Jaksa Agung Malaysia Siap Buka Kembali Kasus TKI Adelina Sau

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kantor Jaksa Agung Malaysia telah meyakinkan pemerintah Indonesia bahwa mereka akan mengajukan naik banding atas keputusan pengadilan baru-baru ini yang membebaskan seorang majikan Malaysia setelah pekerja rumah tangganya yang merupakan orang Indonesia meninggal karena disiksa secara fisik pada Februari 2018.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Ambika MA Shan (61), dibebaskan dari tuduhan pembunuhan atas kematian TKW Adelina Sau yang masih berusia 21 tahun oleh Pengadilan Tinggi Penang pada 22 April 2019 lalu.

Keputusan tersebut dikritisi oleh para aktivis HAM bersama dengan organisasi pekerja migran, pemerintah Indonesia dan keluarga Adelina mendorong agar kasus itu dibuka kembali.

Selama seminggu terakhir, Menteri Tenaga Kerja RI Muhammad Hanif Dhakiri bertemu dengan Jaksa Agung Malaysia Tommy Thomas sebagai bagian dari kunjungan resmi untuk meningkatkan keselamatan ratusan ribu TKI dan TKW yang bekerja di negri jiran tersebut.

"Kami akan membuka kembali kasus pembunuhan Adelina dan Kami akan mengajukan banding atas keputusan Pengadilan Tinggi Penang" katanya setelah melakukan pertemuan di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur.

Penerimaan Bebas Hukuman

Sau meninggal karena kegagalan organ sehari setelah diselamatkan dengan bantuan Tenaganita, kelompok perlindungan pekerja migran Malaysia. Malnutrisi akut dan luka terinfeksi yang tidak diobati telah menyebabkan organnya gagal, sedangkan laporan otopsi juga menunjukkan bahwa Adelina memiliki wajah bengkak, luka bakar asam dan bekas gigitan anjing pada saat kematiannya.

Tenaganita mengatakan bahwa Adelina terlalu takut untuk memberi tahu polisi tentang luka-lukanya setelah dia diselamatkan. Mereka percaya, Adelina telah diperlakukan dengan kejam selama lebih dari sebulan oleh majikannya, yang membuatnya tidur di luar rumah dengan anjing peliharaan mereka, seekor Rottweiler.

"Dari kasus Adelina, [kita dapat melihat bahwa] sistem peradilan pidana sama sekali tidak mendukung pekerja migran," kata Glorene Das, direktur eksekutif Tenaganita. "Sekarang ada penerimaan impunitas, dan dengan itu, kita memupuk kekerasan di masyarakat kita."

Namun berita banding disambut baik oleh pekerja Indonesia di Malaysia.

"Saya berharap setelah kematian Adelina, pemerintah Indonesia dapat menerapkan undang-undang tentang Pekerja Migran dengan layak dan adil," kata Florensia, seorang pekerja rumah tangga dari Timor Barat yang bekerja di Kuala Lumpur.

Undang-undang ini diberlakukan pada tahun 2017 setelah perdebatan panjang di Parlemen Malaysia, tetapi pekerja migran dan kelompok-kelompok perlindungan juga mengatakan bahwa dampaknya sejauh ini hanya sedikit karena implementasi yang buruk.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Florensia, yang telah bekerja di Malaysia selama 11 tahun, mengatakan banyak calon pekerja migran tidak memiliki informasi tentang risiko seperti pelecehan, eksploitasi dan gaji yang tidak dibayar. Dia mengatakan dia sering memperingatkan orang lain sebelum mereka melakukan langkah serupa di luar negeri.

"Jika motivasi mereka adalah untuk menghasilkan banyak uang, saya sarankan mereka berpikir lagi," Florensia, yang tidak ingin memberikan nama lengkapnya. "Tidak semua yang mereka dengar itu benar."


Sumber:pikiranrakyat

No comments

Powered by Blogger.