Nurchaeti, Mantan TKI yang Sukses Mengubah Nasib

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bukan cita-cita Nurchaeti. Dia harus meninggalkan keluarga hanya demi mendapatkan gaji yang laik. Berbekal modal tabungan saat menjadi TKI, kini ia sukses memiliki usaha dengan puluhan karyawan dan omzet ratusan juta rupiah.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Semangat, Nurchaeti seperti tidak pernah habis. Mantan TKI ini sukses menggeluti usahanya. Sejak pagi perempuan kelahiran Jakarta, 31 Desember 1980 ini sudah berangkat ke tempat usaha laundry atau jasa pencucian pakaian miliknya di bilangan Jakarta Selatan.

Nampak, paket-paket pakaian siap untuk diantar ke para pelanggan. ”Selamat pagi bu,” sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Nurchaeti. Dengan senyum kecil, Nurchaeti membalas salam tersebut. “Selamat pagi juga,” sapa Nurchaeti sembari berlalu.

Sejurus kemudian Nurchaeti pun memasuki kantor. Tidak banyak yang dia lakukan. Usai melakukan pengecekan, Nurchaeti pun keluar sembari berpesan kepada karyawannya. “Melayani pelanggan dengan baik dan ramah ya,” kata Nurchaeti dilasir dari INDOPOS, Jumat (26/4/2019).

Usaha laundry milik Nurchaeti cukup berkembang. Sejak dibuka 2013 lalu, laundry kiloan Nurchaeti memiliki enam cabang. Di Bekasi, Depok, Bogor, Jakarta dengan jumlah karyawan 35 orang. “Laundry baru melayani pelanggan dari rumahan. Alhamdulillah omzet bersih sebulan Rp 10 juta,” katanya.

Lebih jauh Nurchaeti bercerita, memulai usaha laundry pada 2013 lalu. Saat pertama kali merintis usahanya, dikatakan Nurchaeti, dia menyewa satu buah kios di Jakarta Selatan. Berbekal modal tabungan bekerja di Singapura, dia harus membayar sewa kios Rp 1 juta per bulan.

“Modal waktu itu terbatas, jadi semua saya kerjakan sendiri. Dari jaga kios, mencuci dan mengosok pakaian. Kalau pas cuci pakaian, kios saya tutup dan saya taruh pengumuman ‘sedang mengambil cucian’. Padahal saya sedang mencuci di dalam,” ucapnya sembari tertawa.

Perempuan yang beberapa kali mendapat penghargaan dari BNP2TKI ini menyebutkan, tiga bulan pertama usaha laundry gagal total. Karena, saat itu dia tidak mengetahui ilmunya. Hingga, menurut Nurchaeti kemudian belajar dengan pengusaha laundry yang sudah sukses.

“Banyak saya peroleh ilmu bagaimana mengelola laundry kiloan yang baik. Saya kemudian terapkan, alhamdulillah 4 bulan kemudian laundry milik saya berkembang dan banyak pelanggan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, masih ujar Nurchaeti, pertama kali membuka usahanya mendapatkan kritik dari rekan-rekan seprofesinya. Bekerja menjadi TKI itu, menurutnya cukup menjanjikan. Setiap bulan dia bisa meraih gaji di atas SGD 1.000.

“Temen-temen TKI waktu itu pada mengolok-olok. Wah, lu gila. Udah enak kerja di Singapura, gaji gede, malah pulang jadi tukang cuci,” ucapnya. Satu tahun bekerja di Singapura sebagai TKI formal, ibu dengan dua orang anak ini sudah bertekad untuk tidak meninggalkan kedua orang anaknya.

Selain sukses membuka usaha laundry kiloan, Nurchaeti ternyata sukses membuka usaha makanan ringan. Kesempatan itu diraih, saat seorang koleganya menawarkan untuk mengikuti pelatihan membuat usaha cemilan. Pelatihan membuat makanan ringan selama enam hari itu dibuka oleh BP3TKI di Jakarta. “Waktu itu saya iseng-iseng aja. Karena waktu itu sudah repot mengelola laundry,” ucapnya.

Berjalannya waktu, dikatakan Nurchaeti, dia mulai tertarik dengan materi pelatihan tersebut. Selain mendapatkan materi, pada pelatihan juga para peserta langsung melakukan praktek membuat makanan-makanan kering. “Oh ternyata bisnis makanan itu menguntungkan ya, apalagi tidak butuh modal besar,” gumamnya.

