Jeli Melihat Peluang Usaha, Perempuan Cantik Ini Buat Aksesori Hippies dan Vintage

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Jeli melihat peluang merupakan hal penting yang harus dimiliki saat berencana membuka sebuah usaha. Salah satu usaha yang yang banyak konsumen adalah bisnis aksesoris.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Bisnis ini juga termasuk mudah untuk dikerjakan dan tentunya tidak terlalu membutuhkan modal yang besar. Sehingga bisa dijalankan oleh siapa saja bahkan untuk pembisnis pemula.

Owner Glatise, Tisa mengatakan bisnis aksesorisnya ini berawal dari kesukaannya terhadap barang-barang hippies style dan vintage. Ia pun bersama patnernya membuka usaha barang-barang vintage.

Glatice muncul pada bulan mei 2016, bisnis ini hadir untuk anak-anak muda yang merindukan dimensi 60's dan hippies style, serta menjual apapun yang bernuansa vintage.

"Awalnya cuma jual baju kain mandala, seiring berjalannya waktu, makin banyak muncul ide-ide, lalu saya membuat aksesoris berupa kalung, gelang, cincin, anting," ujar Tisa.

Bisnis industri kreatif ini, sedikit berbeda dari aksesoris yang lainnya. Pasalnya, Glatise menjual barang-barang etnik Hindu, Afrika, Budha, yang aksesorisnya berupa lambang-lambang diantaranya hamsa, yinyang, dan semua aksesoris yang dijual memiliki arti khusus.

"Modal awalnya kecil tapi karena berputar jadinya sekarang sudah berkembang. Dulu, modal usaha ini Rp 200 ribu, saya gunakan untuk membeli barang barang second (bekas), benang, karena bernuansa vintage," kata perempuan Kelahiran Kota Medan, 06 juli 1996 ini.

Saat ini, Glatise juga sering buka stand di event-event musik. "Sekarang kita lebih sering buka stand di event musik. Kami juga support local talent, jadi mereka sering berbelanja di Glatise ini untuk mendukung penampilan," ungkapnya.

Tisa menjelaskan aksesoris berlambang ini punya pangsa pasar tersendiri. Ia memusatkan konsumen kalangan remaja, dewasa dan orang-orang yang senang akan spiritualis.

"Lambang-lambang ini punya makna khusus misalnya Lambang hamsah dari timur tengah dalam bahasa arab artinya lima berarti penolak bala, yin and yang artinya keseimbangan. Karakter barang yang kita jual ini punya lambang dan arti khusus," tambahnya.

Ia pun tak segan-segan memberi penjelasan dan makna lambang dari aksesoris yang dibuatnya kepada para konsumen.

"Terkadang ada juga konsumen yang jadi takut, tapi ada juga yang jadi suka dan mengoleksi. Penjualan aksesoris ini semakin meningkat bila ada event-event musik," kata Mahasiswa Panca Budi Jurusan Akutansi ini.

Dalam hal promosi produk, pihaknya, memanfaatkan media sosial dan event-event. Terkait harga, produk-produk Glatise terbilang cukup murah, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 60 ribu.

"Produk aksesoris yang saya buat inj tergolong murah, mulai Rp 5 ribu sampai Rp 60 ribu. Kenapa saya menjual produk dengan murah karena concern di hippie itu barang  barang yang di daur ulang terus yang dikasih sentuhan seninya. Dari sejarah hippie juga, menolak kaum borjuis, kemewahan," ucapnya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Tisa tetap optimis bisnis aksesoris miliknya ini akan semakin meningkat.

"Untuk pasar, saya menjual produk yang unik, jadi sudah sudah punya pasar tersendiri. Cuma yang susahnya kalau orang luar negeri mau beli, ongkos kirimnya yang lebih mahal," ujar Tisa.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.