Prediksi Pakar Soal Akhir Wabah Virus Corona Covid-19 di Indonesia



   Wabah virus corona masih terus menunjukkan penyebaran masif di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut memicu kewaspadaan dan kekhawatiran di berbagai negara. 



Wabah yang berasal dari Kota Wuhan, China, ini mulai menyebar dan menjangkiti ribuan orang sejak pertengahan Januari 2020.

Di Indonesia, Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama virus corona pada Senin (2/3/2020) lalu bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam jumpa pers. 
Sejumlah langkah dan arahan diterbitkan oleh pemerintah pusat. Mulai dari isolasi mandiri di rumah, menjaga ketat pintu akses masuk ke Indonesia serta membangun rumah sakit darurat untuk merawat pasien positif virus corona. Selain itu pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak berpergian ke luar kota, termasuk mudik.

Tak hanya aparat pemerintah dan tenaga medis, sejumlah ahli akademik dari kampus ternama di Tanah Air pun ikut ambil bagian untuk menangani virus ini. Seperti yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

Berbagai kajian dan penjelasan dari pakar tersebut pun menjelaskan puncak pandemi hingga prediksi masa akhir virus corona.

Perkiraan Puncak Pandemi COVID-19 oleh ITS

Kepala Pusat Kajian Kebijakan Publik Bisnis dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PKKPBI ITS), Arman Hakim Nasution mengatakan, berdasarkan data yang telah diolah dari Command Centre BUMN diperkirakan puncak pandemi Covid-19 akan terjadi di minggu pertama dan kedua pada Mei 2020.

Arman Hakim Nasution yang merupakan dosen Departemen Manajemen Bisnis ini merekomendasikan dua poin penting. Di dalam poin pertama terdapat tiga usulan. Usulan pertama adalah mempersiapkan rumah sakit beserta tenaga medisnya untuk menampung pasien positif COVID-19. Lalu mengubah fungsi lahan terbuka perkantoran milik pemerintah yang berdekatan dengan rumah sakit menjadi Unit Gawat Darurat (UGD) sementara.

"Hal ini untuk mencegah terjadinya keterbatasan ruang perawatan bagi pasien,” ucapnya Minggu, 29 Maret 2020.

"Adapun UGD tersebut akan menggunakan ruang isolasi modular atau yang bisa dibongkar pasang,” lanjutnya.

Usulan kedua, mengintegrasikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dengan rumah sakit milik swasta. Integrasi ini menggunakan sistem Bawah Kendali Operasi (BKO) yang bertujuan mengontrol dan mendistribusikan sumber daya kesehatan, seperti obat-obatan, ambulans, tenaga kesehatan, serta Alat Pelindung Diri (APD) di setiap rumah sakit di Jawa Timur.

Usulan yang ketiga adalah membentuk pusat komando penanganan Covid-19 berskala provinsi. Pusat komando ini berfungsi untuk mengintegrasikan kebutuhan medis dari Pemerintah Pusat kepada Pemprov Jawa Timur dan melakukan pemantauan jumlah tenaga medis beserta pasien positif Covid-19 di setiap daerah.

"Pusat komando ini akan menggunakan sistem informasi terpadu yang mengadopsi Command Center milik BUMN di Jakarta,” jelas Arman Hakim Nasution.

Sumber :liputan6

No comments

Powered by Blogger.