Ini Perkembangan Kasus Calon TKW Asal Sumba yang Dokumen Kependudukan Dipalsukan

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kasus calon TKW asal Sumba Timur yang dokumen kependudukannya dipalsukan oleh perekrut terus bergulir, Kamis (4/7/2019).
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Setelah ditangani oleh Polres Kupang Kota, kasus ini dilimpahkan ke pihak Ditreskrimum Polda NTT sebab tempat kejadian pemalsuan dokumen berada di Sumba Timur.

Dirkrimum Polda NTT Kombes Pol Yudi Sinlaeloe melalui Wadirkrimum Polda NTT AKBP Anton C. Nugroho di ruang kerjanya mengatakan, saat ini kasus tersebut tengah ditangani oleh pihaknya.

"Dikarenakan pemalsuan terjadi bukan di wilayah hukum Polres Kupang Kota," ungkapnya ketika ditemui Kamis sore.

Dijelaskannya, hasil pengembangan penyelidikan dari Polres Kupang Kota menemukan terdapat sebanyak 27 calon TKW yang terindikasi dokumen kependudukannya telah dipalsukan.

Dari pengembangan yang dilakukan Polres Kupang Kota, ditemukan 6 calon TKW yang dokumen kependudukannya dipalsukan perekrut dari daerah asal.

Selanjutnya, dari pengembangan Ditreskrimum Polda NTT, terdapat satu lagi calon TKW asal Sumba Timur yang tahun kelahirannya diubah oleh perekrut lapangan.

Calon TKW ini bernama Sunarti Padu Lemba (20) berasal dari Sumba Timur. Tahun kelahiran Sunarti yang seharusnya tahun 1999 diubah menjadi tahun 1998.

"Dan dari hasil penanganan kami, sudah berkembang menjadi 7 orang. Indikasinya dokumen dari Akta kelahiran, KK dan KTP dipalsukan," katanya.

Pihaknya akan segera mengembalikan para calon TKW yang memiliki dokumen lengkap, namun sebelum itu, akan dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif.

"Kami perlu melakukan pendalaman hingga tidak dibutuhkan lagi keterangan dari mereka. Dikarenakan teknik penyelidikan dan penyidikan terkadang agak rentan untuk kalangan kurang mampu, Contohnya saat pulang ke rumah nanti dan saat kami masih membutuhkan, ada pihak-pihak tertentu menekan dan akhirnya mencabut laporan atau mempersulit penyidikan," katanya

"Makanya kami butuhkan pemeriksaan yang lengkap, buat berita acara dan akan didokumentasikan dan penyelidikan di penyidik tanpa tekanan," tambahnya.

Untuk penyelidikan dokumen kependudukan yang dipalsukan, pihaknya juga akan melakukan pemeriksaan terhadap Dispenduk setempat, perangkat desa, keluarga maupun sekolah para korban.

"Sebanyak 7 calon TKW lainnya kami masih lakukan pemeriksaan dan kami masih berkoordinasi dengan Pemda dan usai pemeriksaan kami antar pulang didampingi penyidik supaya sekalian melakukan penyidikan di sana. Supaya lebih cepat," paparnya.

Untuk status Kepala Cabang Kupang PT Bukit Mayak Asri, Ristiana Iswati sampai saat ini berstatus saksi. Perusahaan perekrut tenaga kerja yang dimilikinya pun terdaftar.

"Untuk kasus ini kami tidak tergesa-gesa menetapkan tersangka," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Polres Kupang Kota mengamankan sebanyak 31 Calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) di sebuah rumah kontrakan di Jln Perwira No 16 Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Rabu (3/7/2019).

Mereka direkrut oleh PT Bukit Mayak Asri (PMA) yang beroperasi di Kota Kupang. Para calon TKI berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Barat Daya dan Kabupaten Rote.

Para calon TKI rata-rata memiliki dokumen yang diduga telah dipalsukan perekrut lapangan.

Dari puluhan calon TKI itu, pihak kepolisian mengindentifikasi 6 calon TKI yang identitasnya dipalsukan oleh pihak perekrut lapangan di Kabupaten Sumba Timur.

Identitas yang diubah yakni tahun kelahiran mereka yang tertera di E-KTP telah diubah dan tidak sesuai dengan akta kelahiran serta ijasah mereka.

Keenam calon TKW tersebut diantaranya, Lapse Dorita Maramba Meha berusia 19 tahun namun dipalsukan menjadi 21 tahun, Jeni Yaku Danga yang berusia 20 tahun namun usia dipalsukan menjadi 22 tahun.

