Resign Kerja, Pria Bandung Ini Sukses Bisnis Minuman Kekinian


https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang pegawai ternyata jadi berkah tersendiri bagi Najib Wahab Mauluddin. Sejak 2018, pria asal Bandung ini merintis usaha minuman kekinian yang diberi nama Teguk.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Ide bisnisnya berawal dari merebaknya fenomena minuman kekinian boba. Kata boba sudah tak asing didengar masyarakat Indonesia. Terutama bagi kalangan muda, mulai dari generasi millennial hingga generasi Z. Boba atau bubble yang merupakan topping dalam berbagai macam minuman, mulai dari milk tea, thai tea, minuman rasa coklat, dan sebagainya tengah menjadi incaran anak muda.

Sayang, kala itu minuman sejenis ini tergolong mahal dengan kisaran harga Rp 20.000 ke atas. Ia pun berfikir untuk membuat jenis minuman serupa dengan harga yang cenderung ramah di kantong anak muda.

"Awalnya, saya ingin masyarakat di kelas bawah bisa merasakan minuman mewah tetapi tidak perlu mahal. Makanya kita ciptakan Teguk," kata Najib Wahab.

Pada tahun 2018, Najib merintis Teguk lewat gerai kecil yang ia buka di bilangan Tangerang. Kini, Teguk telah memiliki ratusan outlet di daerah Jabodetabek, Bandung dan Surabaya.

Menu minuman yang biasa dijajakan di mal pun berhasil ia suguhkan untuk segmen bawah. Harga yang dipatok untuk minuman tersebut yaitu mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 19.000.

Najib Wahab mengungkapkan bahwa bahan baku yang ia gunakan untuk produk minumannya tersebut adalah produksi sendiri maupun bahan baku yang masih di supply dari vendor berkualitas dan bermerek, baik dari suplier lokal, maupun impor.

"Yang membedakan minuman kita itu , yang pertama mewah tapi murah. Yang kedua rasa yang kita punya tidak kalah dengan rasa yang ada di mall dengan kualitas sama. Yang ketiga Crew bisa langsung berkomunikasi dengan customer, bisa melihat langsung cara pembuatannya," ungkap Najib Wahab.

Dengan harga yang terjangkau, ia berhasil menggaet pasar yang cukup luas. Bukan hanya remaja mahasiswa-mahasiswi, ternyata market datang dari warga setempat yang umurnya berkisar 15-25 tahun. Penjualannya pun cukup banyak. Najib mengaku penjualan Teguk cukup besar, yaitu sekitar 300 sampai 500 cup setiap gerainya per hari.

Selain harga yang terbilang murah dan rasa yang bisa bersaing dengan produk sejenis, Najib mengaku punya cara sendiri memastikan Teguk bisa berkembang dan bertahan hingga saat ini. Salah satunya adalah pada sisi gerai yang unik.

Meski mengusung semangat kaki lima lewat harga yang terjangkau, namun untuk urusan tempat atau kedai penjualan, Teguk memiliki perbedaan tersendiri dari brand kaki lima lainnya. Teguk dijajakan melalui gerai yang mirip dengan gerai pinggir jalan, namun dengan desain seperti suasana di Mal.

Teguk juga memiliki dua jenis gerai, pertama gerai yang sudah jadi dengan ukurannya minimal 3x4 meter. Dan yang kedua ada jenis kontainer 2x3 meter. Lokasi yang diincar pun dipinggir jalan dan padat penduduk agar mudah dicari dan tentu lebih dekat dengan target customer-nya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, ia juga menggandeng perusahaan aplikasi agar Teguk bisa tersedia di aplikasi-aplikasi order online sehingga makin memudahkan pelanggannya tanpa keluar rumah.

Pada tahun 2020 Najib Wahab menargetkan membangun lebih dari 500 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bagaimana dengan pasar internasional?

"berbicara expansi ke luar negeri, Teguk pun sudah memiliki tujuan untuk ke sana. Namun Teguk akan fokus terlebih dahulu di dalam negeri," beber dia.

Sumber:detikfinance

No comments

Powered by Blogger.