Hoki Yanti dari Keramik Poci

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Cita-cita menjadi seorang wartawan harus Supriyanti kubur dalam-dalam. Perempuan yang senang menulis ini tak kuasa menolak permintaan sang ayah untuk meneruskan usaha keramik.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Permintaan tersebut berulangkali terucap sebelum ayahnya, Masrun Dedi Sunarno meninggal dunia. Pendiri PT Keramik Usaha Karya ini meninggal akibat kanker paru-paru di usia 51 tahun, tak lama setelah Yanti, panggilan akrab Supriyanti, lulus kuliah.

Alhasil, jebolan STIE YKPN, Yogyakarta, ini pun meneruskan tongkat estafet bisnis keramik, tepatnya pada 1994 silam. “Bapak saya mengajarkan bakti. Karena amanah, jadi mau tidak mau saya harus jalankan usaha ini,” kata Yanti.

Di bawah kepemimpinan wanita kelahiran tahun 1971 ini, Usaha Karya yang bercokol di daerah Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah, berkembang pesat. Karyawan yang dulunya sekitar 20 orang, sekarang berjumlah 100 orang.

Dan dalam sebulan, produksi pabriknya hingga puluhan ribu keramik. Untuk poci keramik (tea pot) pesanan perusahaan teh saja, mencapai 40.000 set per bulan.

Perusahaan-perusahaan teh besar memesan poci keramik ke Yanti. Sebut saja, Tong Tji, 2 Tang, Sosro, Sari Wangi, dan Kepala Djenggot.

Tentu, keramik buatan Usaha Karya tak cuma poci. Ada guci, pot, patung, dan masih banyak lagi. Harganya mulai Rp 20.000 hingga jutaan rupiah.

Meski baru berusia 23 tahun sewaktu meneruskan bisnis keramik yang dirintis ayahnya sejak 1969 silam, Yanti sudah tidak kaget lagi. Maklum, sedari dini sang ayah sudah mengenalkan dan melatih dia tentang seluk beluk usaha keramik.

Saat duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), ia sudah bekerja sebagai tenaga pemasar di Usaha Karya. Sang ayah juga kerap mengajaknya bertemu dengan pejabat pemerintah pusat dan daerah dan pengusaha papan atas. Maklum, keramik buatan ayahnya sudah menembus pasar ekspor.

Hebatnya lagi, ketika itu Yanti menyabet predikat karyawan teladan se-Jawa Tengah. “Dulu, ceritanya ada lomba karyawan teladan yang diadakan Dinas Tenaga Kerja. Saya dinobatkan sebagai karyawan teladan se-Jawa Tengah,” ujarnya.

Dengan bekal ilmu ekonomi yang dia dapat saat kuliah, Yanti pun semakin mantap memimpin Usaha Karya. Menurutnya, yang berat bukan menjalankan perusahaan ini.

Tapi, karakter dan nama besar sang ayah. “Di pikiran saya adalah, saya harus minimal seperti bapak saya. Pertanyaannya, kan, apakah saya mampu?” ucapnya.

Maklum, ayahnya penerima Upakarti, penghargaan tertinggi dari pemerintah kepada mereka yang telah berdedikasi melakukan berbagai upaya yang sangat luarbiasa dalam pengembangan industri kecil dan menengah (IKM). Kala itu, Presiden Soeharto yang menyerahkan langsung penghargaan itu.

Budaya kerja

Begitu tongkat estafet usaha keramik di tangan, yang Yanti pikirkan pertama kali adalah sumber daya manusia (SDM). Sebab, karyawan Usaha Karya sejatinya seniman. “Saya ingin mereka tidak semaunya sendiri, punya rasa memiliki, jadi membangun perusahaan ini dalam kebersamaan,” kata dia.

Caranya, ia membeberkan, meski punya rasa memiliki atas perusahaan, karyawan harus bertanggungjawab terhadap pekerjaannya masing-masing, tidak bisa semaunya.

Mereka juga mesti bekerja jujur, terutama saat Yanti sedang tidak ada di pabrik. “Setelah sama saya, istilahnya SDM dibikin profesional kayak perusahaan-perusahaan besar,” ujarnya.

Guna memotivasi karyawan dalam bekerja, Yanti sering turun langsung ke pabrik untuk sekadar bersenda gurau dengan para pekerja. “Ini merupakan cara saya untuk menciptakan kenyamanan karyawan juga kebersamaan serta rasa memiliki usaha ini,” jelas dia.

Bukan cuma itu, ia juga selalu berada di divisi atau tempat yang ada masalah. Misalnya, di divisi material mengalami problem bahan baku, maka Yanti bisa berhari-hari di situ. Bahkan, untuk menyelesaikan permasalahan, dia mencari sendiri bahan baku ke pelosok.

