Tki Meninggal Pas Antre Paspor, DPR Tegur KBRI KL Evaluasi Sistem

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kasus pekerja migran asal Bawean Jawa Tengah, Tamam meninggal dunia saat mengantre perpanjangan paspor di KBRI Kuala Lumpur (KL), Kamis malam (31/10), memicu reaksi keras dari Komisi I DPR RI.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi bagi pihak KBRI Kuala Lumpur termasuk tentunya Kementerian Luar Negeri di Jakarta. Mengapa proses pengantrean memakan waktu sangat lama?" kata anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Christina Aryani, dalam keterangan tertulis, Jumat (1/11).

Christina juga menyampaikan rasa prihatin dan berduka atas meninggalnya Tamam. Menurut dia, sistem yang ada saat ini dinilainya membuat WNI harus mengantre lama demi mengurus paspor. Terlepas dari apa pun penyebab meninggalnya, dia menyayangkan ada WNI yang meregang nyawa saat antre mengurus paspor.

"Jika ternyata layanan pengambilan nomor urut paspor bisa dilakukan secara online, nyatanya para pekerja migran tetap memilih mengantre, ini bisa saja karena ketidaktahuan dan itu artinya kurangnya sosialisasi dari KBRI terkait mekanisme pengurusan dokumen," ujar dia.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Wasekjen Golkar itu juga meminta KBRI mengantisipasi trend peningkatan antrean dan tidak sekedar reaktif sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Untuk itu, kata dia, KBRI dan stakeholders lainnya membuat sistem yang lebih mudah dan cepat. Pasalnya, para pekerja migran butuh biaya dan berpotensi kehilangan upah karena izin tidak bekerja jika datang ke KBRI untuk mengurus paspor.

"Mengingat kondisi para pekerja migran kita yang datang dari berbagai titik di Kuala Lumpur dan sekitarnya, yang tentunya membutuhkan biaya transportasi, termasuk potensi kehilangan upah karena izin tidak bekerja," tutup anggota DPR dari Dapil DKI Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan luar negeri itu. 

Sumber:merahputih

No comments

Powered by Blogger.