Tangisan TKI yang Mudik Lebaran Melalui Batam Setelah Bertahun Tahun Hidup di Malaysia


Banyak cerita tenaga kerja Indonesia di negeri rantau Malaysia menghadapi bulan ramadan. Kisah Jaun (25), TKI di Malaysia asal Pekalongan salah satunya.

Jaun, menjadi TKI sudah bertahun tahun. Di Malaysia, Jaun bekerja sebagai peamasang keramik di proyek perumahan. Ia mengaku bekerja keras siang malam demi masa depan cerah.

Hidup jadi TKI, cukup keras. Tapi, ia mengaku tahan banting demi merubah nasib. Setiap ramadan, Jaun tak kuasa menahan rindu.

"Saya sangat rindu adik abang. Ayah ibu sudah meninggal,"kata Jaun yang pada akhirnya berkesempatan mudik kembali ke Indonesia melalui Batam setalah bertahun tahun jadi TKI di Malaysia, Minggu (2/6/2019).

Jaun mengaku, ia akan kembali lagi ke Malaysia. Ia tak berani melamar kerja di perusahaan di Indonesia termasuk di Batam. Pendidikannya hanya sampai SMP.

Bertahun tahun di Malaysia, Jaun mengatakan, dirinya bersama para TKI lain sering menangis saat Lebaran Idul Fitri. "Saya ingat Indonesia,"katanya.

Air mata rindu terhadap orangtua, istri, maupun anak, tumpah bak air sungai yang mengalir deras menuju muara.

Bahkan menurut Jaun, ada salah satu rekannya, selesai Shalat Ied dilakukan, terus saja menangis sambil berbaring di tempat tidur hingga malam hari.

"Kami ingin pulang ke Indonesia, namun ekeonomi tidak memadai," terangnya.

Tak hanya itu, beberapa TKI disana pun juga telah memiliki keluarga.

Ada yang menikah sesama warga Indonesia, dan ada yang menikah dengan warga negara Myanmar.

"Jadi bukan hanya Indonesia yang ada TKI. Myanmar, Bangladesh, serta Thailand pun juga ada," ungkap Jaun.

Untuk profesi, para tenaga kerja dari berbagai negara ini dapat bekerja sebagai buruh pabrik, kuli bangunan, bahkan pengumpul rongsokan.

Kini, di momen Bulan Ramadhan tahun 2019, Jaun merasa sangat bersyukur, dirinya dapat kembali ke Indonesia.

Saat ditanya, apakah ada niatan untuk kembali ke Malaysia? Jaun hanya menjawab,

"Tidak lagi lah," ucapnya diselingin sedikit senyum tipis.

Kini, Jaun telah memulai hidup baru sebagai pedagang bakso.

Walaupun hanya warung sederhana, Jaun merasa tercukupi dari pekerjaannya sekarang.

"Selama puasa, saya juga bantu orang untuk jualan ayam bakar. Anak muda harus gigih dan semangat," tutupnya.

Sumber:tribunnews



No comments

Powered by Blogger.