KISAH TKW asal Singkawang, Palsukan Identitas, Meringkuk di Penjara dan Tak Jera Kerja ke Malaysia

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

TA (19) menjadi satu dari 66 pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi oleh Malaysia, melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, pada Rabu (12/2/2020) malam WIB.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kota Singkawang ini pun berbagi kisah kepada jurnalis Tribun Pontianak setibanya, di Kantor Dinas Sosial (Dissos) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

TA bercerita awal mula bekerja di Malaysia hingga motivasinya ke negara jiran tersebut.

Saat itu, ia ditawari bekerja ke Malaysia oleh seseorang yang berinisial FR dengan iming-iming gaji yang besar.

Dikarenakan keterbatasan ekonomi keluarga, ia pun memutuskan untuk merantau ke negeri Jiran untuk mencari uang.

Ketika akan berangkat, usianya masih 16 tahun sehingga belum memenuhi syarat untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Namun, di tangan FR orang yang menawarinya berangkat ke Malaysia segala persyaratan administrasi bisa lengkap.

Diduga identitas usia TA saat itu dipalsukan untuk mengurus berbagai syarat administrasi menjadi TKW ke Malaysia.

"Berangkat ke sana umur 16 (tahun-red), paspor itu di tuakan umurnya, saya kerja di kedai, tempat makan," kata TA.

Sekira dua tahun bekerja, TA tak mengalami persoalan sehingga akhirnya ditangkap polisi Malaysia.

"Baru kali ini ketangkap, saya juga bukan di tempat kerja di tangkapnya, tapi pas lagi di tempat lain ditangkap," ungkapnya.

Ketika TA ditangkap, dirinya tak bisa menunjukkan surat identitas. Pasalnya, surat - surat tersebut telah lama hilang karena tas miliknya dicuri.

"Dari CCTV di kedai, tas saya itu di curi, mau lapor, saya takut malah ditangkap, jadi akhirnya saya biarkan," katanya.

Karena tak mampu menunjukkan identitas, ia pun harus menjalani proses hukum di Malaysia. TA harus meringkuk di jeruji besi Malaysia sekira enam bulan lamanya.

Dirinya harus di tahan sejak September 2019 hingga Februari 2020. Akhirnya, ia dibebaskan beberapa hari lalu dan dipulangkan ke Indonesia.

Selama di penjara, ia mengungkapkan tak mendapat perlakuan yang buruk, semua berjalan dengan baik.

Namun, TA sepertinya tak jera ketika harus kembali bekerja ke Malaysia. TA megaku jika mendapatkan izin dari keluarga bisa saja kembali bekerja ke Malaysia. "Tergantung keluarga, keluarga mengizinkan lagi atau tidak," pungkasnya.

Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan dan Pemberdayaan Badan Pelayanan, Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak, Andi Kusuma Irvandi sebelumnya mengakui, terdapat 66 PMI yang dideportasi dari Malaysia.

Mereka terdiri dari 43 orang laki-laki, dan 23 perempuan serta satu di antaranya masih anak-anak.

Dari 66 orang yang dideportasi tersebut, mayoritas memang berasal dari Kalimantan Barat (Kalbar sebanyak 27 orang.
https://line.me/R/ti/p/%40psm2899b

Sisanya, 11 asal Jawa Timur, Yogyakarta 1 orang, Jawa Tengah 2 orang, Jawa barat 2 orang dan Nusa Tenggara Timur (NTT) 4 orang.

Setelah itu, Nusa Tenggara Barat (NTB) 3 orang, Sumatera Utara 1 orang, Lampung 2 orang, Sulawesi Barat 1 orang, dan Sulawesi Selatan 2 orang.

Andi Kusuma Irvandi pun mengungkapkan sebab para PMI dideportasi dari Malaysia.

PMI tersebut dipulangkan dengan alasan yang bervariasi, seperti 33 orang tidak memiliki paspor, 31 orang tidak memiliki permit, dan orang permitnya kedaluwarsa serta tindakan kriminal satu orang. 

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.