Mahasiswa Singapura Dianiaya Secara Rasis di London, Dianggap Pembawa Corona



      Mahasiswa 23 tahun asal Singapura mendapatkan perlakuan rasis di London, Inggris. Pria yang tengah studi di London ini di-bully dan dianiaya secara rasis terkait Corona.

Dilansir CNN, Rabu (4/3/2020), pria bernama Jonathan Mok itu menceritakan pengalamannya di Facebook pada Senin lalu. Dia mengaku diserang oleh sekelompok orang di Oxford Street, kawasan belanja di jantung ibu kota pada 21.15 waktu setempat.

Dari foto yang diunggahnya, nampak mata kanan dan pipi Mok lebam parah.

Serangan tersebut muncul di tengah meningkatnya xenophobia atau ketakutan terhadap kemunculan orang-orang Asia Timur di Inggris dan wilayah lain di dunia.

"Orang yang mencoba menendangku berkata 'Aku tak mau virus Corona-mu ada di negaraku', sebelum memukulku di wajah dan membuat hidungku berdarah," ujarnya.

Mok mengatakan, dokter memberitahunya bahwa serangan itu membuat tulang wajahnya ada yang patah dan memerlukan operasi rekonstruksi.

Sementara polisi London tengah menginvestigasi kasus ini. "Belum ada penangkapan sejauh ini," ujar petugas kepolisian.

Ironisnya, Mok mengatakan bukan kali ini dia mendapatkan perlakuan rasis dalam beberapa pekan terakhir. "Aku sudah belajar di London selama 2 tahun terakhir dan setiap tahun, Aku jadi korban perlakuan rasis. Untuk mereka yang menyebut tak ada rasisme di London, coba pikirkan lagi," imbuhnya.

Kasus Mok ini adalah satu di antara beberapa insiden yang terjadi di Inggris di tengah merebaknya isu Corona. Organisasi Stop Hate UK mengecam hal ini.

"Stop Hate UK beberapa waktu terakhir ini mendapatkan beberapa aduan dari orang yang mengalami rasisme, diskriminasi dan bully verbal. Timbul dari persepsi bahwa mereka adalah anggota komunitas China yang cenderung dianggap menjadi pembawa virus corona, "kata organisasi tersebut.

Diskriminasi juga telah meningkat di AS, dengan para ahli menyalahkan ketidaktahuan dan informasi yang salah untuk serangan rasis dan xenophobia terhadap orang-orang yang tampaknya berasal dari Asia Timur.

"Dengan berita tentang coronavirus, kami telah melihat sebuah peningkatan dalam ketakutan terhadap orang-orang yang terlihat seperti itu," kata Rosalind Chou, seorang profesor sosiologi di Universitas Negeri Georgia.

Sumber :detik

No comments

Powered by Blogger.