Kisah Dua Perempuan Terjerat Pinjaman Online, Diteror Lewat Telepon



     Mengajukan pinjaman online alias pinjol syaratnya mudah. Namun, di balik kemudahannya, ada jerat yang menunggu para pengutang alias debitur.



Indah, salah seorang debitur membagikan kisahnya soal pengalaman Pinjol. Ia sempat terjerat pinjaman online beberapa bulan lalu. Saat itu, warga Palm Banjarbaru ini bekerja di salah satu ritel modern di Banjarbaru. Karena merasa punya penghasilan mandiri, ia tergiur ingin membeli smartphone keluaran anyar.



Pinjol jadi pilihan Indah saat itu. Berawal dari ajakan temannya yang sudah terlebih dahulu menggunakan Pinjol. "Saya pinjam saat itu Rp. 3.000.000 tanpa jaminan, hanya KTP saja. Angsurannya saya pilih empat bulan," ingatnya, seperti diberitakan Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group).

Namanya pinjaman mudah tanpa syarat berlibet, bunga yang harus di bayar Indah rupanya besar. Yakni mencapai 30 persen. "Yang pertama itu saya berhasil melunasinya. Karena merasa mudah, akhirnya tergiur lagi saat ada penawaran, dan sekarang bisa lebih besar angka pinjamannya" katanya.

Di pinjaman kedua lah malapetaka bagi Indah. Meminjam dari salah satu Pinjol sebesar Rp. 5.000.000. Ibu rumah tangga ini berniat ingin membeli perabotan rumah. Dia mulai kesulitan karena tagihannya tidak pilih waktu.

"Jadi tagihan itu masuk pada pertengahan bulan. Saat saya masih kerja masih tidak masalah, setelah resign saya mulai panik," curhatnya.

Kepanikan Indah lantaran penagih hutang terus menerornya. Baik melalui puluhan pesan singkat hingga ratusan panggilan dengan berbagai macam nomer.

Saat itu Indah bingung. Lantaran ia tidak bisa melunasi pinjamannya. Dikarenakan bunga yang besar.

"Tidak hanya telepon pribadi saya. Entah bagaimana dia (penagih hutang) melacaknya, nomer saudara dan orang tua saya juga dihubungi. Saya makin tertekan," katanya.

Tepat satu bulan yang lalu. Indah akhirnya bisa menyudahi teror tersebut. Dengan bantuan rekannya, ia mendapat pinjaman dana untuk melunasi pinjaman di pinjol.

"Alhamdulillah rekan saya ngerti, karena suaminya pernah terjerat pinjol juga sama seperti saya. Saat dia ada rezeki berlebih, dia pinjamkan ke saya untuk mengakhiri putaran utang di pinjol," kata Indah.

Menurut Indah, cara sang penagih utang kadang tidak sopan. Mereke telepon berkali-kali. Saat diangkat, kata-katanya keras dan terkesan kasar.

"Saya ingat betul satu kali dibilangin "pencuri uang" oleh penagih itu. Di situ saya kaget sekali, sebegitunya," katanya.

Tak jauh berbeda dengan Indah. Putri (nama samaran), warga Sungai Besar Banjarbaru juga bernasib demikian. Beruntung, Putri lepas dari teriakan penagih hutang lebih cepat dari Indah.

"Saya telat bayar karena saat itu ada keperluan lain. Ternyata satu hari saja telat, sudah banyak sekali yang menagih," kisah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Banjarbaru ini.

Memang besaran yang dipinjam putri di Pinjol tidak besar. Yakni hanya Rp. 600.000. Akan tetapi tenggat pembayaran hanya dua pekan. "Yang pembayaran pertama dan kedua saya lancar saja. Nah yang ketiga mulai tidak nyaman," katanya.

Yang ketiga, ia telat dua hari melunasi. Hanya karena dua hari itu, nomer orang tua Putri di Tabalong terus berdering. "Saya kaget dibilangin bapak bahwa ada pria menelepon dengan nada keras seraya menagih utang," katanya.

Semenjak dari situ. Putri langsung melunasi utang tersebut. "Setelah konsultasi dengan teman yang juga pernah pakai pinjol. Memang kebanyakan seperti itu, malah ada yang bunganya naik jika telat," ceritanya.

Kejadian orang tuanya ditelepon penagih utang membuat Putri malu tak kepalang. Pasalnya niatnya meminjam dana di pinjol untuk membeli kebutuhan gaya hidup.

"Jelas malu, karena saya tidak pernah bilang melakukan pinjaman sama orang tua. Jadi orang tua kaget. Setelah itu saya berhenti," ujarnya.

Memang, pinjol membuat orang jadi terpedaya. Pasalnya, hanya dengan KTP, uang dengan nominal dari Rp.600 ribu hingga jutaan rupiah bisa seketika masuk ke rekening seketika. Bahkan tanpa syarat.

Namun jika tidak siap dan matang untuk melunasi pinjaman dan bunga yang cukup besar, sangat besar kemungkinan akan mendapat teror penagihan pinjaman secara beruntun.

Sumber :JPNN

No comments

Powered by Blogger.