Ilmuwan Eksplor Efektivitas Obat Anti-Malaria untuk Tangkal Virus Corona

https://line.me/R/ti/p/%40rgl2765t

Para ilmuwan sedang mengeksplorasi obat anti-Malaria yang murah dan bisa menjadi pengobatan efektif untuk virus corona. Chloroquine, telah digunakan selama beberapa dekade untuk mencegah orang terkena malaria. Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk. 

https://line.me/R/ti/p/%40rgl2765t

Saat kompetisi untuk menemukan obat yang mampu hentikan wabah virus corona masih berlanjut, perhatian ilmiah justru beralih pada efek anti-Virus obat tersebut. Pada Kamis (19/03/2020), Presiden AS Donald Trump dan Komisaris Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS, Dr. Stephen Hahn mengumumkan bahwa chloroquine adalah salah satu dari sejumlah pendekatan yang tengah diuji untuk atasi Covid-19.

Pada Selasa lalu, Universitas Minnesota mengungkapkan bahwa mereka tengah meluncurkan uji klinis apakah hydroxychloroquine, turunan dari chloroquine dapat mencegah orang yang terkena virus. Sukarelawan uji klinis yang telah terpapar Covid-19 namun tidak merasa sakit akan diberi hydroxychloroquine untuk dilihat apakah dapat menghentikan perkembangan penyakit atau mengurangi keparahannya. Menurut tes laboratorium yang dilakukan oleh Institut Virologi Wuhan di China, chloroquine ditemukan "sangat efektif" dalam mengendalikan infeksi Covid-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memasukkan chloroquine sebagai salah satu obat yang diprioritaskan di bawah Uji Solidaritas Global. Yaitu sebuah studi internasional yang menyatukan berbagai upaya dari berbagai negara untuk menguji potensi perawatan virus corona. Obat lainnya yang dalam fokus pengujian ada remdesivir (pengembangan pengobatan anti-Ebola), lapinovir, ritonovir dan obat HIV.

Dr Andrew Preston, pakar dalam Patogenesis Mikroba di Universitas Bath mengatakan bahwa chloroquine lebih dikenal sebagai obat anti-Malaria.

“Obat itu murah, dianggap relatif aman bagi manusia dan telah digunakan selama lebih dari 70 tahun," ungkap Preston. “Namun, selama lebih dari 10 tahun telah ada penelitian yang melaporkan efek anti-Virus chloroquine, atau turunannya hydroxychloroquine, terhadap flu dan SARS. Sehingga meningkatkan harapan terhadap aktivitas terhadap virus corona saat ini," imbuh Preston. 

Dr. Preston mengatakan penelitian yang menunjukkan efek anti-Virus chloroquine selama wabah virus SARS sebelumnya menerima "perhatian yang relatif sedikit" ketika wabah SARS berlalu. Dia menyoroti penelitian terbaru di Marseille, Perancis, di mana uji coba pengobatan chloroquine pada 20 pasien Covid-19 di rumah sakit menunjukkan 70 persen dianggap sembuh setelah enam hari.

Dr. Preston menekankan lebih banyak pengawasan diperlukan dari hasil serta uji coba terkontrol yang lebih besar pada efektivitas chloroquine. "Tapi di antara kegelapan yang menindas dari situasi saat ini, secercah harapan sangat disambut," tambahnya. Robin May, Profesor Penyakit Menular di Universitas Birmingham, mengatakan tentang chloroquine, "Ini adalah obat yang memiliki sejarah panjang dan digunakan melawan malaria. 

https://line.me/R/ti/p/%40rgl2765t

Pada dasarnya karena itu berdifusi menjadi sel darah merah, membuat lingkungan di dalam sel kurang cocok untuk hidup parasit." Dia melanjutkan bahwa karena memiliki sejarah panjang penggunaan klinis, profil keamanan chloroquine sudah mapan dan murah serta relatif mudah dibuat.

Sehingga secara teoritis akan cukup mudah dan cepat menjadi uji klinis. Jika berhasil, pada akhirnya  masuk ke dalam perawatan medis. Bulan lalu, diketahui bahwa Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris telah melarang “ekspor paralel” chloroquine dan ritonavir atau lopinavir. Ekspor paralel terjadi ketika perusahaan membeli obat-obatan untuk pasien di Inggris dan menjualnya dengan harga lebih tinggi di negara lain.

Sumber:kompas

No comments

Powered by Blogger.