Tak Diurus Keluarga, Buruh Migran dari Majalengka Meninggal Tertahan di Kamar Mayat RS Malaysia

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Seorang buruh migran  asal Kabupaten Majalengka, Andri Tunru  dinyatakan meninggal di Malaysia, pada 19 Januari 2020 sekitar pukul 13.30 waktu setempat.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Namun hingga kini, jenazahnya masih berada di kamar mayat Hospital Kuala Lumpur, karena tidak ada keluarga yang mengurusnya.

Alamat TKI tersebut pun saat di Majalengka, Jawa Barat  tidak jelas, sehingga tidak diketahui siapa keluarganya.

Menurut keterangan Ketua Forum Migran Majalengka (Formima) Ida Neni Wahyuni, Rabu, 5 Februari 2020, kepada sejumlah wartawan di Majalengka, identitas korban hanya tercatat sebagai warga RT 1, RW 1 Majalengka.

Tidak terdapat alamat lengkap lainnya sehingga Forum Migran Majalengka kesulitan menelusuri alanat yang bersangkutan untuk menghubungi keluarga dan tenpat tinggalnya yang jelas.

“Kami masih menelusuri keluarga korban karena di alamatnya kurang lengkap. Harapan kami, Pemerintah Kabupaten Majalengka membantu mencari alamat lengkap agar jenazah bisa segera dipulangkan kepada keluarganya,” ujar Raida dari Forum Migran Majalengka.

Yang bersangkutan diduga bekerja secara ilegal ke Negeri Jiran tersebut, dan majikannya juga tidak mencatat alamat lengkap serta identitas lainnya secara jelas.

Akibatnya ketika ada persoalan yang menimpa korban sulit mengidentifikasi alamat secara jelas.

“Selama Januari 2020,  2 orang buruh migran asal Kabupaten Majalengka yangd inyatakan meninggal unia saat berada di begara tenpatnya bekerja. Selain itu ada satu orang lainnya yang masih menjalani perawatan di Kuala Lumpur, Malaysia,” katanya.

WNI lainnya yang meninggal adalah Desi Ratnasari dengan alamat tempat tinggal, Blok Dukuh Domba, Desa Liangjulang, Kecamatan Kadipaten. Dia meninggal dunia di Abu Dhabi.

“Hasil komunikasi antara keluarga dengan pihak Kedutaan, pumulangan jenazah katanya menjadi tanggung jawab pihak keluarga, sementara kondisi ekonomi keluarga kurang mampu.” ungkap Raida.

Sedangkan buruh migran yang mesih menjalani perawatan di Rumah Sakit adalah Enah Binti Asro Saad. Melalui KBRI Kuala Lumpur, Enah mengaku telah dipekerjakan sebagai PRT oleh Ayi Hasanah di daerah Meru, namun selama 6 tahun, Enah tidak pernah mendapatkan gaji.

“Kami menerima laporan menyangkut hal tersebut pada tanggal 30 Juli 2019. Yang bersangkutan berangkt ke Luar Negeri  secara ilegal melalui agen perorangan yang bernama Jhony (Malaysia), dan dua warga Indonesia yang katanya bernama Eca dan Budi ,” ungkap Raida.

Menurutnya, Satgas PPT KBRI Kuala Lumpur telah berupaya menggali informasi lebih banyak terkait kasus tersebut.

Bahkan KBRI juga mengaku sudah ditelepon pihak keluarga korban untuk dimintai bantuan pemulangan.

Satgas PPT kemudian menanyakan kepada pihak keluarga terkait majikan Enah. Pihak keluarga menyampaikan bahwa berdasarkan struk pembayaran listrik, Enah bekerja di rumah No 15, Jalan Batu Nilam 26, Bandar Bukit Tinggi, Klang, Selangor, Malaysia.

Namun nama pelanggan ditagihan listrik tersebut bukanlah majikan yang bersangkutan.

Setelah itu, pada 26 Agustus 2019 satgas PPT melayangkan surat melalui pos ke alamat tesrebut. Tetapi berdasarkan penelusuran surat tersebut gagal dikirimkan kepada alamat tadi.

"Baru pada tanggal 27 Agustus 2019, saudari Enah sakit batuk kemudian dibawa oleh satgas PPT ke klinik. Berdasarkan hasil Rontgen, dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lanjutan," kata dia.
https://line.me/R/ti/p/%40psm2899b

Hampir sebulan di rawat di Institut Pengubatan Respirator (IPR) Kuala Lumpur, tanggal 8 Oktober 2019 Satgas PPT mengantar Enih ke alamat majikan.

Namun ketika sampai di alamat tersebut, yang bersangkutan terlihat ragu-ragu kalau alamat tersebut adalah rumah majikannya.

"Satgas juga sudah melayangkan surat ke pihak majikan, tapi tidak pernah datang," katanya.

Yang bersangkutan menyatakan ingin pulang meskipun masih memiliki tuntutan gaji terhadap majikannya.

Sumber:pikiranrakyat

No comments

Powered by Blogger.