Skateboard Bekas Disulap Jadi Kacamata, Tembus Pasar Amerika

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Bagi seorang skater, papan skateboard yang rusak atau patah jadi barang tak berguna alias limbah. Namun, tidak bagi Ocky Chopin.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Bagi Ocky, papan seluncur yang rusak merupakan harta karun yang bisa menghasilkan uang hingga Rp 10 jutaan per bulannya. Bahkan, tembus pasar Amerika Serikat (AS). Lewat tangan kreatifnya, papan yang rusak bisa diolah menjadi berbagai jenis barang, termasuk kacamata.

Dilansir dari detikFinance, skater ini bercerita mengenai awal mula membangun bisnis kerajinan yang kemudian dia beri label Backyard Recycled.

Awal mula membangun bisnis ini dimulai ketidaksengajaan. Di kisaran tahun 2014, Ocky melihat kacamata kayu yang dijual di sebuah toko yang menjual perlengkapan skateboard (skate shop). Toko tersebut menjual kacamata dengan harga yang relatif tinggi yakni sampai Rp 1 juta per itemnya. Parahnya, kacamata-kacamata itu barang impor.

"Ya pernah lihat ada skateshop jual kacamata kayu dan itu harganya lumayan mahal," katanya Sabtu (22/6/2019).

Ide pun muncul. Ocky berusaha membuat kacamata sendiri. Namun diakuinya membuat kacamata dari kayu tidaklah mudah. Dia mengaku terus-menerus bereksperimen untuk membuat kacamata dari kayu terutama dari papan skateboard.

Ocky sempat frustrasi bereksperimen dan memilih hanya membuat aksesoris seperti kalung dan cincin. Lantaran, membuat kacamata yang bagus merupakan hal yang sulit.

"Sempat nyerah akhirnya buat aksesoris aja dari limbah papan skateboard. Saya buat cincin kalung anting. Nyerah karena sulit dan alat-alat yang dipergunakan juga lumayan mahal," jelasnya.

Tapi, ia berniat untuk melanjutkan kembali usahanya. Terutama, setelah bisnis aksesorisnya berjalan dan mendapat modal untuk merambah bisnis kacamata kayu tersebut. Modal yang terkumpul kala itu paling tidak mencapai Rp 1,5 juta.

"Akhirnya hasil uang dari aksesoris cincin, kalung dan anting saya beliin alat-alat yang mendukung untuk pembuatan kacamata kayu dari limbah papan skateboard," ujarnya.

Butuh waktu 2 tahun bagi Ocky untuk belajar dan benar-benar memulai bisnis di Backyard Recycled. Ia benar-benar terjun di bisnis ini di 2016.

Lebih lanjut, Ocky bilang, untuk mendapatkan bahan bakunya yakni papan skateboard rusak bukan perkara sulit. Ocky biasa mendapatkan papan rusak itu dengan barter kacamata, atau mendapat sumbangan dari rekan-rekannya di komunitas skater.

Ada sejumlah proses yang mesti dilewati untuk menghasilkan sebuah kacamata. Sebut Ocky, membuat pola, memotong papan skateboard, memotong sesuai desain kacamata, dan selanjutnya dihaluskan.

Sebelum dirakit menjadi kacamata, potongan itu melalui proses pewarnaan. Jangan salah, Ocky tidak melakukan pengecatan pada proses ini, ia justru memanfaatkan warna asli dari papan seluncur tersebut.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Karena papan skate itu terdiri dari 7 layer dan tiap layer pasti beda-beda warnanya itu yang menandakan tiap brand papan skate," ujarnya.

Paling tidak, kini Ocky bisa menghasilkan 7 kacamata untuk setiap minggunya. Untuk harganya, kacamata itu ia bandrol dengan harga di kisaran Rp 600 ribu hingga Rp 750 ribu. Konsumen pun bisa memesan lensa sesuai keinginannya. Tentu saja, ada tambahan biaya yang disesuaikan dengan lensa tersebut.

"Bila request lensa harga menyesuaikan si lensa. Yang pasti harga frame only Rp 600 ribu ditambah harga lensa dan juga di tangkainya bisa dikasih nama si pemesan," ujarnya.

Soal pemasaran produk, Ocky hanya mengandalkan media sosial Instagram. Calon konsumen yang berniat untuk memesan pun bisa langsung mengirim pesan di akun @backyardrecycled.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Bisnis memanfaatkan limbah papan seluncur itu kini menghasilkan pundi-pundi uang bagi Ocky. Sebulannya, Ocky bisa menjual rata-rata 12 kaca mata. Omzetnya, sekitar Rp 10 juta sebulan.

Konsumen Ocky tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga luar negeri seperti Singapura dan Amerika Serikat (AS).

"Dan kaca mata sudah sampai ke negeri Paman Sam," tutupnya.

Sumber:detikfinance

No comments

Powered by Blogger.