Berawal dari Kepolosan Diselingkuhi, Kini Aku Pintar Menyenangkan Diri


Aku Rosmala, anak tunggal dari seorang wanita berdarah campuran Belanda-Sunda. Ketika aku lahir, ayahku meninggal karena kecelakaan bus saat hendak pulang dari luar kota. Selama ini hanya ibu yang membanting tulang untukku, namun keluarga ayahku selalu meminta uang pada ibu dengan berbagai alasan. 

Sejak kematian ayah, ibu yang harus menanggung semua biaya. Ketika aku lulus sekolah, aku tidak ingin kuliah karena tidak mau melihat ibu semakin kesulitan. Tetapi ibu memintaku untuk tetap kuliah dan tidak perlu memikirkan dirinya, beruntung aku mendapatkan beasiswa penuh di salah satu universitas terkenal di Jakarta. 

Di saat ibu banting tulang, ada nenekku yang hanya bisa menyuruh ibu melakukan banyak hal. Sebenarnya, hal-hal sepele itu bisa ia kerjakan sendiri. Ibu tidak pernah mengeluh jika disuruh macam-macam oleh nenek, kata ibu itu sebagai bentuk cinta kepada ayah.


Setelah lulus kuliah aku bekerja di salah satu perusahaan negara dan mulai membantu ibu. Dua tahun aku bekerja, aku dikenalkan seorang laki-laki oleh temanku. Ia seorang karyawan swasta yang sudah memiliki karier tinggi. Kami berkenalan dan hanya sebatas bertukar nomor kontak, selebihnya ia tidak pernah menghubungiku. 

Nenek menjadi tinggal bersama kami karena anak-anak nenek yang lain tidak mau menerimanya. Meski begitu aku selalu dibanding-bandingkan dengan sepupu-sepupuku. Aku sudah berusaha membuat nenek bahagia tetapi tetap saja ia memperlakukanku seperti itu. 

Ibu yang terus-menerus membuatku bersabar. Satu tahun kemudian, lelaki yang dulu dikenalkan oleh temanku mengirimkan pesan. Ia bilang kalau sebelumnya sedang ditugaskan di luar pulau dan tidak sempat menghubungiku. Aku tidak masalah sebetulnya, aku juga tidak mengharapkan hubungan itu berjalan maju.

Komunikasi di antara kami berjalan dengan baik, ia selalu memberiku perhatian. Aku menceritakan pada ibu tentang lelaki ini, ia pun setuju jika aku menjalin kasih dengannya. Satu tahun kemudian ia datang menemuiku dan mulai mengenal keluargaku.
 
Saat ia datang, nenek sangat terlihat tidak suka padanya. Ia terus berperilaku buruk seolah sedang mengusir kekasihku. Aku selalu meminta maaf padanya dan memberikan pengertian kalau nenek memang seperti itu. Tampaknya ia tidak mempermasalahkannya.
 
Keesokkan harinya, giliran aku yang datang ke rumahnya. Keluarganya menyambutku hangat sekali, aku merasa diterima menjadi bagian dari mereka. Usai menemui keluarganya, aku mulai terbuka tentang kisah keluargaku. Ia menyimak dan menunjukkan rasa prihatin, katanya ia ingin membuatku berkecukupan juga merasa bahagia.

Dua tahun kemudian, kami menikah. Aku meminta ibu untuk tidak bekerja lagi dan biarkan aku yang menanggung semua biaya. Namun, setelah menikah suami tidak mengizinkanku bekerja dan aku harus ikut dengannya ke sebuah daerah di Indonesia Timur. 

Sebagai istri aku hanya bisa menuruti permintaannya. Di sana masih sangat sepi sekali dan jarak antara rumah tetangga juga cukup jauh. Aku merasa kesepian dan hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Suami memberikan semua gajinya dan aku berusaha memenuhi kebutuhan rumah juga membiayai keluargaku di kampung halaman. 

Tiga tahun menikah kami diberi kepercayaan merawat sepasang anak kembar dan dua tahun setelahnya suami dimutasi ke pulau lain. Tidak memungkinkan untukku ikut suami ke sana karena anak-anakku masih sangat kecil dan aku merasa akan cukup repot jika harus berpindah-pindah rumah.

Selama ia berada di pulau lain, komunikasi di antara kami masih sangat baik. Perlahan ekonomi keluargaku juga semakin membaik, suami sudah mampu membeli mobil dan motor meski tetap belum bisa memiliki rumah sendiri. Bertahun-tahun ia dimutasi dan hanya pulang beberapa kali dalam satu tahun membuat anak-anakku selalu meminta untuk bertemu dengannya. 

