Shanghai Terapkan Aturan Baru soal Sampah, Pelanggar Diancam Denda hingga Rp 102 Juta

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Pemerintah kota Shanghai, China, menerbitkan aturan baru terkait sampah yang membuat warga merasa cemas. Penduduk yang tidak mematuhi aturan baru itu terancam denda besar dan penurunan tingkat "kredit sosial", yang berarti hak-hak ekonomi mereka bisa dicabut dan tak bisa lagi jadi "warga kota teladan".
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Aturan baru soal sampah, yang mulai diterapkan pada Senin (1/7/2019), tergolong ambisius mengingat Shanghai adalah salah satu kota terpadat di dunia dengan 24 juta penduduk. Menurut beberapa laporan, hanya 10 persen sampah di kota itu yang didaur ulang. 

Sementara statistik resmi menyatakan hanya 3.300 ton sampah daur ulang yang dikumpulkan setiap harinya. Sisanya, limbah yang diangkat sebanyak 19.300 ton dan sampah dapur sebanyak 5.000 ton. Shanghai merupakan salah satu penghasil sampah terbesar di China dengan produksi sembilan juta ton per tahun, menurut kantor berita resmi Xinhua.

Dalam aturan baru ini, sampah dibagi jadi empat golongan, yakni barang daur ulang seperti botol dan kaleng, sampah berbahaya seperti baterai dan obat-obatan, limbah dapur, umumnya sisa makanan, serta sampah lain-lain, seperti limbah dari kamar mandi. Kota Shanghai mempekerjakan ribuan instruktur dan melakukan pelatihan agar warga mengerti cara memilah sampah mereka. 

Namun penduduk tahu pihak berwenang mengawasi perilaku mereka dengan ketat. Situs web Shine mengatakan ratusan polisi dikerahkan ke seluruh kota untuk membagikan peringatan atau menjatuhkan denda, jika diperlukan. Ini menyebabkan panik karena penduduk tak punya pilihan kecuali sangat berhati-hati agar tidak melanggar aturan. 

Perlu berpikir dua kali sebelum membuang wadah seperti botol dan harus mengosongkannya terlebih dulu. Kantong plastik bekas juga harus dicuci agar terhindar dari hukuman. Beberapa produk harus diurai dulu sebelum dibuang. Harian The Global Times melaporkan, denda sebesar 200 yuan (sekitar Rp 411.000) untuk perorangan, sementara organisasi atau perusahaan bisa dikenakan denda hingga 50.000 yuan (Rp 102 juta). Jumlah ini berat bagi sebagian besar penduduk.

Sebagian besar penduduk Shanghai tinggal di apartemen dengan tempat sampah bersama, maka ada tekanan besar bagi penghuni untuk patuh pada aturan baru. Jika gagal, mereka bisa terkena hukuman secara kolektif.

Kekhawatiran lebih besar adalah penurunan tingkat "kredit sosial", sebuah sistem yang menilai tingkat kepercayaan warga negara pada perilaku sosial dan finansial mereka. Orang dengan kredit sosial buruk, bisa tersingkir dari pekerjaan bergengsi dan tak bisa masuk ke sekolah bagus. 

Dalam kasus ekstrem, mereka bisa dilarang bepergian dengan pesawat atau tak punya akses ke ruang-ruang publik. Liputan media menggambarkan banyak yang merasa gembira dengan dampak positif aturan ini terhadap lingkungan. Namun tidak sedikit pula yang khawatir. Sementara perusahaan juga mulai mengambil langkah mengurangi sampah.

Hotel yang cenderung membuang sampah dalam jumlah besar berjuang menghadapi aturan baru itu, dan mulai melarang penggunakan sikat gigi dan sisir sekali pakai. Restoran dan usaha antar makanan juga melarang penggunaan alat makan sekali pakai, menurut situs berita Shine. Sejumlah perusahaan mengambil untung dari kecemasan ini. 

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Global Times melaporkan satu perusahaan pengantar makan menawarkan jasa untuk mengambil dan membuang sampah. China News Service melaporkan perusahaan telekomunikasi China Telecom memperkenalkan sistem yang memberi imbalan orang yang melakukan daur ulang. 

Mereka menampilkan gambar tempat sampah dengan merk yang memberikan pembayaran untuk sampah yang didaur ulang. Perusahaan teknologi juga mengambil keuntungan dengan menciptakan permainan daring yang menurut kantor berita Xinhua menciptakan "cara menyenangkan untuk memilah sampah".


Sumber:kompas

No comments

Powered by Blogger.