Suara Ortu Balita Korban Bom Samarinda soal Wacana Pulangkan WNI Eks ISIS



     Pemerintah mengkaji rencana pemulangan 600 WNI eks ISIS dari Suriah. Wacana pemulangan ini ditolak mentah-mentah orang tua korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).



Salah satu korban ialah balita Trinity Hutahaean. Saat peristiwa yang terjadi pada akhir 2016 itu, Trinity masih berumur 3 tahun. Rencana pemulangan eks ISIS membangkitkan trauma korban.

"Untuk apa mereka pulang. Mereka adalah orang-orang yang kejam. Mereka bantai saudaranya sendiri, dan mengaku menyesal, lalu ingin pulang. Apakah masyarakat Indonesia tidak khawatir? Mereka adalah bibit terorisme," kata ibu Trinity, Sarina Gultom, saat ditemui detikcom di Samarinda, Jumat (7/2/2020).

Trinity merupakan salah satu korban bom gereja yang menderita luka bakar terparah. Pada peristiwa yang terjadi pada Minggu (13/11/2016) itu, dua balita lain, yakni Alvaro Aurelius Tristan Sinaga dan Anita Kristobel, juga jadi korban.

Sarina menilai pemulangan 600 WNI eks ISIS berisiko tinggi. Dia mempertanyakan jaminan keselamatan bagi warga Indonesia setelah para pendukung ISIS itu datang. Dia meminta pemerintah membatalkan rencana tersebut.

"Pemerintah tidak mempedulikan kami para korban. Pemerintah memilih memulangkan mereka, sementara kami yang menjadi korban kenapa tidak diperhatikan. Saya sangat menolak mereka pulang," tegasnya.

Sarina tak dapat membayangkan jika 600 orang itu kembali, dia mengulang kembali soal bibit baru para teroris. Dia sangat yakin, tidak ada teroris yang benar-benar sembuh. Apalagi mereka bahkan sudah memilih meninggalkan negaranya sendiri.

"Mereka itu teroris, mereka bunuh orang-orang tidak berdosa. Pemerintah Indonesia mau pulangkan mereka, sama saja pemerintah izinkan mereka makin besar. Atau seluruh Indonesia mau dipenuhi teroris seperti mereka," katanya.

Menurutnya, upaya pemulangan 600 WNI eks ISIS tentu memakan biaya besar. Sementara itu, Sarina mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah meski anaknya menjadi korban. Padahal sudah tiga tahun berlalu, tapi hingga sekarang Trinity masih menjalani operasi perbaikan kedua tangannya yang tidak berfungsi.

"Pemerintah tidak adil. Sampai hari ini saya masih di China untuk operasi Trinity. Pemerintah Indonesia tidak sama sekali memberi bantuan untuk pengobatan. Pemprov Kaltim hanya membantu operasi di tingkat RS AW Sjahranie, selebihnya sampai sekarang, kami biaya sendiri," ujarnya.

Senada dengan Sarina, ibu Alvaro, Novita Sagala, tak setuju dengan rencana pemulangan 600 WNI eks ISI ke Indonesia. Dia juga takut pemikiran teroris masih melekat di kepala eks ISIS tersebut.

"Saya ingat bagaimana anak-anak mereka diwawancarai polisi. Mereka jawab akan musnahkan semua kafir, mereka akan bom semua kafir. Lalu sekarang mereka akan pulang ke Indonesia," katanya.

Selain Trinity, Alvaro, dan Anita, ada juga bocah Intan Olivia Marbun, yang tewas akibat bom di Gereja Oikumene, Samarinda. Tubuh mungilnya mengalami luka bakar sekitar 78 persen akibat terkena ledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Jalan Dr Cipto Mangunkusumo No 32, RT 03, Kelurahan Sengkotek, Samarinda, Minggu (13/11) pagi.

Wacana pemulangan WNI eks ISIS sedang dibahas pemerintah. Presiden Jokowi menyatakan tak mau memulangkan para WNI eks ISIS. Namun dia mengatakan pemerintah akan membahas dan membuat keputusan soal wacana itu setelah rapat resmi terlebih dahulu.

Sementara itu, anggota F-PKS DPR Mardani Ali Sera ingin pemerintah mengurus para WNI eks ISIS. Mardani merasa kasihan para WNI eks ISIS terkatung-katung tak jelas nasibnya.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut 600 orang yang mengaku WNI eks ISIS berada di tiga kamp. Ketiga kamp tersebut tersebar di tiga otoritas yang saat ini masih berkonflik dan BNPT tak dapat masuk untuk memverifikasi pengakuan tersebut.

Sumber :detik

No comments

Powered by Blogger.