Kisah Mantan Pengikut ISIS: Kondisi Suriah Sangat Berbeda dengan Propaganda di Medsos



    Febri hanya mengenang bagaimana dirinya menggunakan visa turis selama lima hari berada di Istambul, Turki untuk selanjutnya berangkat ke perbatasan Turki-Suriah.



Saat itu dia hanya menunggu pihak ISIS untuk bertemu di salah satu titik di Kota Istanbul dengan sebuah bus besar yang diperkirakan berkapasitas 50 orang yang kemudian membawa mereka ke perbatasan Turki-Suriah lewat jalan setapak.

"Saya turun dan semua data-data tentang Indonesia dikasih semua. Dan penuh perjuangan, kita disuruh lari-lari dan akhirnya kita bisa masuk ke Suriah," kenang dia.

Perjalanan Febri ke Suriah pun dilanjutkan ke Kota Ar-Raqqah. Setibanya di kota bagian utara Suriah itu, dirinya langsung sadar bahwa informasi yang selama ini didapatnya bagian dari propaganda ISIS.

Pasalnya, kota tersebut telah hancur lebur akibat perang. Di kota ini juga Febri bertemu dengan salah satu warga negara Indonesia (WNI) hingga akhirnya mempertemukan dirinya dengan keluarga.

Febri hanya mengenang bagaimana dirinya menggunakan visa turis selama lima hari berada di Istambul, Turki untuk selanjutnya berangkat ke perbatasan Turki-Suriah.

Saat itu dia hanya menunggu pihak ISIS untuk bertemu di salah satu titik di Kota Istanbul dengan sebuah bus besar yang diperkirakan berkapasitas 50 orang yang kemudian membawa mereka ke perbatasan Turki-Suriah lewat jalan setapak.

"Saya turun dan semua data-data tentang Indonesia dikasih semua. Dan penuh perjuangan, kita disuruh lari-lari dan akhirnya kita bisa masuk ke Suriah," kenang dia.

Perjalanan Febri ke Suriah pun dilanjutkan ke Kota Ar-Raqqah. Setibanya di kota bagian utara Suriah itu, dirinya langsung sadar bahwa informasi yang selama ini didapatnya bagian dari propaganda ISIS.

Pasalnya, kota tersebut telah hancur lebur akibat perang. Di kota ini juga Febri bertemu dengan salah satu warga negara Indonesia (WNI) hingga akhirnya mempertemukan dirinya dengan keluarga.

"Akhirnya saya dikasih ketemu keluarga saya dan alhamdulillah ibu saya masih hidup. Dan memang ada beberapa yang sudah meninggal," kata dia.

Febri hanya diberikan dua hari untuk bertemu keluarganya. Dia harus mengukuti wajib militer yang sebenarnya tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Betapa tidak, ia hanya ingin menimbah ilmu di Suriah sebagaimana informasi yang didapatkannya bahwa kuliah dan biaya hidup gratis di sana.

Mendengar cerita Febri itu, keluarganya langsung marah kepadanya lantaran memutuskan untuk ikut berangkat ke Suriah. Padahal, keluarganya telah berencana akan kembali ke Tanah Air.

"Mereka (keluarga) menjelaskan semua keburukannya ISIS. Dan mereka berusaha keluar dari wilayah itu dan kembali ke Indonesia," bebernya.

Pada akhirnya Febri dan keluarganya pun memutuskan kembali ke Indonesia dengan segala resiko yang akan dihadapi mereka. Kemudian, mereka memutuskan untuk menyerahkan diri ke pasukan SDF Kurdi dan dipenjara selama dua bulan.

Di penjara itu, Febri dan keluarganya kerap diinterograsi dan menyatakan bahwa berhijrah ke Suriah bukan untuk berperang, melainkan untuk belajar dan ingin hidup berdasarkan syariat Islam seperti zaman Rasullah SAW.

"Dan pada akhirnya saya diserahkan ke pemerintah Indonesia," tandasnya.

Sumber :okezone

No comments

Powered by Blogger.