Asosiasi Dorong Peningkatan Daya Saing TKI di Luar Negeri

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) mendorong penyiapan tenaga kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran terampil yang dibutuhkan di luar negeri.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Kami memahami bahwa pidato Presiden Jokowi tentang perlunya bangsa ini menyiapkan agenda Sumber Daya Manusia (SDM) unggul untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain. Itu merupakan agenda yang kita persiapkan untuk lima tahun ke depan," ujar Ketua Umum Apjati Ayub Basalamah seperti dikutip dari Antara, Minggu (10/11).

Ia mengungkapkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia akan berimbas pada penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.

Mengutip proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia 2020 diperkirakan hanya 3,5 persen atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, 3,6 persen.

Di sisi lain, Indonesia akan menikmati bonus demografi yang diperkirakan terjadi selama satu dekade ke depan.

Sebagai catatan, bonus demografi adalah kondisi di mana porsi usia angkatan kerja (15-16 tahun) pada 2020-2030 melampaui penduduk usia non-produksi (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun).

"Tidak ada pilihan lain kecuali menyiapkan pekerja migran Indonesia yang berdaya saing," tegasnya.

Ia mengingatkan pekerja migran Indonesia dapat meningkatkan kontribusi remitansi kepada negara. Peningkatan itu bisa terjadi apabila pekerja migran terampil, bersertifikat, dan memiliki kemampuan bahasa di negara penempatan.

"Asumsinya, dengan dengan jumlah penempatan PMI yang besar seharusnya remitansi yang dihasilkan juga besar," jelasnya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Sebagai pembanding, ia mengambil contoh Filipina yang mengandalkan pemasukan utama dari sektor pekerja migran dengan kompetensi tinggi.

Dengan jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia, nilai remitansinya setahun mencapai US$24 miliar.

Apjati juga terus melakukan peningkatan kualitas PMI melalui Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK) ke Arab Saudi yang sudah berjalan saat ini. Selama delapan tahun devisa Indonesia dari Timur Tengah menurun drastis karena tidak ada penempatan PMI.

Sumber:cnnindonesia

No comments

Powered by Blogger.