Waspada Jepitan Saraf pada Leher Anda



      Hampir semua orang pasti pernah mengalami nyeri pada leher, mulai yang ringan sampai yang parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.



Meskipun demikian, banyak dari masyarakat sering mengabaikan rasa nyeri atau tidak nyaman di bagian lehernya. Padahal, saat itu tubuh sedang memberikan tanda bahwa ada yang tidak beres pada tubuh kita. Tidak menutup kemungkinan bahwa rasa nyeri di leher mengindikasikan saraf terjepit. Jepitan saraf leher atau dikenal sebagai cervical disc herniation adalah kondisi di mana isi bantalan tulang leher bocor keluar sehingga menjepit saraf leher. “Jepitan saraf leher umumnya terjadi pada orang berusia 30-50 tahun, tetapi dapat terjadi juga pada usia yang lebih muda maupun lebih tua. Jepitan saraf leher dapat terjadi karena adanya riwayat cedera leher, tetapi sering kali terjadi secara spontan tanpa diketahui penyebab yang jelas,” ujar anggota Sports, Shoulder & Spine Clinic Siloam Hospital Kebon Jeruk, dr Phedy SpOT-K.



Dia menuturkan, keluhan yang terjadi akibat jepitan saraf bergantung pada lokasi jepitan. Bila jepitan terjadi di pinggir, keluhan yang muncul adalah kaku, nyeri leher yang menjalar, kesemutan, atau rasa lemah pada lengan dan tangan. “Bila jepitan terjadi di tengah, keluhan yang muncul berupa kehilangan keseimbangan, kaku saat berjalan, rasa lemah pada tungkai, gangguan buang air besar dan air kecil, bahkan dapat mengakibatkan kelumpuhan secara total. Untuk membuktikan adanya jepitan saraf leher, dapat dilakukan pemeriksaan MRI,” ucap dr Phedy. Menurutnya, penyebab lain cedera pada leher biasanya melakukan gerakan berulang yang salah, seperti orang yang suka membunyikan lehernya.

“Itu adalah gerakan yang berbahaya, apalagi jika dilakukan orang lain, karena akan terjadi beban terhadap bantalan, jika bantalan masih bagus bisa aman, tetapi jika bantalan sudah rusak akan permanen di luar,” ucap dr Phedy. Selain itu, ada istilah di masyarakat awan jika terasa sakit pada lehernya diasumsikan dengan salah bantal. Dr Phedy menjelaskan, istilah salah bantal terjadi ketika bangun leher terasa kaku. “Kaku di leher bisa berbahaya bisa tidak, jika terjadi satu hari lalu hilang, itu tidak berbahaya. Namun, jika kakunya berharihari atau berminggu-minggu, disertai rasa kebas dan mati rasa, itu berbahaya,” ungkapnya.

Dia menyarankan agar selalu menguatkan otot leher karena leher akan selalu menanggung beban dari kepala. “Kita harus menguatkan otot leher dengan olahraga atau stretching , harus kita latih, akan aman selama menggerakkan lehernya tidak secara menyentak dan jangan disertai beban yang berat,” ungkap dr Phedy. Menurutnya, saat ini pengobatan untuk jepitan saraf leher sudah bervariasi, mulai obat-obatan, fisioterapi, hingga operasi, tergantung keparahan jepitan saraf. Pada kasus tertentu, di mana ditemukan kelemahan yang parah, operasi menjadi satusatunya pilihan untuk menyembuhkan jepitan saraf.

“Operasi dilakukan dengan tujuan membebaskan jepitan dengan cara mengambil bantalan yang menekan saraf dengan teknik percutaneos endoscopic cervical discectomy (PECD). Jepitan dapat diambil dengan luka sayatan hanya sebesar 0,5 cm. Luka ini tentunya lebih kecil dibandingkan operasi konvensional yang mencapai 2 cm,” kata dr Phedy. Keunggulan lain dari operasi ini adalah bantalan yang diambil dapat diganti menggunakan tulang atau bantalan sintetik sehingga leher tidak kehilangan fungsi gerak dan dapat menjalankan fungsinya seperti semula.

“Risiko kegagalan operasi untuk jepitan saraf leher cukup rendah. Perdarahan selama operasi pun umumnya kurang dari 50 cc dan lama operasi berkisar 45-90 menit. Selain itu, kelebihan PECD adalah pasien dapat pulang dari rumah sakit dalam beberapa jam setelah operasi,” ujar dr Phedy.

Sumber : okezone

No comments

Powered by Blogger.