Curhat TKI soal Krisis Masker di Hong Kong: Beli Online, Dikirimi Kardus



    Curhatan menyedihkan disampaikan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. Di tengah maraknya wabah virus Corona, mereka kesulitan mencari masker pelindung. Pernah order masker lewat layanan online dengan harga tinggi, ternyata tertipu kiriman kardus.

Asih, buruh migran di Hong Kong asal Pekalongan, menceritakan perjuangannya bersama teman-teman untuk mendapatkan masker yang harus diganti tiap 6 jam. "Untuk mendapatkan masker, antrean lama dan sangat mahal. Satu kotak isi 50 di sini harga 450-550 dollar (Kong Kong)," cerita Asih kepada detikcom melalui aplikasi media sosial, Kamis (13/2/2020).

1 dollar Hong Kong saat ini setara dengan nilai rupiah sekitar Rp 1.745. Satu kotak masker berisi 50 masker, dirinya dan teman-teman membeli dengan mengantre dan mengeluarkan uang sekitar Rp 959.750 bila satu kotak isi 50 lembar seharga 550 dolar (Hong Kong). Padahal, harga satu kotak masker sebelum mengalami kelangkaan hanya 50 dollar.

Asih dan kawan-kawan pernah berusaha membeli masker secara online, dengan harapan mendapat lebih cepat dan mudah tanpa antre. "Apa yang saya dapat justru di-PHP. Padahal saya sudah kasih DP (uang muka) Rp 5 juta. Bukan masker yang datang, malah sampah kardus," katanya.

Padahal menurut Asih saat pengambilan pengiriman pesanan tersebut, dirinya dikenai pembayaran 30 dollar Hong Kong per kilonya.

Untuk lebih menghemat pengeluaran dan semakin menipisnya barang, Asih dan kawan-kawan saat ini hanya menggunakan masker jika beraktivitas di luar rumah. Hal itu harus dilakukan karena pemerintah setempat mewajibkan semua memakai masker jika berada di area terbuka.

Kondisi yang semakin sulit inilah yang membuat Asih dan kawan-kawan di Hong Kong memberanikan diri mengirim surat terbuka kepada kepala daerah asal masing-masing. Masker tersebut bukan untuk dirinya atau kelompoknya sendiri. Para TKI di Hong Kong saling memberi antarburuh migran asal Indonesia.

"Ada kiriman juga dari Pak Bupati daerah lainnya yang sudah sampai dan kami saling memberi untuk kebutuhan masker kami," katanya.

Asih menyesalkan jika keluhan-keluhan yang dibuat TKI di sosial media justru banyak yang mencibir. "Saya sempat terkucilkan juga karena posting-an saya di sosial media banyak yang mencibir. Tidak saya saja, banyak teman juga mengalami hal yang sama," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, merebaknya virus Corona di China membuat panik para buruh migran Indonesia di Hong Kong. Mereka mengeluhkan langkanya masker dan harganya yang mahal. Mereka pun mengirimkan surat terbuka untuk bupatinya masing-masing.

Lewat surat terbuka yang ditujukan ke bupati, buruh migran asal Batang dan Pekalongan mengajukan permohonan pengiriman masker. Surat terbuka itu dikirimkan ke grup sosial media sesuai asal daerah para buruh migran tersebut.

Sumber :detik

No comments

Powered by Blogger.