Selain itu, Marlin Loda Wahang usia 19 tahun dipalsukan menjadi 22 tahun, Maria Kareri Hara asal Makaminggit yang berusia 19 tahun dipalsukan menjadi 21 tahun, Orvin Tatu Rija berusia 20 tahun namun dipalsukan menjadi 22 tahun serta Herlince Tamu Ina berusia 20 tahun namun dipalsukan berusia 22 tahun.

Keenam gadis asal Kabupaten Sumba Timur ini baru menamatkan pendidikan SMA dan direkrut Agus dan Frida Muhammad. Di Sumba Timur, para calon TKW ini ditampung di sebuah rumah yang disewa PT BMA Cabang Sumba Timur.

Kasus ini dapat terungkap berdasarkan laporan dari Ketua GMKI Cabang Kupang, Ferdinan U. T. Hambadima yang melaporkan ke pihak kepolisian bahwa terdapat dua calon TKW yang telah melarikan diri tempat penampungan.

Kedua orang itu yakni Lapse Dorita Maramba Meha dan Orvin Tatu Rija yang melarikan diri pada Selasa (2/7/2019) malam dan saat itu pihaknya berhasil bertemu dan bersama mereka melaporkan hal tersebut ke Mapolres Kupang Kota.

Kapolres Kupang Kota, AKBP Satrya Perdana P Tarung Binti, SIK melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH., MH dalam konferensi pers di Mapolres Kupang Kota mengatakan, proses hukum selanjutnya akan dilakukan oleh pihak Ditreskrimum Polda NTT.

"Karena poses perekrutan yang terjadi di Sumba Timur maka menjadi kewenangan atau domain penyelidikan dan penyidikannya harus dari lingkup Polda NTT maka kami sudah berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTT," katanya.

Terungkapnya kasus tersebut berawal dari dua calon yang berhasil melarikan diri dari tempat penampungan dan melaporkan bahwa dokumen mereka telah dipalsukan oleh pihak perekrut.

Keduanya langsung dimintai keterangan di Unit Tipidter Satreskrim Polres Kupang Kota dan pada Rabu (3/7/2019) pukul 09.00 Wita, kata Iptu Bobby dilakukan penggeledahan di tempat penampungan tersebut.

Dari penggeledahan, ditemukan 31 calon TKW yang pada umumnya akan ditempatkan ke Malaysia sebagai pekerja rumah tangga."

"Dan melalui pemeriksaan intensif, kami dapati ada sebanyak 6 orang calon TKW yang data-data mereka sebagaimana terpampang di depan ini, tahun kelahirannya dirubah," paparnya.

Kepastian data keenam orang tersebut diubah berdasarkan hasil koordinasi pihaknya dengan Polsek Lewa Polres Polres Sumba Timur yang langsung turun ke rumah orangtua serta sekolah para calon TKW tersebut.

Selain itu, E-KTP mereka melalui juga diduga palsu karena telah diuji menggunakan alat kepolisian di Unit Identifikasi Sat Reskrim Polres Kupang Kota.

"Kalau perekaman e-KTP sudah dilakukan maka akan muncul di alat kami. Akan tetapi tidak terdata, keenam ini tidak terdata," paparnya.

Dijelaskannya, para korban direkrut oleh Farida Muhammad selaku direktur PT BMA perwakilan Sumba Timur dan Agus dan Yeremias selaku petugas lapangan.

"Yang urus semuanya adalah Farida yang ambil dari Dispenduk Capil tapi tidak sesuai dengan surat baptis dan ijasah mereka," ujarnya.

Selain itu, para korban juga merasa ditipu karena dijanjikan untuk menjadi cleaning servis di Malaysia akan tetapi selama hampir satu bulan sejak Mei lalu dipersiapkan untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Pihak kepolisian dalam penggeledahan juga mengamankan Kepala Cabang PT Bukit Mayak Asri Cabang Kupang, Ristiana Iswati dan dua rekannya Yanto dan Vita.

Menurut keterangan Ristiana, perekrutan dilakukan oleh Farida Muhammad dan dirinya hanya menerima para calon TKW beserta dokumen untuk diurus lagi hingga berangkat ke Malaysia.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Farida akan diberikan imbalan sebesar Rp 8 juta untuk satu orang TKW yang berhasil dikirimkan ke negeri Jiran, Malaysia.

"Menurut keterangan Ristiana, satu Calon TKI yang dikirim akan diberikan uang sebesar Rp 8 juta, entah dari Farida seperti apa nanti lebih detailnya kami akan serahkan ke Polda dan nanti akan dikoordinasikan demi pemulangan mereka ke Sumba," katanya.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.