WNI punya cara rayakan Tahun Baru di China


https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Jangan harap malam pergantian tahun di China semarak seperti di belahan dunia lainnya karena memang bukan adat dan tradisi  warga setempat merayakannya. Kalau pun ada konsentrasi massa, paling-paling terjadi di kawasan kuliner atau pusat jajanan lainnya.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Restoran-restoran di Beijing memang agak ramai dibandingkan hari-hari biasa, tapi tidak semalam suntuk. Pertunjukan musik atau ajang hiburan lainnya di tempat terbuka juga sangat jarang. Apalagi pesta kembang api dan petasan tidak akan ada karena dilarang setelah terjadi kebakaran beberapa waktu lalu.

Suara terompet yang meraung-raung memekakkan telinga seperti di kota-kota lainnya di dunia juga tidak terdengar. Tahun baru di China terasa beku, sebeku dinginnya udara di Beijing yang pada Senin (31/12/2018) malam hingga Selasa (01/01/2019) dini hari yang bertemperatur rata-rata -9 derajat Celcius.

Namun, sejumlah warga negara Indonesia memiliki cara tersendiri untuk menyambut pergantian tahun, meskipun dirayakan secara sederhana. "Mari kita bersama-sama mendoakan para korban bencana di Indonesia. Semoga tahun 2019, Indonesia lebih baik lagi," kata Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun saat membuka acara malam pergantian tahun di Wisma Duta KBRI Beijing.

Selepas sambutan Dubes, acara yang difasilitasi oleh Atase Pendidikan KBRI Beijing itu pun dilanjutkan dengan makan malam bersama. Lidah ratusan WNI di Beijing yang didominasi kalangan pelajar dimanjakan oleh hidangan khas kampung halaman, seperti bakso, salad, nasi putih, nasi goreng, mi rebus, tumis, kerupuk udang, dan sambal uleg.

Di halaman samping Wisma Duta tersedia tungku besar yang bisa dipakai untuk membakar aneka ragam penganan lainnya. Dengan membakar sendiri daging ayam, daging sapi, daging kambing, bawang putih, terong, dan bakpao yang tersedia, badan pun terasa hangat oleh bara kayu arang.

Kalau masih kurang hangat, bisa masuk tenda putih di samping ruang tamu Wisma Duta yang dilengkapi dua perapian berbahan bakar gas.Wedang jahe, kopi dan teh panas juga bisa mengusir hawa dingin walau pun hanya sesaat. Bagi penggemar "wine" dan bir juga tersedia dengan kadar alkohol rendah.

Alunan musik akustik yang dimainkan secara bergantian oleh kelompok staf KBRI Beijing dan anggota Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Tiongkok (Permit) juga menambah semarak malam pergantian tahun yang untuk pertama kalinya digelar KBRI Beijing itu.

Belum lagi aneka lomba dan permainan yang khusus untuk para pelajar. Hadiah dari Dubes, Atase Pendidikan, Atase Pertahanan, dan Permit menarik minat para peserta.


Lagu Rayuan Pulau Kelapa yang dinyanyikan secara bersama-sama mengiringi perjalanan jarum jam tepat menunjuk angka 12. Namun hingga malam semakin larut, Wisma Duta yang juga kediaman resmi Dubes RI untuk China merangkap Mongolia, masih dipadati sedikitnya 200 WNI.

Mereka belum beranjak dari gedung bernuansa Nusantara yang satu blok dengan KBRI Beijing di Dongzhimen Wai Da Jie No 4 itu. "Kegiatan ini untuk menyatukan kita, khususnya para pelajar kita sehinggga mereka tidak perlu lagi mencari hiburan di luar," kata Atase Pendidikan KBRI Beijing Yaya Sutarya.

Ala TKI
Lain lagi dengan para tenaga kerja Indonesia di Taiwan yang memiliki cara tersendiri dalam merayakan Tahun Baru 2019. Di antara mereka ada yang mengisinya dengan acara doa bersama. Istighotsah di Sekretariat Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan pada Senin (31/12/2018) malam diikuti puluhan TKI.

Sementara itu, beberapa TKI lainnya mendapatkan kepercayaan dari pihak manajemen MRT Taipei untuk membantu memandu para penumpang kereta bawah tanah selama malam pergantian tahun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya konsentrasi massa yang merayakan malam pergantian tahun akan terjadi di Taipei 101, salah satu gedung pencakar langit tertinggi di dunia yang menjadi ikon Taiwan.

Jutaan warga Taiwan berbaur dengan wisatawan asing dan pekerja migran lainnya menyaksikan gedung setinggi 400 meter lebih itu bermandikan cahaya warna-warni kembang api.
Beberapa stasiun kereta bawah tanah dan jalan utama di sekitar Taipei 101 ditutup lebih awal untuk
menghindari kemampetan alur pejalan kaki. Hal itulah yang mendorong manajemen MRT Taipei meminta bantuan para TKI melalui Global Workers' Organization (GWO), lembaga nonpemerintahan yang aktif memberikan pendampingan kepada pekerja migran di Taiwan. 
 
Para TKI yang mendapatkan tugas mulia tersebut kebanyakan dari peserta lomba pidato Bahasa Mandarin yang digelar GWO beberapa waktu lalu.

Untuk bisa menjalankan tugas pemanduan, para TKI mutlak harus bisa menguasai Bahasa Mandarin sehingga mereka pun dipilih sesuai kualikasinya.

Para TKI terpilih itu dikerahkan di tiga stasiun besar Ibu Kota, yakni Taipei Main Station, Taipei City Hall, dan Taipei 101. Dengan adanya pemandu berbahasa Indonesia, WNI yang hendak menyaksikan pesta kembang api di Taipei 101 tidak hanya bisa menggunakan MRT Jalur Merah (Tamsui-Xinyi Line).
 
"Namun dengan bantuan pemandu dwibahasa tersebut, teman-teman pekerja migran mulai tahu bahwa naik MRT Jalur Biru (Bannan Line) menuju Stasiun Taipei City Hall dan Stasiun Sun-Yat Sen Memorial Hall juga bisa sampai Taipei 101," kata Komisaris GWO Hesti dalam keterangan tertulisnya kepada Antara di Beijing.

Selain itu, bagi WNI dari wilayah luar Kota Taipei yang tidak bisa ke Taipei 101 karena terjebak macet, dapat beristirahat di balai penumpang Taipei Main Stasion dan Stasiun Nangang sebelum melanjutkan liburannya di Taipei pada keesokan harinya.

Balai tersebut bisa menampung ribuan orang dan selama ini para TKI selalu memanfaatkannya pada liburan akhir pekan.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Kesempatan ini menjadi peluang bagi teman-teman menunjukkan prestasi di Taiwan. Oleh karena itu, laksanakan tugas ini dengan penuh tanggung jawab," pesan Kepala Divisi Analis Tenaga Kerja Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Farid Maruf. 

Sumber:Antara

No comments

Powered by Blogger.