Tak tanggung-tanggung makanan ringan produksinya sudah merambah ke luar negeri. “Kita sudah ekspor ke Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Dubai, Abu Dabi, Qatar, Belanda, Belgia, Jerman dan Perancis,” bebernya.

Puteri sulung dari dua bersaudara pasangan Royani, 58, dan Eti Rohati, 56, ini pun memulai usaha di bidang makanan ringan pada 2015 lalu. Namun, karena beberapa teori tidak dia kuasai, usaha membuat makanan Nurchaeti gagal. “Waktu itu membuat roti manis, ada teknik yang saya lupa. Itu saya ketahui setelah saya kursus di sebuah perusahaan roti ternama,” katanya sembari tertawa.

Usaha Nurchaeti untuk membuat roti pun berhenti. Atas saran orangtuanya, dia pun beralih untuk membuat keripik. Modal yang dibutuhkan tidak besar, hanya Rp 100 ribu. Usahanya kali pertama dibantu oleh tetangga-tetangga rumahnya. Sampai akhirnya, dia memberdayakan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. “Saat itu saya mendapat kesempatan ikut pameran di Brunai Darussalam. Dan di sana saya bertemu dengan distributor, dan sampai sekarang kita terus bekerja sama,” ujarnya.

Dia menyebutkan, makanan ringan produksinya berupa aneka keripik buah-buahan. Seperti keripik nangka, keripik pisang dan keripik dari buah-buahan lainnya. Untuk memenuhi permintaan distributor di luar negeri, menurut Nurchaeti, dia mengambil produksi keripik dari para TKI purna.

“Jadi selain saya produksi sendiri, saya juga berdayakan TKI purna di daerah untuk memproduksi keripik,” akunya.

Perempuan yang mengaku lulusan S1 di perguruan tinggi di Jakarta ini mengatakan, sebelum memberdayakan para TKI purna, dia selalu memberikan ketrampilan lebih dulu. Saat itu difasilitasi oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

“Pelatihan untuk TKI purna saya berikan 2017 lalu, dan keinginan itu disambut baik oleh BNP2TKI dan BP3TKI,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, jumlah TKI purna dari BP3TKI Jakarta yang mengikuti pelatihan pertama kali di bawah seribu orang. Sementara TKI purna di BP3TKI Bandung sebanyak seribu orang. “Sejak 2017 teman-teman TKI purna di Indramayu, Karawang, Purwakarta dan Sukabumi ini sudah bisa memproduksi keripik,” katanya.

Nurchaeti menuturkan, setiap empat bulan sekali dia mengirim keripik aneka buah ke luar negeri. Untuk setiap pengiriman, menurut Nurchaeti sebanyak satu kontainer. Dengan jumlah 10 ribu per Kilogram (Kg) dengan nilai Rp 500 juta hingga Rp 800 juta. “Baru-baru ini saya kirim 1 kontainer ke Dubai dan Qatar. Kenapa 4 bulan sekali ekspor, karena waktu untuk pengiriman saja 3 bulan dan satu bulan untuk waktu produksi,” ucapnya.

Nurchaeti mengaku, untuk memenuhi permintaan ekspor, bahan baku masih menjadi kendala. Pasalnya, untuk membuat keripik aneka buah harus dari bahan berkualitas. Sementara, hasil panen para petani tidak selamanya memiliki kualitas yang baik. “Kadang panen bagus, kadang tidak. Bahan baku berkualitas masih menjadi kendala,” tuturnya.

Dia berharap, kesuksesannya di bidang laundry dan produksi makanan ringan bisa menjadi contoh untuk para TKI purna lainnya. Selama ini, pemberdayaan TKI purna melalui pelatihan sudah cukup baik. Hanya saja, menurut Nurchaeti untuk memulai usaha dari para TKI purna ini yang masih lemah.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

“Sebenarnya modal tidak melulu jadi masalah. Buktinya saya untuk memulai usaha makanan ringan hanya butuh modal Rp 100 ribu,” terangnya.

Terakhir Nurchaeti mengingatkan kepada calon TKI agar berangkat secara prosedural. Karena, selain mendapatkan perlindungan, di negara penempatan TKI juga mendapatkan hak-haknya, salah satunyaa asuransi. “Saya miris banget, masih banyak TKI yang berangkat unprosedural (ilegal). Kalau ada masalah di sana, mereka baru ngadu. Ya sebaiknya kalau berangkat secara prosedural, ada asuransi, perlindungan dan pulang dapat pelatihan,” pungkasnya.

Sumber:indopos

No comments

Powered by Blogger.