Modal Dengkul, Pria Ini Cicipi Ratusan Juta Lewat Jualan Kaos

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Meski persaingan bisnis semakin marak, bukan berarti tidak ada peluang. Bermodalkan media sosial, pria berusia 25 tahun ini mampu meraup omzet ratusan juta dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan lewat bisnis kaos jadi miliknya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Lewat keahliannya dalam meyakinkan pembeli, Marshall Sautlan melahirkan sebuah merek kaos bertajuk Wakaba. Pria yang berprofesi sebagai karyawan di sebuah perusahaan media ini memulai bisnisnya di akhir tahun 2018 silam.

Namun, ini bukanlah bisnis pertamanya. Sejak masih duduk di bangku sekolah, Marshall memang sudah gemar berdagang khususnya pakaian. Ia mendapatkan dorongan saat melihat begitu banyak desain pakaian yang terlalu monoton, pun dengan harga yang tinggi.

Lantas, ketimbang memakai pakaian yang itu-itu saja, Ia memutuskan untuk membuat desain kaos miliknya sendiri. Sadar akan keterbatasannya, Ia pun menggandeng dua orang temannya untuk menjajal bisnis kaos.

Tema desain yang disajikan oleh Wakaba pun selalu erat dengan keseharian banyak orang, bahkan tak jarang berbau sarkasme.

"Saya pikir, lucu juga membuat kaos yang menyindir kehidupan kita sehari-hari. Apalagi karyawan yang sebagian besar gajinya dipakai untuk foya-foya," kata dia saat berbincang dilansir dari detikFinance, Jakarta (04/02/2019).

Mulanya, Ia hanya membuat 3 (tiga) desain untuk dijual. Uniknya, Marshall sama sekali tidak mengeluarkan biaya dalam pembuatan kaos lantaran produknya bersifat pre order (PO). Wajar, kala itu pendapatannya sebagai pekerja formal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan modal usahanya.

Beruntung, karena desain yang unik itu Wakaba mendapat pesanan sebanyak 100 kaos. Hasilnya, seluruh pendapatan yang diperoleh saat itu akhirnya Ia pergunakan untuk modal bisnisnya ke depan.

Berangkat dari situ, Pria kelahiran Bekasi ini menggelontorkan uangnya untuk membuat bengkel sablon kecil-kecilan pada bulan Oktober 2018. Dari sana, Wakaba mulai memperluas cakupan bisnisnya lewat pesanan ritel alias memproduksi kaos sendiri dengan jumlah kecil.

Lagi-lagi, Dewi Fortuna kembali menghampirinya. Tanpa diduga, Wakaba mendapat pesanan sebanyak 3.000 kaos dari salah satu partai pengusung Calon Presiden untuk keperluan Kampanye.

Karena tidak memiliki kapasitas dan keahlian yang cukup untuk menjajal sendiri pesanan itu, Marshall pun mencari rekanan hingga ke luar Jakarta.

Bersama dengan dua rekannya itu, Wakaba pun mendapat rekanan pengusaha sablon senior di kawasan Bandung. Praktis, dalam hitungan kurang dari satu bulan. Ia pun berhasil memperoleh omzet hingga menembus Rp 250 juta.

Omzet tersebut dia dapat dari penjualan kaos dengan rata-rata harga jualnya Rp 35 ribu hingga Rp 80 ribu untuk pesanan dengan jumlah besar.

Melihat potensi yang besar, bisnis Wakaba pun kian meluas dari semula hanya kaos menjadi banyak varian seperti jaket, hoodie, polo shirt, bahkan hingga seragam.

Bahan yang digunakan pun lebih beragam, mulai dari yang paling mahal hingga yang termurah mampu disanggupinya. Sebut saja polyester, gildan, cotton carded, cotton combed, polo shirt dan cotton bamboo yang menjadi bahan dasar setiap pesanan kaos Wakaba. Kini untuk lebih unjuk gigi, dalam waktu dekat Wakaba bakal melebarkan sayapnya dengan menjajal produknya di outlet.

Namun, tidak dengan mendirikan kios miliknya sendiri namun bergabung dengan yang lebih besar yaitu JakCloth Store. Cara ini dilakukan untuk lebih mendompleng nama Wakaba sebagai sebuah merek yang bisa bersaing di pasar.

"Kalau mau eksis kita memang harus nyebur dulu ke pasar, lihat respon. Dari situ baru bisa dirumuskan lagi rencana ke depan," jelasnya.

Ada dua kunci sukses yang selalu diterapkan oleh Marshall dalam berdagang. Pertama, harus selalu menjaga kualitas produk agar melampaui ekspektasi para pembeli.

Kedua, selalu jadikan pembeli maupun calon pembeli sebagai teman dekat. Dengan cara itu tentunya ruang untuk perbaikan dan perubahan bakal semakin terang. Seluruh capaiannya tersebut tentu tidak diperoleh secara instan.

Sebelumnya ada 5 (lima) bisnis serupa yang ditekuni Marshall sejak masih duduk di bangku pendidikan. Mulai dari bisnis stiker, sepatu kulit, hoodie, hingga kaos print pernah dijalaninya dan gagal. Saat itu dia kesulitan untuk menjual produknya, karena ada banyak sekali pesaing yang memiliki kualitas dan harga yang lebih murah.

Pada akhirnya, Marshall memutuskan untuk merangkul dua sahabatnya untuk dijadikan partner bisnis, tak disangka mulai saat itu bisnisnya berkembang dengan sangat cepat.

Kini, Wakaba terdiri dari tiga orang, Marshall sebagai nakhoda sekaligus pemasaran, dibantu oleh Ray dan Dika yang masing-masing bertugas mengurus produksi, quality checking dan desain.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Mitra bisnis itu sangat penting dalam memulai usaha, tentunya harus orang yang profesional dan sama tekunnya," ucapnya.

Marshall memaksimalkan penggunaan internet untuk promosi, mulai dari akun instagram Wakaba.id dan pesan instan seperti Whatsapp hingga Line.

Sumber:detikfinance

No comments

Powered by Blogger.