Demonstran Hong Kong Sempat Tutup Akses ke Bandara, Rusak Stasiun

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Arus lalu lintas dari dan menuju ke Bandara Internasional Hong Kong lumpuh selama berjam-jam hari Minggu (1/9/2019) akibat aksi demonstran membarikade jalan. Ratusan wisatawan dilaporkan terjebak di bandara.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Aksi hari ini adalah lanjutan dari Sabtu kemarin, di mana demonstran bentrok dengan polisi. Demonstran melempar bom molotov dan menyulut api, sementara polisi membalas dengan meriam air dan gas air mata. Polisi juga menyerbu sebuah stasiun kereta bawah tanah dan menangkap puluhan orang.

Massa demonstran tampaknya ingin menutup akses ke bandara. Namun, hingga sore hari mereka tidak berhasil mencapai terminal karena terhalang barikade polisi. Meski demikian, demonstran berhasil memblokade jalan dan memaksa operator kereta memberhentikan trayek ke bandara. Para wisatawan dan staf bandara, termasuk pramugari, terpaksa berjalan kaki ke bandara karena kemacetan luar biasa di sebuah jembatan menuju bandara.

Semua moda transportasi dari dan ke bandara terputus selama berjam-jam hingga akhirnya polisi antihuru-hara berhasil membuka jalan. Ratusan demonstran kabur ke Tung Chung, kota terdekat. Di sana mereka membuat barikade dan merusak stasiun kereta. Hampir semua demonstrann sudah membubarkan diri ketika polisi sampai ke Tung Chung.

Sekitar 900 demonstran, aktivis pro-demokrasi dan legislator ditahan karena terlibat dalam aksi protes warga Hong Kong yang sudah memasuki pekan ke-13. Aktivis yang ditangkap antara lain, Joshua Wong dan Agnes Chow, pemimpin kelompok Demosisto, yang merupakan aktor utama aksi Umbrella Movement 2014 lalu. Lalu, ada Andy Chan, pemimpin partai separatis terlarang Hong Kong Nationalist Party.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Aksi Hong Kong terjadi karena warga Hong Kong menolak rancangan undang-undang yang memberikan kewenangan kepada Tiongkok untuk mengekstradisi tersangka kriminal ke Tiongkok. Pemimpin Hong Kong, Chief Executive Carrie Lam menolak mengumumkan keadaan darurat. Beijing juga menolak permintaan Lam untuk mengabulkan sebagian permintaan para demonstran.

Strategi memblokade bandara menuai kritik dari berbagai pihak. Aksi serupa awal Agustus lalu membuat banyak penerbangan dibatalkan dan dua warga Tiongkok dirundung massa. Beberapa wisatawan juga merasa frustasi dan pada saat yang bersamaan, simpatik dengan aksi warga Hong Kong.

Sumber:beritasatu

No comments

Powered by Blogger.