Akhir Cerita Bayi TKW Menunggu Mayat Ayahnya 3 Hari di Jember, Dibawa ke Banyuwangi Tanpa Ibu

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Akhir cerita seorang bayi, putri seorang TKW, yang menunggui mayat ayahnya tiga hari tiga malam di Jember adalah kepergian si bayi ke Banyuwangi.
 
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Bayi perempuan N yang masih berusia 14 bulan itu akhirnya dibawa ke Banyuwangi setelah sang ayah dimakamkan dan ibunya yang masih bekerja sebagai TKW di Taiwan belum bisa pulang ke Jember.

Bayi N adalah putri pasangan Fauzi alias Aan Junaidi (40) dan Sulastri .

Fauzi ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumah dalam kondisi mulai membusuk dan mayatnya masih ditemani bayi N saat ditemukan.

Sedangkan Sulastri, ibu N kini masih berada di Taiwan karena bekerja sebagai TKW di sana.

Jenazah Fauzi alias Aan Junaidi (40), ayah dari bayi N dimakamkan pada Jumat (16/8/2019).

Pemakaman dilakukan di TPU milik Pemkab Jember di Kecamatan Patrang oleh keluarga dan pihak RSD dr Soebandi Jember.

Bayi N selanjutnya dibawa ke Banyuwangi oleh kakak kandung Sulastri, Ny Setiyanti ke Desa Kendalrejo Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi.

Kepergian bayi N yang jadi sebatang kara itu ke Banyuwangi untuk diasuh Bu de (Bibi) nya selain karena permintaan SUlastri, ibu bayi N juga telah melalui proses pengawasan ketat sebelumnya.

Sebab warga sekitar dan petugas tidak ingin bayi tersebut diambil sembarang orang.

Petugas dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) harus memastikan jika bayi tersebut mendapatkan asuhan oleh orang yang tepat.

"Kami harus memastikan siapa yang merawatnya, apakah anak ini akan mendapatkan perawatan yang benar, melindunginya baik fisik dan psikis, juga menjaganya. Anak ini harus mendapatkan haknya sebagai anak," tegas Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Jember Nurcahyo Hadi.

Karenanya, bayi N diserahkan kepada budenya setelah dipastikan bahwa perempuan itu merupakan keluarga terdekat sang bayi.

Ibu si bayi  juga sudah memberikan mandat kepada kakaknyauntuk merawat bayi N.

Seperti diberitakan sebelumnya, bayi N diduga menunggui mayat ayahnya selama tiga hari tiga malam di dalam kamar rumah yang dikunci dari dalam.

Sehari-hari bayi N ini memang diketahui hanya tinggal berdua dengan ayahnya.

Bayi N ditemukan warga dan polisi yang mendobrak masuk ke dalam rumah Fauzi alias Aan Junaidi (40) di Perumahan Kaliwining Asri C-6 Desa Kaliwining Kecamatan Rambipuji, Jember, Rabu (14/8/2019).

Saat itu Bayi N masih bersandar di tangan ayahnya, Fauzi, yang sudah menjadi mayat dan sudah berbau menyengat karena diperkirakan sudah meninggal dunia sejak tiga hari sebelumnya.

Menurut tetangga rumah Fauzi, Anik Nurazizah, warga perumahannya melihat Fauzi, ayah bayi N terakhir kali pada Sabtu (10/8/2019) malam atau di malam Hari Raya Idul Adha.

Dari keterangan istri Fauzi, Sulastri kepada Anik melalui sambungan percakapan video, Sulastri menuturkan sejak pukul 08.00 Wib, Minggu (11/8/2019), dirinya tidak bisa menghubungi suaminya.

"Telpon tidak diangkat, dikirimi pesan lewat WA centang satu. Tadi pagi istrinya, Mbak Sulastri, cerita soal itu kepada saya melalui video call," imbuh Anik.

Lalu pada Senin (12/8/2019), warga sekitar mulai mencium bau busuk seperti bangkai tikus. Namun bau itu datang dan pergi.

"Itu terjadi sampai Rabu (14/8/2019) kemarin. Jadi baunya datang dan pergi, kalau ada angin mengarah ke rumah saya, ada bau. Kalau tidak ya nggak. Jadi kami nyangkanya memang bau bangkai tikus," imbuhnya.

