Kisah orang tua dengan anak transgender: 'Kami dilaporkan ke pihak berwenang karena membiarkan anak laki-laki kami pakai baju perempuan'



    Luiz adalah seorang anak laki umur lima tahun yang senang memakai pakaian dan asesori untuk anak perempuan.



Nama Luiz dan orang tuanya diganti untuk melindungi identitas mereka.

Sejak tahun 2018, orang tuanya membolehkan Luiz berpakaian seperti perempuan ketika berjalan-jalan di kota di negara bagian Santa Catarina di Brasil Selatan.

Di tahun itu, mereka dilaporkan ke unit pengaduan yang dioperasikan oleh Kementrian Perempuan, Keluarga dan Hak Asasi Manusia.

Penelepon anonim mengatakan Luiz "didorong orang tuanya memakai pakaian perempuan" dan sebagai akibatnya Luiz dirundung di sekolah.

Segera kasus ini ditangani oleh kantor kejaksaan.

"Ini pukulan besar bagi kami. Menurut kami situasinya aneh," kata Cesar, ayah Luiz.

Perubahan sikap
Cesar seorang petugas polisi. Ia telah mengubah pandangannya soal gender sesudah anak laki-lakinya mulai memakai baju perempuan.

"Sebelumnya, saya memperlihatkan perilaku homofobik. Namun pandangan itu saya ubah," katanya kepada BBC.

"Saya rasa gurauan dan komentar homofobik itu sangat menghina."

Ibu Luiz, Maria, juga terpukul oleh aduan itu.

"Ini situasi yang sangat sulit," katanya. Ia berpisah dari Cesar tapi keduanya berbagi hak asuh.

"Ketakutan terbesarku adalah seseorang akan mengatakan hal yang menyakitinya."

Ketakutan Maria meningkat ketika keluarganya jadi subyek dari laporan anonim ini, tak lama sesudah ia dan Cesar membolehkan Luiz memakai pakaian feminin di luar rumah.

Kejaksaan membuka penyelidikan. Mereka berpendapat di bawah undang-undang perlindungan anak Brasil, hak Luiz bisa "terancam atau terlanggar".

Namun mereka menyimpulkan kedua orang tua anak ini "tegas dan konsisten dalam menggambarkan bahwa anak itu sendiri yang memilih asesori dan baju anak perempuan, tanpa paksaan dari pihak lain".

"Tidak ada risiko yang melibatkan Luiz," kata kejaksaan dalam pengumuman tertulis mereka.

"Sebaliknya, kedua orang tua memperlihatkan kematangan dan kearifan menghadapi situasi ini bersama dengan anak mereka yang didukung dengan baik."

"Maka tak ada bukti bahwa hak anak terancam".

Kasus ini ditutup pada tanggal 27 November 2018.

Kedua orang tua Luiz tidak pernah bercerita kepada anak mereka soal penyelidikan ini.

"Ia masih sangat muda dan ada hal-hal yang kami anggap tidak pantas untuk diceritakan kepadanya," kata Maria.

Nasehat psikologis
Ayah dan ibu Luiz bilang bahwa kadang Luiz ingin dipanggil Luiza.

Artikel ini sendiri ditulis dalam bahasa Inggris dengan mengacu ke Luiz - atas permintaan orang tuanya - dengan gender laki-laki dalam pronominanya.

Cesar dan Maria berpendapat ini masih fase awal dan mereka pecaya seiring waktu Luiz akan diacu sebagai anak perempuan.

Dua tahun lalu, kedua orang tuanya memutuskan untuk mencari nasehat psikoog dan tiba pada kesimpulan bahwa anak mereka transgender.

"Katanya ia tak ingin punya jenggot atau menjadi laki-laki," kata Cesar.

"Ia mulai minta memakai pakaian dan asesori anak perempuan."

Cesar berkata pada BBC bahwa awalnya sulit baginya untuk memahami anaknya. Namun ia selalu berusaha untuk menghormati keinginan si anak.

"Lingkungan kepolisian itu didominasi oleh laki-laki. Semua berharap saya bertindak keras kepada anak saya.

Namun pendirian saya lebih liberal dan saya hargai keinginannya," tambah Cesar.

"Banyak yag menyangka saya akan malu soal anak saya, tapi saya sangat bangga padanya."

Cesar dan Maria membolehkan Luiz memakai perhiasan feminin seperti pita dan jepit rambut sejak ia berumur tiga tahun.

Mainan dan pakaian perempuan
Alexandre Saadeh, psikiater dan ahli dalam identitas gender, menyatakan gender seorang anak tidak ditentukan oleh faktor-faktor seperti mainan yang mereka pilih untuk bermain.

"Yang membuat seorang anak jadi transgender adalah fakta bahwa ia terlahir bertentangan dengan jenis kelaminnya saat dilahirkan," paparnya.


Sumber :BBC

No comments

Powered by Blogger.