Tak Sesuai Kenyataan, Banyak TKI Ilegal hanya Pulang Nama

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kasus deportasi PMI dari luar negeri bukanlah hal yang baru bagi BP3TKI Manado. Kasus serupa masih banyak ditemui karena perekrutan ilegal masih marak terjadi bukan hanya di Manado saja namun hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Rata-rata mereka yang pulang karena deportasi datang dengan tangan hampa. Bahkan tidak jarang yang pulang hanya tinggal nama.

Demikian Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Manado Sutrisno melalui rilis yang diterima tribunmanado.co.id, Kamis (16/5/2019).

"Hal ini patutlah menjadi perhatian semua pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat," ujar dia.

Karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar khususnya yang menjadi korban perekrutan ilegal beserta keluarganya.

Untuk itu, dia menyarankan apabila memiliki minat untuk bekerja ke luar negeri, masyarakat cukup mendatangi kantor dinas tenaga kerja setempat atau kantor BP3TKI Manado.

"Atau bisa juga dengan membuka website www.jobsinfo.bnp2tki.go.id," Sutrisno menambahkan. Di situs itu, masyarakat bisamencari informasi lowongan kerja ke luar negeri ataupun informasi mengenai pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia Swasta (PPTKIS).

"Agar masyarakat dapat bekerja melalui jalur yang aman," dia menandaskan. Sebelumnya, BPT3TKI Manado membantu memulangkan seorang pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal.

BP3TKI Manado menerima surat pemberitahuan kepulangan Leyna Deti Warangkiran dari KBRI Malaysia pada tanggal 14 Mei 2019 sore

"Kami tindak lanjuti dengan melakukan penjemputan dan pemulangan langsung ke desa asal yang bersangkutan pada hari ini.”

Demikian Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Manado Sutrisno melalui rilis yang diterima tribunmanado.co.id, Kamis (16/5/2019).

Namun, seminggu sebelum menerima surat pemberitahuan kepulangan Leyna, keluarganya telah melaporkan kesulitan Leyna di Malaysia kepada BP3TKI Manado

Namun Leyna tidak memiliki informasi yang jelas terkait perusahaan yang memberangkatkan di Indonesia serta agen di Malaysia.

"Maka dari itu kami menyarankan kepada keluarganya agar Leyna langsung melapor ke KBRI di Kuala Lumpur,” kata Sutrisno.

Dipulangkan

Sebelumnya Leyna Deti Warangkiran, asal Kanonang, Kawangkoan, Kabupaten Minahasa itu diperas agensi yang mengirimnya ke Malaysia.

Padahal, Leyna juga belum mendapatkan pekerjaan lantaran kondisi tubuhnya yang sedang berbadan dua alias hamil. Ia gagal mendapatkan izin bekerja.

Dalam kondisi hamil muda dan tak punya uang, ia sempat terkatung-katung. Leyna pun melarikan diri ke KBRI.

“Saya awalnya diajak kerja di Malaysia secara resmi dengan gaji tinggi, makanya saya mau kerja di sana."

Demikian kata dia seperti dikutip dari rilis yang dikeluarkan BP3TKI Manado, Kamis (16/5/2019).

Ketika sampai di Kuala Lumpur, dia diminta untuk medical check-up sebagai syarat untuk memperoleh izin kerja oleh agensi yang menjemput saya.

Ternyata hasil pemeriksaan kesehataan, ia diketahui tengah mengandung. Leyna pun minta pulang ke Indonesia.

Dengan kondisi tubuhnya, tak memungkina baginya untuk mendapatkan izin kerja. Leyna diperbolehkan pulang dengan syarat saya harus ganti rugi ke agensi sebesar RM 3.000 (Rp 9.750.000).

"Saya tidak punya uang sebanyak itu, dan saya terus saja diintimidasi oleh agensi untuk bayar ke mereka. "Saya juga baru tahu bahwa saya berangkat secara ilegal karena paspor saya ternyata paspor wisata.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Saya bingung, akhirnya saya melarikan diri ke KBRI Malaysia untuk meminta perlindungan,” kata Leyna. Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur dan BP3TKI pun kemudian membantu memulangkannya, Rabu (15/5/2019).

Leyna tiba di Bandara Samratulangi Manado pada pukul 23.00 Wita dan dijemput oleh tim perlindungan BP3TKI Manado. Dia langsung dipulangkan ke rumahnya, di Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa.


Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.