Malaysia Mulai Kirim 3.000 Ton Limbah Plastik Kembali ke Negara Asal

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Pemerintah Malaysia menegaskan akan mengirimkan ribuan ton sampah plastik yang telah dibuang secara ilegal ke wilayah mereka, kembali ke negara asal. Disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Malaysia, Yeo Bee Yin, pada Selasa (28/5/2019), pemerintah akan mengirim sekitar 3.000 ton limbah plastik yang ditempatkan dalam kontainer-kontainer yang kini berada di pelabuhan Malaysia, kembali ke negara yang memproduksinya. 

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Sampah-sampah ilegal dalam 60 kontainer itu termasuk limbah kabel dari Inggris, limbah elektronik dan rumah tangga dari Amerika Utara, Jepang, Arab Saudi, dan China, serta limbah kepingan CD dari Bangladesh, dan limbah karton susu terkontaminasi dari Australia. Demikian dilaporkan Newsweek. Disampaikan Yeo Bee Yin, sebanyak 10 dari 60 kontainer tersebut akan meninggalkan pantai Malaysia dalam waktu dua pekan.

"Malaysia tidak akan menjadi tempat pembuangan sampah dunia," ujarnya pada April lalu, ketika penyelidikan pemerintah Malaysia menemuka bahwa AS, Australia, Inggris, dan Jerman, telah secara ilegal membuang sampah ke negara itu. "Kami akan mengirim kembali (limbah) ke negara asal," tegas Yeo Bee Yin. 

Malaysia telah berada di garis depan "perang" melawan limbah asing sejak tahun lalu, saat Putrajaya menerbitkan undang-undang yang bertujuan menghentikan limbah asing yang terkontaminasi masuk ke pelabuhan. 

Menurut The Guardian, Kuala Lumpur sejak itu telah mengembalikan sebanyak lima kontainer sampah ilegal ke Spanyol dan berencana mengirim kembali lebih banyak kontainer limbah ke AS, Inggris, dan juga Australia. Menurut angka yang dirilis oleh Greenpeace, impor limbah plastik Malaysia mencapai 456.000 ton dalam enam bulan pertama tahun lalu.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jerman, Spanyol, dan Perancis tercatat menjadi negara-negara pengekspor sampah terbesar. Selain Malaysia, Thailand dan Vietnam juga telah memperkenalkan peraturan guna menangkal impor sampah ilegal, saat negara-negara Asia Tenggara lainnya mulai memerangi masalah serupa, yang muncul pertama kali usai China berhenti menerima limbah plastik dari seluruh dunia. Larangan itu berdampak pada pasar daur ulang karena lebih dari 50 persen total limbah plastik, kertas, dan logam dunia diproses di China pada 2016.

Sumber:kompas

No comments

Powered by Blogger.