Meski begitu, warga sekitar tidak curiga atas tidak munculnya Fauzi.

Warga sekitar melihat gerbang dan pintu rumah tertutup rapat. Namun sepeda motor yang bersangkutan ada di dalam pagar, di teras rumah.

Sampai akhirnya pada Rabu (14/8/2019) siang, warga yang rumahnya berdempetan dengan rumah Fauzi mendengar tangisan bayi.

"Anak Bu RT yang rumahnya dempet itu yang dengar. Langsung bilang ke ibunya kalau 'Dik Nisa nangis'," imbuh Murtini, juga warga perumahan tersebut.

Tangisan kencang yang tidak lama itulah yang makin menguatkan kecurigaan warga sekitar, ditambah adanya bau menyengat.

Warga perumahan memberitahu seorang bernama Ribut, yang dikenal sebagai ayah angkat Fauzi. Rumah Ribut berbeda dusun dengan Perumahan Kaliwining Asri.

Ribut yang mendatangi rumah Fauzi langsung mendapatkan menyimpulkan jika ada mayat di rumah itu.

Ribut pun bersama warga sekitar melapor ke Kepala Dusun Bedadung Kulon Desa Rambipuji, Misrawi. Kemudian dilaporkan ke perangkat desa, dan ke kepolisian.

Rabu (14/8/2019) pukul 14.00 Wib, warga melapor ke Babinkamtibmas Desa Kaliwining dan Polsek Rambipuji. Setelahnya, polisi, Babinsa, juga warga membuka paksa rumah Fauzi.

Mereka mendapati Fauzi sudah meninggal dunia di kamar belakang rumahnya.

"Semua pintu terkunci. Pagar terkunci dari dalam, pintu depan terkunci, kamar lokasi kejadian juga terkunci dari dalam. Bayi telentang di lekukan lengan kiri ayahnya. Sudah tidak nangis ketika pintu kami dobrak," ujar Babinkamtibmas Desaa Kaliwining Aipda Teguh Siswanto kepada SURYAMALANG.COM.

Seperti mengetahui pintu terbuka, bayi perempuan yang pada 22 Agustus nanti genap berusia 14 bulan itu, langsung duduk.

Kasun Misrawi langsung meraup sang bayi. Bayi itu pun langsung nemplok di pelukan Kasun tersebut.

Setelahnya, bayi N dilarikan ke Pustu Kaliwining. Malam harinya hingga Kamis (15/8/2019) siang, dia dirawat oleh Anik Nurazizah.

Setelahnya, bayi N diserahkan kepada sang bude, Setiyanti, warga Desa Kendalrejo Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi.

Kasus Ditutup
Kanit Reskrim Polres Jember Aipda Muhammad Slamet mengatakan, seluruh proses pengurusan jenazah sudah selesai pada Kamis (15/8/2019) malam.

"Semalam seluruh proses pengurusan jenazah selesai, baik di kepolisian maupun di rumah sakit. Karena keluarga tidak mau otopsi sehingga kami memerlukan pernyataan tertulis dari keluarga," ujar Slamet dilansir dari suryamalang, Jumat (16/8/2019).

Surat pernyataan dari keluarga itu menjadi dasar pengurusan jenazah lebih lanjut. "Dimakamkan hari ini setelah seluruh proses selesai," imbuh Slamet.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Sementara itu, polisi juga membuka garis polisi yang sejak ditemukannya jenazah Fauzi dipasang di depan rumahnya di Perumahan Kaliwining Asri C-6 Desa Kaliwining Kecamatan Rambipuji.

Warga sekitar, lanjut Slamet, meminta izin akan membersihkan sekitar lokasi karena tidak nyaman dengan bau mayat yang masih menyengat.

Polisi akhirnya membuka garis polisi. Pembukaan garis polisi dilakukan karena kasus itu sendiri ditutup demi hukum setelah keluarga tidak mau melakukan otopsi terhadap jenazah Fauzi dan membuat pernyataan tidak akan menggugat atau menuntut siapapun.

Sumber:suryamalang


No comments

Powered by Blogger.