Selain Menarik RUU Ekstradisi, Ini Langkah Pemimpin Hong Kong Redam Krisis

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
 
Pemimpin Hong Kong Carrie Lam sudah mengumumkan bakal menarik RUU Ekstradisi yang menjadi penyebab krisis serius dalam tiga bulan terakhir. "Secara formal, pemerintah bakal mencabut rancangan itu demi memulihkan ketertiban publik," ujar Lam dalam rekaman video yang dirilis oleh kantornya. Pernyataan yang disampaikan Lam jelas menjadi berita besar. Pasalnya, selama ini Lam baru menyatakan RUU Ekstradisi itu "sudah mati". Tapi dia tak pernah menariknya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
Dilansir AFP Rabu (4/9/2019), oposisi Hong Kong pun khawatir berbekal ucapan itu, pemerintahannya bakal mengaktifkan kembali pembahasan peraturan itu jika krisis mereda. Dalam pernyataan dengan nada yang mengajak rekonsiliasi, Lam juga menerapkan kebijakan lain untuk meredam pergerakan yang sudah berlangsung sejak Juni itu. 
 
Dia mengimbau kepada demonstran menanggalkan kekerasan, dan memilih dialog dengan pemerintah. "Mari ganti konflik dengan dialog, dan cari solusinya," katanya. Pemimpin berusia 62 tahun itu berjanji pemerintahannya akan mematuhi laporan rekomendasi yang dibuat oleh Dewan Keluhan Polisi Independen (IPCC). 
 
Dia menegaskan mulai bulan ini, dia dan jajarannya bakal turun langsung untuk berdialog dengan massa. "Kami harus menemukan cara menangani keluhan dan mencari solusinya," lanjutnya dikutip Reuters. Penarikan RUU Ekstradisi itu merupakan satu dari lima tuntutan utama pengunjuk rasa yang turun ke jalan, dan memberikan tantangan besar bagi China. 
 
Dia mengumumkan rencana untuk menggelar dialog supaya masyarakat bisa membagikan pandangan dan menyuarakan keluhan mereka selama pertemuan berlangsung.

Dia juga berniat menerjunkan akademisi hingga profesional untuk meninjau problem warga, dan memberikan masukan serta solusi kepada pemerintah Hong Kong. Lam kemudian mengatakan penarikan RUU Ekstradisi bakal dimulai saat parlemen bersidang Oktober nanti, dan memperingatkan supaya pendemo berhenti melakukan kekerasan. 
 
Lam menyebut kekerasan dan tantangan kepada pemerintah China bakal menempatkan pusat finansial dunia itu di posisi yang "berbahaya serta rapuh". "Prioritas utama kami tentunya mengakhiri kerusuhan, menjaga penegakan hukum, memulihkan ketertiban, dan menyelamatkan masyarakat," pungkas Lam.

Diperkenalkan sejak Februari ini, RUU Ekstradisi itu pada dasarnya diciptakan untuk mengirim kembali pelaku kejahatan ke berbagai tempat, termasuk China. Masuknya China kemudian menjadi kekhawatiran tersendiri karena aktivis pro-demokrasi takut jika yurisdiksi unik yang jadi bagian "satu negara, dua sistem" bakal terhapuskan.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Aksi protes itu pertama kali berlangsung pada 31 Maret. Namun Juni menjadi tolok ukur setelah oposisi mengklaim pergerakan mereka diikuti oleh jutaan orang. Aksi pendemo itu jelas menjadi tantangan besar bagi China yang menerima Hong Kong dari Inggris pada 1997. 
 
Beijing berulang kali mengecam aksi protes tersebut. Tekanan dan krisis besar selama tiga bulan terakhir sempat membuat Lam mengaku dia ingin mengundurkan diri jika bisa memilih, berdasarkan rekaman yang bocor ke publik.

Sumber:kompas

No comments

Powered by Blogger.