Dalam menjalankan roda usaha, dia juga mendapat arahan dari dosen kampusnya yang juga penulis buku Manajemen Personalia, Heidjrachman Ranupandojo. Salah satu nasehatnya adalah, yang namanya usaha berbasis budaya lokal tidak akan punah kecuali daerahnya hilang.

“Seperti keramik klampok yang kami buat, daerah Klampok, kan, tidak akan hilang. Ini menguatkan diri saya sehingga usaha bisa eksis dan berkembang,” sebutnya.
Perusahaan teh yang memesan poci keramik tidak lagi hanya Sosro, juga produsen lainnya. Jumlahnya lebih dari 20 perusahaan.

Kerjasama dengan Sosro tercipta di bawah kepemimpinan sang ayah. “Hampir semua perusahaan yang produksi teh kering di Indonesia menggunakan alat seduh teh dari kami,” ungkap Yanti.

Bisnis keramik yang berkembang pesat mengantarkan Yanti meraih Paramakarya, penghargaan tertinggi dari pemerintah kepada usaha kecil dan menengah (UKM) yang berhasil menunjukkan kinerja terbaik selama beberapa tahun terakhir. Ketika itu, Presiden B.J. Habibie lah yang menyerahkan penghargaan yang berarti karya yang istimewa tersebut.

Sebelum memperoleh penghargaan itu, ia harus menjalani proses seleksi dari bawah, mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Di tingkat provinsi, dia dapat penghargaan bertajuk Sidhakarya. Artinya: karya yang berhasil.

Sebagai ganjarannya, Kementerian Ketenagakerjaan lalu memberikan pilihan: hadiah berupa piala dan piagam atau investasi. Tentu saja, Yanti memilih investasi berupa pabrik pengolahan material yang dibangun di dekat pabrik keramiknya.

Sebab, keberadaan pabrik pengolahan material bisa menyerap tenaga kerja. “Saya lupa berapa nilai rupiahnya karena pihak kementerian langsung datang sendiri membangun pabriknya,” ungkap dia.

Ekspor meredup

Dan tak hanya dalam negeri, keramik buatan Usaha Karya juga merambah pasar dalam negeri. Yanti mengekspor ke berbagai negara di seluruh benua termasuk Afrika.

Tapi, kejayaan itu meredup mulai awal 2013 lalu. Kemerosotan ekonomi Amerika Serikat (AS) jadi salah satu penyebab utama. Maklum, negeri uwak Sam merupakan pasar ekspor terbesar keramik Usaha Karya.

Bahkan, Yanti sempat menjalin kongsi dengan Pier 1 Imports Inc., peritel asal AS yang khusus menjual perabot dan dekorasi rumah impor. Terakhir, ia memasok ke Pier 1 tahun 2014. “Kerajinan keramik alami tahun-tahun sulit,” katanya.

Tambah lagi, persaingan pasar ekspor semakin sengit seiring kehadiran keramik asal Vietnam yang menawarkan harga lebih murah. Malahan, lebih murah dari produk China.

Menurut Yanti yang sempat berkunjung ke Vietnam tiga tahun lalu untuk melihat proses produksinya, keramik negara itu bisa lebih murah lantaran efektivitas dan produktivitas mereka sangat tinggi.

Contoh, Vietnam memberdayakan narapidana untuk membuat keramik. Lalu, mereka membuat oven raksasa dengan menggali bukit sedalam 200 meter. Dan, bahan bakarnya bukan gas, melainkan kayu bakar yang lebih murah.

Setelah tahu, dia pun tidak terlalu ngoyo lagi untuk menggarap pasar ekspor. Ia hanya berupaya dari sisi inovasi desain, motif, dan model. Soalnya, untuk menekan harga jual dan bahan baku sangat sulit.

“Intinya, sudah tidak bisa lagi menang soal harga dari Vietnam. Tetapi kalau untuk kualitas dan model, produk kami masih bisa lebih bagus,” tegas Yanti.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Untuk itu, dia fokus membesarkan pasar dalam negeri. Ia sedang gencar mendekati mal, gerai ritel modern, dan pusat oleh-oleh buat menjalin kongsi. Termasuk, membidik rest area di jalan tol seiring beroperasinya sejumlah ruas baru. 

Sebelumnya, Yanti meneken kerjasama dengan Transmart Carrefour. Mulai tahun ini ia akan memasok poci keramik ke seluruh gerai ritel di bawah naungan Trans Corp tersebut. “Jadi, sekarang kami bergerilya supaya bisa masuk ke modern channel,” tambah dia.

Yanti memegang prinsip, meski keramik khas Klampok bisa dibilang produk tradisional, ide, model, dan motifnya tetap modern. Jadi, orang-orang modern juga perlu sentuhan tradisional lagi klasik.


Sumber:sindonews

No comments

Powered by Blogger.