Rombongan Pramuka Hilang di Hutan Angker Kolaka



    Sebanyak 22 orang anggota Pramuka SMPN 2 Kolaka bersama seorang pembinanya dilaporkan hilang di Hutan Kolaka saat menggelar aktivitas Perkemahan Sabtu Minggu (Persami). Rombongan itu dilaporkan tersesat di lokasi yang berdekatan dengan wisata pemandian alam Air Panas Kea-Kea.



Awalnya 22 orang bersama seorang pembina berjalan terpisah dan memilih mengunjungi lokasi pemandian sebelum kembali ke perkemahan.



"Mereka harusnya sudah kembali ke lokasi perkemahan selanjutnya pulang ke rumahnya masing-masing pada Minggu pukul 16.00 Wita," ujar Isnaeni, salah satu panitia Persami.

Dari informasi yang diterima Liputan6.com, tim SAR Kolaka dibantu TNI, Polisi, dan pihak Universitas Sebelas November (USN) Kolaka langsung turun melakukan pencarian. Pencarian dilakukan sejak pukul 19.30 Wita.

"Tim yang mencari hingga dini hari, akhirnya berhasil menemukan rombongan," ujar Wahyudi, Humas Kantor SAR Kendari.

Wahyudi melanjutkan, korban hilang ditemukan dalam kondisi lengkap 23 orang. Basarnas menemukan mereka pada Senin (11/2/2019) sekitar pukul 3.10 Wita. Para korban ditemukan sekitar 3 kilometer dari lokasi mereka dilaporkan hilang.

Kehabisan Logistik

Sebanyak 23 korban ditemukan dalam kondisi lemas. Saat ditemukan, mereka berada di dalam hutan dengan membakar api unggun. Saat ditemukan, ada sebanyak 10 orang pelajar perempuan, 12 orang pelajar laki-laki dan 1 orang pembina.

Tim SAR mendapati mereka sudah kehabisan logistik setelah dilaporkan hilang selama 12 jam. Selama itu pula, rombongan yang sebagian besar pelajar, tidak mendapatkan makanan yang cukup.

"Sudah ditemukan, dievakuasi di rumah sakit Kolaka semua korban. Kami melakukan pertolongan awal dengan membawa ke rumah sakit, dibantu TNI Polri dan masyarakat," ujar Kepala Pos SAR Kolaka, Asep.

Sejumlah siswa dievakuasi sekitar 5 kilometer dari dalam lokasi hutan ke arah jalan poros. Membawa sejumlah siswa, tim SAR agak kesulitan membawa korban yang sudah dalam kondisi lemas.

"Korban sebagian ditandu dan digotong dengan cara dipikul karena lemas," katanya.

Kronologi

Kepala Sekolah SMPN 2 Kolaka, Abbas menceritakan, 22 siswa dan seorang pembina awalnya melakukan latihan mencari jejak di wilayah hutan Kolaka. Sasaran utama mereka, menuju ke wisata pemandian air panas Kea-kea.

Setelah berhasil mencapai tujuan di wilayah pemandian air panas Kea-Kea, ternyata salah seorang pelajar mengalami cedera di kaki. Pembina yang bernama Sumarjono langsung memikul pelajar dipunggungnya saat perjalanan pulang kembali ke lokasi perkemahan.

Sementara, 21 orang siswa lainnya dibiarkan berjalan di depan sekitar beberapa meter. Saat perjalanan pulang itulah, ternyata pelajar salah mengambil arah dari jejak yang sudah ditinggalkan sebelumnya oleh pembina.

"Para pelajar berbelok ke kiri, seharusnya ke kanan. Saat itu pembinanya juga bingung karena ternyata mereka tidak lewat di jalan yang mereka lalui saat datang," ujar Abbas.

Sumarjono yang kebingungan, akhirnya tidak bisa memimpin para pelajar kembali ke jalan poros. Saat mengetahui kelompoknya telah tersesat, sedangkan kondisi sudah mulai gelap, Sumarjono memilih untuk diam di tempat dan menunggu bantuan datang.

Selentingan di masyarakat muncul, hutan di wilayah Kolaka itu ternyata menyimpan sejumlah kisah mistis. Para tetua menceritakan, sekitar 1980 hingga 1990-an, di wilayah itu ada beberapa warga hilang yang dikabarkan menikah dengan bangsa jin.


Sumber : liputan6

No comments

Powered by Blogger.