JNE yang terjangkau," tutur Iyus.

Khusus pegiat UKM, dia menjelaskan, JNE memiliki program bernama Pesanan Oleh-Oleh Nusantara (Pesona). Program tersebut didirikan sebagai wadah bagi para UKM untuk mengembangkan usaha serta perluasan pangsa pasar di dalam dan luar negeri. Cara itu bertujuan agar produk khas asal berbagai daerah dikenal dan dipesan masyarakat di seluruh nusantara.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Lebih 800 produsen dengan ribuan varian di seluruh Indonesia dapat memasarkan produknya secara online melalui Pesona. JNE secara aktif mendukung dan terus mengembangkan kapabilitas dan kolaborasi dengan seluruh pihak untuk mendukung ekosistem e-commerce secara keseluruhan," ujarnya.

"Seluruh langkah yang dijalankan selama ini, dilandasi dengan prinsip dan semangat tagline JNE yaitu 'connecting happiness', yang bermakna menghantarkan kebahagiaan," pungkas Iyus.

Sumber:detikfinace

No comments

Powered by Blogger.