Dari Jualan Keripik, Pernah Jadi TKI, hingga Sukses di Usaha Kuliner



Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Asmuni, pemilik Rumah Makan Sukma Rasa yang kini cabangnya tersebar di Lombok, membuktikan itu. Namun siapa sangka, di balik kesuksesan Rumah Makan Sukma Rasa, ternyata tersimpan kisah panjang perjuangan.

 Tampilan pria ini sederhana. Dia bersahaja kepada siapa pun. Pembawaannya yang ramah membuat semua orang senang dengan sosoknya. Sukses tetapi rendah hati. Dialah Asmuni, pemilik Rumah Makan Sukma Rasa, yang sudah sembilan tahun berdiri dan menjadi favorit warga Lombok Barat dan sekitarnya.

Kini rumah makan yang berdiri pertama kali di Jalur Labuapi-Mataram itu juga sudah memiliki cabang di beberapa tempat. Namun, kesuksesan yang diraih Asmuni sekarang ini tidak instan didapatkan begitu saja. Kehidupan yang begitu keras dan penuh perjuangan dijalaninya.

Asmuni lahir dari keluarga petani. Anak ketiga dari delapan bersaudara. Sejak kecil, Asmuni sudah bertekad mengangkat derajat keluarganya. Dia ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Menempuh pendidikan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hakim pada 1997, Asmuni menghadapi kehidupan yang cukup sulit. “Kita masak sendiri, kadang-kadang kita makan nasi pakai cabai sama garam menjadi lauknya,” ungkap Asmuni saat ditemui di Rumah Makan Sukma Rasa.

Selama mondok di Nurul Hakim, berbagai cara dia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya sekolah. Beruntung dia juga mendapatkan beasiswa di ponpes tersebut. Akhirnya, dia berhasil menamatkan sekolahnya di pondok. Setelah tamat, dia pun memutuskan untuk merantau ke Bali “Karena saya ndak punya biaya, dulu sempat jadi marbot dan tukang bersih-bersih di masjid yang ada di sana,” kenangnya.

Hampir selama dua tahun dia menetap di Bali. Namun peristiwa bom Bali pada 2002 berdampak pada kehidupan Asmuni. Maklum saat kejadian itu, dia sedang training di salah satu perusahaan yang ada di Bali. Akhirnya pada 2003 dia kembali ke Lombok dan berjualan keripik.

“Ketika berjualan keripik ini juga banyak ujiannya. Apalagi kita jualan di mana kita sekolah, ada rasa minder,” ungkapnya.

Rasa minder semakin dia rasakan ketika reuni dilakukan di sekolahnya. Melihat kawan-kawannya sudah menempuh pendidikan dengan mengendarai motor membuat dirinya merasa sedih. “Tapi alhamdulillah, teman-teman responsnya positif melihat saya berjualan dorong-dorong gerobak,” ujarnya.

Setelah beberapa tahun berjualan keripik, Asmuni akhirnya memutuskan kembali merantau untuk bekerja keluar negeri. Dia berkesempatan terbang bekerja ke Korea sebagai TKI tahun 2004. Dia pergi dengan membawa kepercayaan orangtuanya yang menggadai tanah demi biaya keberangkatannya.

Hasilnya pun berbuah manis. Selama bekerja kurang lebih tiga tahun di perusahaan alat listrik, Asmuni bisa mengembalikan tanah orangtuanya yang digadaikan. Bahkan, dia bisa memberangkatkan haji kedua orangtuanya pada 2006. “Alhamdulillah, banyak pembelajaran saya dapatkan di Korea. Gaji pertama saya saja awalnya Rp 11 juta terus meningkat sampai Rp 18 juta per bulan, ekonomi terpenuhi dan bisa membiayai sekolah adik-adik,” bebernya.

Namun, di perantauan membuat Asmuni kangen dengan kampung halamannya. Dengan modal yang sudah cukup banyak dia kembali ke Lombok untuk mulai usaha dan biaya menikah. Berbagai macam usaha dicobanya. Mulai usaha sablon, jualan gorengan, berjualan ayam taliwang, hingga cuci motor dan mobil.

Saat membuka usaha cuci motor dan mobil, dia melihat pengunjung yang datang cukup ramai. Mereka yang menunggu kendaraannya sedang dicuci membuat Asmuni berinisiatif untuk menyediakan kopi, minuman ringan, dan snack. Dia kemudian mulai menambah dengan berjualan bakso menggunakan rombong di tempat cuci kendaraan tersebut.

“Masih bakso biasa itu, seiring perjalanan kemudian kita damping dengan bakso bebalung. Terus berjalan saya melihat tempat cucian ini kurang prospek, akhirnya saya tutup dan buka warung kuliner bakso,” ungkapnya.

Selama dua tahun berjalan sejak 2010, Warung Bakso Sukma Rasa sudah memiliki pelanggan yang begitu ramai. Sayangnya di tengah menuju puncak keberhasilan itu, Asmuni mendapat ujian. Warung miliknya mengalami kebakaran yang membuat Asmuni harus menelan kerugian yang begitu besar.

Total kerugian akibat kebakaran diperkirakan sekitar Rp 60–80 juta. Kejadian itu benar-benar memukul Asmuni dam memaksanya tutup beberapa pekan. Meski diterpa musibah, ternyata semangat juang Asmuni tidak redup. Dia kembali berpikir untuk membuka warungnya lagi. Dia merasa tidak ada lagi keahlian lainnya selain di bidang yang sempat membuatnya berhasil di dunia usaha. Dia pun memberanikan diri untuk meminjam modal di bank. Dengan menggadaikan sejumlah aset yang dimilikinya.

Hasilnya, dia kembali berjaya. Rumah makan dengan andalan bakso bebalung dan kuliner khas Pulau Lombok miliknya menjadi idola. Dia pun mulai membuka cabang di mana-mana. Kini dia mampu mempekerjakan total sekitar 80 pegawai. Dengan omzet per bulan puluhan juta rupiah. “Alhamdulillah omzet kita terus bertambah,” syukurnya. 

Sumber:prokal

No comments

Powered by Blogger.