Pencuri Yoghurt Rp27.000 Ketahuan Lewat Uji DNA Jutaan Rupiah

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Seorang perempuan di Taiwan dihadapkan ke pengadilan dengan dakwaan mencuri yoghurt dari teman sekamarnya, setelah dilakukan pemeriksaan lewat uji DNA.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Menurut stasiun televisi TVBS, tersangka yang tidak disebutkan namanya itu tinggal serumah dengan lima mahasiswi lain yang sedang kuliah di Universitas Kebudayaan Cina.

Bulan lalu, salah seorang teman serumahnya mendapati minuman yoghurt miliknya seharga NT$59 atau sekitar Rp27.000, telah raib padahal ia tak meminumnya.

Ia mendapati botol bekas yoghur itu di tempat sampah, lalu meminta kepada teman-temannya, bahwa siapa pun yang menghabiskan minuman miliknya itu agar mengaku.

Namun karena tak ada seorang pun yang mengaku, ia lantas membawa kemasan minuman itu ke kantor polisi dan meminta mereka untuk melakukan penyelidikan resmi.

Pihak kepolisian menerima aduan tersebut dan menyelidikinya.

Karena botol tersebut terlalu basah untuk mendapatkan sidik jari, pemilik yoghurt meminta petugas untuk melakukan tes DNA pada teman-teman sekamarnya untuk mengahui siapa yang bersalah.

Polisi memerintahkan kelima terduga, termasuk yang melaporkan dugaan pencurian, untuk datang ke kantor polisi untuk menjalani uji forensik.

Dan pelaku pun diketahui. Apakah keadilan sudah dijalankan di sana? Banyak yang menganggapnya sebaliknya.

Masing-masing tes itu menelan biaya senilai NT $3.000 atau Rp1,4 juta dan didanai oleh para pembayar pajak, sehingga banyak warga yang marah mengetahui besarnya biaya dan waktu yang dihabiskan untuk menyelidiki permasalahan tersebut.

Salah seorang warga, Liu, mengatakan kepada surat kabar Apple Daily: "Ini adalah pemborosan sumber daya masyarakat. Jika saya yang menjadi polisinya, saya akan membelikannya sebotol yoghurt untuk mengganti milik dia yang hilang."
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Seorang petugas polisi setempat, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan pada surat kabar tersebut bahwa kasusnya seperti "menggunakan meriam untuk menembak burung - ini benar-benar tidak sesuai dengan prinsip proporsionalitas!"

Sumber:viva

No comments

Powered by Blogger.