Ini adalah usia di mana kita merasa paling tidak bahagia dalam hidup



Krisis paruh baya bukanlah mitos.

Kesimpulan ini berdasarkan analisis data dari 132 negara yang dilakukan oleh ekonom David Blanchflower.



Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada Januari oleh think tank asal Amerika Serikat, National Office of Economic Research, Blanchflower menunjukkan jika "kurva bahagia" berlaku di banyak negara.

Dan bisa jadi, ada hal lain selain lingkungan atau masyarakat yang membuat kita kecewa.

"Ini adalah sesuatu yang dimiliki manusia dalam gennya," kata Blanchflower kepada BBC.

Krisis paruh baya

Tim dari Universitas Edinburgh yang berada di balik penelitian ini menyebut krisis paruh baya disebabkan oleh faktor biologis ketimbang sosial.

Blanchflower, profesor di Dartmouth College, menemukan bahwa rata-rata usia di mana orang merasa paling tidak bahagia dalam hidup di negara maju adalah usia 47,2 tahun.

Sementara di negara berkembang, rata-rata usia paling tidak bahagia adalah 48,2 tahun. Ini merupakan titik terendah, namun keadaan akan membaik setelah itu. Mengapa demikian?

"Di usia 47 orang mulai merasa realistis. Mereka sudah menyadari bahwa mereka tidak akan menjadi presiden," kata ekonom tersebut. Ia menambahkan bahwa ia tidak percaya jika kita adalah satu-satunya makhluk yang merasa demikian.

"Simpanse dan orangutan juga melalui kurva U dalam kebahagiaan."

Blanchflower merujuk pada sebuah studi pada 2012 di mana 508 kera menunjukkan perasaan bahwa hidup mereka baik-baik saja mulai menurun di usia 20-an dan tengah 30-an - usia paruh baya pada kera.

Penderitaan butuh teman

Mungkin secara tak terduga, pola kurva U ini berulang di segala penjuru dunia, meski ada perbedaan ekonomi dan budaya.

Kita merasa lebih baik saat menjelang dewasa, kita menjadi semakin tidak bahagia menjelang usia 40-an dan kita menikmati perasaan hidup sedang baik-baik saja begitu mendekati usia tua.

Pada dasarnya, yang terburuk adalah di tengah-tengah, sementara momen terbaik ada di tahap awal kehidupan dan setelah usia 50.

Setelah 50, Blanchflower menjelaskan, "Anda mulai merasa bersyukur atas apa yang Anda miliki."

Sifat universal siklus ini ditemukan dalam 95 negara berkembang dan 37 negara maju mungkin mengherankan banyak orang.

"Jika benar jika median upah minimum tinggi atau rendah; dan di mana manusia cenderung hidup lebih lama atau lebih pendek," katanya.

Keinginan semakin berkurang
Dari kaca mata psikologi, ada beberapa teori yang dapat menjelaskan fenomena ini.

Salah satunya adalah ketika orang menua, mereka belajar untuk beradaptasi pada kelemahan dan kekuatannya. Di saat bersamaan, aspirasinya yang tidak mungkin terealisasi mulai menurun.

Argumen lainnya adalah karena orang yang lebih optimis dalam hidup cenderung hidup lebih lama, seperti laporan beberapa studi akademik.

"Bisa jadi jika orang-orang yang lebih ceria hidup lebih lama ketimbang yang menderita," tulis Blanchflower di makalah tentang "Umur dan Kebahagiaan" yang berupaya menjelaskan kenapa orang yang lebih tua merasa lebih bahagia.

Selain itu ada faktor ekonomi: Blanchflower berargumen jika masa paruh baya berarti momen yang rentan, yang akan diperburuk jika orang tersebut tengah menghadapi masa ekonomi sulit seperti krisis 2008-2009.

Faktor seperti ini akan membuat tantangan hidup terasa lebih berat.

Perubahan di otak
Jonathan Rauch, seorang peneliti di Brookings Institution di Washington, juga menganalisis isu ini di buku The Curve of Happiness: Why Life Improves After 50 yang diterbitkan pada 2018.

Setelah mewawancarai pakar lintas disiplin (termasuk Blanchflower), Rauch menemukan jika otak kita mengalami perubahan saat kita menua: setiap kali otak akan semakin mengurangi fokus terhadap ambisi dan menambah fokus pada keterhubungan dengan manusia lain.

"Ini merupakan perubahan yang sehat, tapi ada transisi yang tidak menyenangkan di tengah-tengah," tulisnya.

Rauch menggambarkan krisis di usia 40-an sebagai "celah ekspektasi", karena banyak yang menyadari bahwa cita-cita mereka terlalu ambisius.

Dalam pandangannya, anak muda terjebak dalam "kesalahan prediksi" karena mereka berharap terlalu banyak jika kebahagiaan akan mendorong pada pencapaian tujuan tertentu.

Di sisi lain, para orang tua menghapus ekspektasi ini dan mulai mengembangkan kemampuan untuk mengelola emosi.

Rauch berargumen jika tidak semua orang melalui siklus yang sama, karena faktor seperti penyakit, pengangguran, atau perceraian juga menjadi faktor.

"Tetap saja, pola-pola yang muncul terlalu nyata untuk tidak dipertimbangkan," tulisnya.

Rauch berargumen, ketimbang mencoba untuk "melawan penurunan", kita harus menghargai kesempatan yang tercipta dengan "memahami dan mengalahkan logika yang berseberangan".

"Kurva kebahagiaan merupakan perubahan emosional yang menantang tapi transformatif yang menjauhkan kita dari kompetisi dan mendekatkan kita pada komunitas, membuka jalan baru menuju hidup yang berkecukupan dan bijaksana," tambahnya.

Sumber :BBC

No comments

Powered by Blogger.