Awas! Jangan Tertipu Obat Corona di Toko Online



    Dunia sedang digegerkan dengan kemunculan virus corona. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, China, dan telah menyebar ke beberapa negara termasuk Indonesia.



Di tengah ramainya virus corona, ada toko online di Indonesia menjual beberapa obat yang diklaim 'obat virus corona'. Meskipun belum diketahui obat tersebut ada pengaruhnya atau tidak untuk mencegah virus corona.

detikcom menelusuri salah satu toko online yaitu Tokopedia. Di situ, setidaknya ada 528 produk yang diklaim sebagai obat corona. Salah satunya 'obat mencegah virus corona' yang dijual dengan harga Rp 15.000.

Setelah dilihat di deskripsi produk, obat tersebut merupakan Chloroquine/Primaquine, yang merupakan obat untuk mencegah penyakit malaria.

Adapun obat corona dijual bervariasi di sini. Setidaknya terlihat yang paling mahal dijual dengan harga Rp 975.000 yang mengatas namakan 'obat herbal pencegah virus corona'.

Bentuk obat yang dijual pun bermacam-macam. Ada yang berbentuk kapsul, tablet, hingga sirup.

Tidak hanya di Tokopedia, toko online lain seperti BukaLapak juga banyak sekali suplemen pencegah virus corona yang entah punya pengaruh atau tidak.

Apa kata Tokopedia?

External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengatakan produk yang dijual di lapaknya bersifat user generated content (UGC), yang mana semua penjual mengunggah produknya di Tokopedia secara mandiri.

"Sebagai upaya untuk menciptakan peluang bagi para penjual di Indonesia, marketplace kami bersifat UGC, dimana setiap pihak dapat melakukan pengunggahan produk di Tokopedia secara mandiri," kata Ekhel dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (2/3/2020).

Menurutnya, UGC itu sangat bermanfaat dan memudahkan para pelapak yang ingin berjualan di lapaknya.

"Sebagai upaya untuk menciptakan peluang bagi para penjual di Indonesia, UGC sangat bermanfaat dan memberikan kemudahan bagi para seller," ucapnya.

Meski begitu, pihaknya akan berupaya agar produk yang dijual di lapaknya tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, terutama untuk produk kesehatan.

Chandra mengatakan, masyarakat bisa melaporkan dengan cara klik fitur 'Laporkan' yang ada di setiap halaman produk.

"Kami menghimbau masyarakat agar dapat melaporkan produk-produk dengan judul atau deskripsi kurang tepat, langsung dari fitur Laporkan yang ada di setiap halaman produk," katanya.

Apa kata pakar kesehatan?

Ketua Pusat Kajian Kesehatan (Puskakes) UHAMKA M Bigwanto mengatakan belum ditemukan obat spesifik untuk mengatasi virus corona. Selama ini pasien hanya diberikan obat pneumonia dan antiretroviral (ARV) karena memiliki gejala yang sama.

"Obat spesifik untuk COVID-19 belum ditemukan. Selama ini treatmennya dikasih obat yang sama dengan obat pneumonia (karena gejalanya sama) dan ARV. Tapi efektifitas ARV ini belum ada bukti ilmiahnya. Hanya case by case," kata Bigwanto kepada detikcom, Senin (2/3/2020).

Untuk itu, Bigwanto menghimbau kepada masyarakat jangan percaya dengan obat virus corona yang beredar.

"Masyarakat nggak perlu panik dan jangan tertipu dengan iklan obat di online, karena sampai sekarang obat spesifik untuk COVID-19 belum ada," ucapnya.

Untuk mencegah virus corona, Bigwanto mengajak masyarakat untuk implementasikan hidup bersih dan sehat. Hal itu bisa dilakukan dengan cara cuci tangan sebelum dan sesudah makan, perbanyak makan buah dan sayur, hingga hindari banyak bersentuhan dengan sesama manusia.

"Implementasikan perilaku hidup bersih dan sehat: cuci tangan, makan buah dan sayur, perkuat sistem imun tubuh dan sementara ini hindari kontak langsung seperti jabat tangan atau cipika-cipiki dengan orang lain," jelasnya.

Sumber :detik

No comments

Powered by Blogger.