Tak Tahan Melihat Derita Sang Anak, Nyonya Suryati: Apapun Resikonya Shinta Harus Pulang

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Jalan panjang rupanya masih harus ditempuh Shinta Danuar, TKW asal Banyumas yang menderita kelumpuhan di Taiwan. Meski sudah terbaring lumpuh selama empat tahun, keinginan keluarga agar Shinta bisa segera kembali ke tanah air ternyata tak bisa serta merta dipenuhi.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Bahkan, untuk bisa pulang ke Indonesia, sang ibu, nyonya Suryati, harus lebih dulu menandatangani surat perjanjian dengan dokter yang akan mendampingi Shinta selama perjalanan dari Taiwan ke Indonesia.

Rabu (21/11/2018) kemarin, Shinta dan ibunya diminta dokter yang akan mendampingi Shinta untuk menandatangani surat perjanjian, ujar relawan Rumah Aspirasi, Icko Rahma yang  mendampingi nyonya Suryati selama di Taiwan.

Isi surat perjanjian itu, tambah Rahma, adalah pernyataan bahwa keluarga Shinta tidak akan menuntut dokter dan maskapai yang membawanya pulang ke Indonesia jika dalam perjalanan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Shinta.

Saat disinggung tentang surat perjanjian yang harus ditandatanganinya itu, nyonya Suryati yang sejak beberapa hari lalu berada di Taiwan, mengaku tidak sama sekali keberatan. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali tetap akan membawa Shinta pulang ke Indonesia, katanya.

Menurut nyonya Suryati, tekadnya untuk membawa Shinta pulang ke kampung halaman karena melihat kondisi putrinya yang semakin memburuk.
Maret lalu saat saya bersama cucu saya (anak Shinta) datang menjenguk ke sini, kondisi Shinta masih cukup baik.

Tubuhnya masih berisi dan rambutnya masih panjang. Tapi kini kondisinya semakin buruk. Tubuh Shinta semakin kurus dan lemah. Rambutnya juga semakin habis dengan sejumlah borok di kepala, katanya.

Karena itulah, kata nyonya Suryati, tak ada pilihan lain baginya kecuali tetap akan membawa pulang putrinya itu ke Indonesia. "Saya tidak mengatakan selama di Taiwan anak saya tidak dirawat dengan baik. Tapi kalau melihat kondisinya saat ini, saya yakin perawatan dengan pendampingan dari keluarga jauh lebih efektif bagi kesembuhan anak saya," katanya.

Terkait resiko yang bakal dihadapi Shinta sebagaimana dinyatakan Siswandi, Wakil Kepala Kamar Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan, nyonya Suryati mengaku siap menerima apapun resiko yang bakal mereka hadapi kelak.

"Bagi kami sekarang, yang penting Shinta harus pulang. Apapun resiko yang harus kami hadapi," ujar nyonya Suryati.

Hal senada dikatakan Icko Rahma. Relawan Rumah Aspirasi yang terus mendampingi ibu Suryati ini mengatakan, sejak kedatangan sang ibu wajah Shinta menjadi berseri-seri dan nampak lebih segar.

Karena itulah, kata Rahma, ketika Titiek Soeharto berpesan padanya agar jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa membawa Shinta bersama ibunya kembali ke tanah air, rasa kemanusiaannya langsung bergolak.

 "Saya berjanji akan terus berada di Taiwan bersama nyonya Suryati sampai Shinta benar-benar bisa dibawa pulang ke Indonesia" katanya.

Disinggung pernyataan Siswandi, yang menyebut tidak benar pemerintah mengulur-ulur kepulangan Shinta ke Indonesia, menurut Rahma hal itu adalah fakta. Bayangkan, sudah empat tahun Shinta itu mengalami sakit dan lumpuh. "Kenapa tidak sejak dari awal dipulangkan? Selama empat tahun ini kemana saja para pejabat yang mengurusi tenaga kerja migran tersebut? Ingat lho, Shinta itu TKW resmi. Bukan tenaga kerja yang datang ke Taiwan secara illegal," ujarnya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Ironisnya, tambah Rahma, kemarin saat bu Titiek Soeharto datang, Nusron Wahid selaku kepala BNP2TKI malah berkampanye di Taiwan dan joget-joget sambil nyawer di acara dangdutan. "Sebagai pejabat, benar-benar dia tak punya empati terhadap derita salah satu TKW yang menjadi tanggungjawabnya," ujar Rahma, kesal.

Sumber:harianterbit

No comments

Powered by Blogger.