Kronologi pembunuhan TKI asal Indramayu di Singapura

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kasus kekerasan dan pembunuhan menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran asal Indonesia. Kali ini korbannya adalah Nurhidayati Wartono Surata (34), perempuan asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Ibu satu anak itu ditemukan meninggal di Hotel Golden Dragon, Geylang, Singapura, pada 30 Desember 2018.

"Hari Senin kemarin, kami dapat kabar dari KBRI di Singapura kalau dia sudah meninggal. Kami ditelepon orang KBRI-nya,” kata ibu korban, Warsem, dilansir iNews, Kamis (3/1/2019).

Menurut informasi yang diterima, Nurhidayati ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan luka cekik pada bagian leher dan memar di lengan. Jenazahnya tergeletak di kamar hotel nomor 307 antara pukul 17.08 dan 20.12 waktu setempat.

Polisi langsung melakukan penyidikan setelah menerima laporan pada pukul 22.45 waktu setempat.

Sang ibu yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Nurhidayati menduga putrinya dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Ahmed Salim (30). Nurhidayati beberapa kali bercerita soal adanya ancaman pembunuhan karena menolak dijadikan perempuan simpanan.

"Salim sudah dijodohkan orangtuanya dan akan menikah dengan perempuan Bangladesh, tapi Salim tak mau melepas anak saya sebagai pacarnya," tutur Warsem, seperti diberitakan Liputan6.com, Jumat (4/12).

Permintaan sang kekasih untuk menjadikannya perempuan simpanan selalu ditolak oleh Nurhidayati. Ia pun berkali-kali meminta untuk menyudahi hubungan mereka.

Menurut komunikasi yang dilakukan Warsem pada Minggu (30/12/2018) pagi, Nurhidayati mengatakan akan bertemu dengan kekasihnya untuk melunasi utang sekaligus menyudahi hubungan.

"Anak saya utang Rp10 juta sama Salim dan sudah dibayar Rp5 juta. Waktu ke hotel itu, anak saya janjian ketemuan di sana untuk melunasi sisa utangnya yang masih Rp5 juta lagi," papar Warsem.

Setelah laporan dibuat dan penyelidikan dilakukan, 14 jam kemudian polisi pun mengamankan sang kekasih, Salim. Polisi mengatakan bahwa keduanya saling kenal tetapi dokumen pengadilan tidak mengungkapkan sifat hubungan mereka.

Harian berbahasa Tionghoa, Lianhe Wanbao (h/t The Straits Times), mengatakan seorang karyawan hotel yang tidak disebutkan namanya mengatakan pasangan itu telah memesan kamar selama tiga jam sebelum memperpanjang pemesanan menjadi lima jam.

Ketika keduanya tidak check out 10 jam kemudian, staf hotel pergi ke atas untuk memeriksa kamar dan menemukan mayat di sana.

Tak ada tanda-tanda keributan. Bahkan, tamu yang berada di sebelah kamar tersebut mengaku tak mendengar apapun hingga polisi mengetuk kamarnya.

Saat ini, jaksa penuntut umum Singapura mendakwa Salim (30), lelaki asal Bangladesh, sebagai terduga pembunuh. Jika terbukti, ia terancam hukuman mati.

Salim langsung menjalani sidang pada Rabu (2/1) dengan agenda mendengarkan dakwaan. Setelah itu, hakim menyatakan sidang selanjutnya digelar pada Rabu (9/1).

Sementara itu, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan KBRI akan memastikan seluruh hak-hak mendiang terpenuhi.

"Kemlu telah menyampaikan informasi mengenai peristiwa tersebut kepada keluarga NWS di Indramayu. KBRI akan terus memantau penanganan kasus ini oleh otoritas Singapura," kata Iqbal dilansir CNNIndonesia.com, Rabu (2/1).

Nurhidayati awalnya menjadi TKI ke Arab Saudi selama dua tahun. Setelah itu, dia memutuskan menjadi TKI di Singapura pada 2013. Ia lalu bekerja selama tiga tahun dan kembali ke kampung halamannya setelah habis masa kontraknya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Tak lama setelah itu, Nurhidayati kembali berangkat ke Singapura melalui PT Ceger Sari Buana dan bekerja pada majikan yang berbeda. Bersama majikan itu, dia bekerja selama empat tahun.

Semestinya, masa kontraknya berakhir pada Desember 2018, tapi karena tak memiliki uang untuk pulang, Nurhadiyati pun meminta perpanjangan kontrak hingga Agustus 2019. 

Sumber:beritatagar

No comments

Powered by Blogger.