Hong Kong Cabut RUU Ekstradisi, Ini Kata Media China

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Pemimpin Hong Kong secara resmi telah menarik rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang kontroversial. Karenanya, tidak ada lasan bagi para demonstran untuk melanjutkan aksi kekerasan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Begitu isi tajuk utama media yang pemerintah China, China Daily, menanggapi pencabutan RUU ekstradisi.

Penarikan RUU ekstradisi pada Rabu kemarin terjadi setelah gelombang aksi protes selama berminggu-minggu yang terkadang berubah menjadi bentrokan sengit di bekas jajahan Inggris dengan lebih dari 7 juta orang. Lebih dari 1.000 demonstran telah ditangkap.

RUU ekstradisi memungkinkan seorang warga Hong Kong di kirim ke China daratan untuk diadili di pengadilan yang dikendalikan oleh Partai Komunis. Penarikan RUU itu adalah satu dari lima tuntutan utama para pemrotes.

"Keputusan itu adalah tanggapan yang tulus dan sungguh-sungguh terhadap suara masyarakat ... (itu) dapat ditafsirkan sebagai sebuah tawara rekonsiliasi yang diperluas kepada mereka yang telah menentang RUU selama beberapa bulan terakhir," tulis China Daily seperti dikutip dari Reuters, Kamis (5/9/2019).

Aksi protes di Hong Kong dimulai pada bulan Maret kemudian membesar di bulan Juni dan berkembang menjadi dorongan untuk demokrasi yang lebih besar di kota yang kembali ke China pada tahun 1997 sebagai Daerah Administratif Khusus (SAR). Tidak jelas apakah menarik RUU itu - yang telah ditangguhkan sejak Juni - akan membantu mengakhiri kerusuhan.

"Para pemrotes sekarang tidak memiliki alasan untuk melanjutkan kekerasan," kata China Daily.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Pemerintah SAR telah memberikan kesempatan kepada penduduk Hong Kong untuk menggantikan antagonisme dan konfrontasi dengan perdamaian dan dialog," bunyi editorial itu.

"Dan mudah-mudahan, perdamaian dan stabilitas akan dipulihkan pada waktu yang tepat sehingga kota dapat mengarahkan energi dan waktu dalam memecahkan masalah sosial dan ekonomi," demikian kata editorial itu.

Sumber:sindonews

No comments

Powered by Blogger.