Nasib Malang Zaini, TKI yang Dihukum Pancung Arab Saudi

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Di bulan Maret 2018, kasus pemancungan TKI di Arab Saudi mengemuka. Kali ini yang menjadi sorotan adalah nasib Muhammad Zaini Misrin Arsyad alias Slamet (53), TKI asal Bangkalan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Zaini dieksekusi mati pada hari Minggu, 18 Maret 2018. Pria yang bekerja sebagai sopir itu dituduh terlibat dalam pembunuhan majikannya, Abdullah bin Umar Muhammad al-Sindy di Mekkah.

Kabar tentang pemancungan Zaini pun diterima keluarga secara mendadak. Anak pertama Zaini, Saiful Toriq mengaku mendapatkan kabar itu dari adiknya pada hari Minggu (18/3/2018) malam.

"Jam 23.00 semalam adik saya baru cerita ke saya kalau Abah dieksekusi," kata Saiful di rumah duka Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.

Ia sempat menghubungi pihak Kemenlu untuk memastikan kabar ini melalui WhatsApp. "Saya tanya ke Kemlu Jakarta, benar tidak berita ini (eksekusi almarhum) dan dijawab besok (Senin, 19 Maret) akan diberitahu," imbuhnya.

Namun ia akhirnya mendapatkan kabar pasti ketika rumahnya didatangi rombongan dari Kemenlu, BNP2TKI dan Badan Perlindungan WNI, Senin (19/3) pagi.

"Baru pagi tadi saya mendapat keterangan jelas dan resmi dari Badan Perlindungan WNI kalau pemerintah sudah berusaha maksimal dengan melakukan upaya diplomasi ke Pemerintah Arab Saudi dengan berkirim surat hingga menempuh jalur hukum meminta Peninjauan Kembali (PK)," ungkap Saiful.

Anak kedua Zaini, Mustofa Kurniawan mengaku mendapat kabar ayahnya dieksekusi oleh adik almarhum atau bibi yang bersangkutan.

"Saya tidak mendapat telepon langsung dari Kemlu. Tetapi diberitahu oleh bibi yang mendapat telepon. Kabar itu diberitahu seusai salat Isya dan saya baru kasih tahu ke kakak sekitar pukul 23.00 WIB setelah jemput istrinya bekerja," terang Mustofa.

Zaini sendiri ditangkap aparat keamanan setempat pada tahun 2004 atau dua tahun setelah kepulangan terakhirnya ke Indonesia. Sejak itu, Zaini menjalani hari-hari di tahanan. Vonis mati kemudian diketuk hakim pengadilan setempat pada tahun 2008.

Namun menurut Saiful, ayahnya ditekan untuk mengakui pembunuhan tersebut. Keterangan itu didapat saat Saiful berkesempatan menjenguk ayahnya di tahanan Saudi pada tahun 2013.

"Saat itu diberitahu oleh KJRI Jeddah kalau bukan Abah saya pelakunya tetapi anak tiri majikan Abah. Pengakuan abah itu disampaikan ke KJRI dan sudah ada upaya penangguhan tapi nyatanya saat ini tidak ada keadilan," tuturnya.

Saiful pun meyakini hal itu. "Abah dicambuk kepolisian sana agar mengaku dan Abah keceplosan mengaku membunuh," tambahnya.

Alibi Zaini kala itu adalah ia sedang bersama seorang wanita bernama Sumiati yang dinikah siri olehnya di Arab Saudi. "Abah saya sedang bersama Sumiati, warga Sampang, yang dinikahi siri di Arab. Tetapi sampai sekarang tidak tahu keberadaannya," tambahnya.

Pada pertemuan terakhir itu, Saiful juga mengungkapkan bahwa Zaini terlihat sehat. "Abah terlihat sehat dan sekali lagi Abah tidak pernah mengungkapkan kapan akan dieksekusi," tandas Saiful.

Selama proses hukum berlanjut, pemerintah lewat KJRI Jeddah terus mendampingi Zaini dalam sidang banding mulai dari Oktober 2009 sampai 2014.

Keluarga pun akhirnya hanya bisa pasrah karena hukuman mati telah dilaksanakan. Tak hanya itu, jenazah Zaini kemungkinan kecil untuk dibawa pulang karena telah disemen. "Kalau dibawa pulang mustahil, tidak bisa karena sudah dibeton," ungkapnya.

Kalaupun tak bisa dipulangkan, keluarga hanya berharap ada barang-barang milik Zaini yang dapat dikembalikan. Setidaknya barang-barang itu bisa jadi kenang-kenangan keluarga.

"Kalau jenazah tak memungkinkan dibawa ke Indonesia, semoga barang Abah bisa dipulangkan," harap Mustofa.

Pemerintah Indonesia pun memprotes eksekusi pancung terhadap Zaini. Sebab, menurut Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu M Iqbal, eksekusi dilakukan saat Zaini baru mengajukan upaya PK kedua. PK itu dilayangkan pengacara Zaini pada 6 Maret 2018.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Eksekusi mati Zaini juga mengundang protes dari sejumlah kalangan, salah satunya aktivis dari Migrant Care. Mereka juga meminta Pemerintah Arab Saudi berhenti memancung para TKI yang tidak bersalah.

Sumber:detik

No comments

Powered by Blogger.