Berkali-kali mereka mem-video call ayahnya tetapi sering kali tidak diangkat. Anak-anakku mulai merajuk dan selalu mengatakan rindu dengan ayah mereka. Semakin lama ia seolah semakin menjauhi keluarganya, saat ia pulang ke rumah aku meminta izin untuk kembali ke kampung halaman.
 
Ia menanggapi itu dengan sangat baik dan menyuruhku untuk berlama-lama di sana. Aku sudah merasa ada yang tidak benar dengan dirinya, tidak biasanya ia membolehkanku pulang ke rumah ibu terlalu lama. Aku mencoba menepis keraguan itu dan menyambutnya dengan suka cita, aku berterima kasih padanya karena sudah menjadi suami yang pengertian. 

Satu minggu kemudian, aku kembali ke kampung halaman menggunakan bus. Aku membawa serta kedua anakku, mereka sangat senang sekali bertemu dengan neneknya. Nenekku sudah meninggal satu tahun setelah aku menikah dan kini ibu hanya tinggal seorang diri. 

Berulang kali aku meminta ibu mencari pendamping agar tidak merasa kesepian, tetapi ia tidak menginginkan suami baru. Ayahku saja sudah cukup untuknya. Aku selalu mendambakan kisah cinta kedua orang tuaku, betapa romantisnya mereka. Ibu selalu setia menemani ayah meski mereka sudah berbeda dunia. 

Sesampainya aku di rumah ibu, anak-anakku langsung memeluk neneknya. Kami melakukan banyak hal untuk mengisi waktu luang dan kebetulan mereka sedang liburan sekolah. Jadi, tidak perlu pusing dengan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan. 

Ketika ada momen di mana aku hanya berdua dengan ibu. Ibu selalu menanyakan keberadaan suamiku, “ia seharusnya ikut denganmu ke sini, jangan dibiarkan sendiri di sana. Sudah lama dia tidak disentuh olehmu” kata ibu. Aku berencana memintanya untuk datang ke tempat ibu beberapa hari setelah ibu menasihatiku. 

Satu minggu aku dan anak-anak berada di rumah ibuku. Suatu malam ponselku berdering dan nama salah satu tetanggaku tertera di sana. Aku mengangkat teleponnya dan terkejut, ia menyampaikan kalau suamiku ditangkap warga karena memasukkan wanita lain ke dalam rumah. Tubuhku lemas sekali dan aku hanya bisa menangis dipelukkan ibuku. 

Hilang sudah harapan memiliki kisah cinta layaknya kedua orang tuaku. Aku menangis dan disaksikan oleh kedua anakku, mereka mengelus pundakku juga menghapus air mataku. Aku memandangi mereka, ibuku terus bertanya apa yang sedang terjadi tetapi belum aku beri tahu.

Setelah anak-anak terlelap, aku menceritakan semuanya pada ibu. Ia menangis dan tidak menyangka kalau suamiku akan seperti itu. Suamiku dinilai sangat baik dan peduli pada keluarga, jauh dari citra buruk yang senang menggoda wanita. 

Esoknya aku kembali seorang diri, anak-anak aku titipkan pada ibu. Di perjalanan aku merasa hancur dan tidak tahu harus seperti apa saat berbicara dengannya. Ketika berada di rumah, ia sedang duduk menonton televisi dan aku duduk di sebelahnya. “Siapa wanita itu?” tanyaku, ia emosi dan mengeluarkan kata-kata kasar kepadaku. 

“Kamu itu sama aja kaya tetangga, tidak percaya sama suami sendiri! Apa aku terlihat seperti orang yang gemar selingkuh?” Teriaknya. Aku bersyukur anak-anak dititipkan pada ibu, aku tidak ingin mereka melihat kejadian seperti ini.
 
Ia terus memaki dan kemudian mendorongku ke dinding. Hampir saja aku mati karena kehabisan napas saat tangannya sudah mencengkeram leherku. Setelah puas memaki, ia pergi meninggalkanku yang terduduk dan menangis di lantai. Aku merasa hancur saat itu, ia tidak kembali hingga dua malam. Terbersit pikiran untuk menyudahi hidupku. 

Spontan aku ambil tali di gudang dan kusimpul di atas sebuah kayu di dekat kamar mandi. Saat leherku sudah berada di dalam simpul tali, seorang tetangga membuka pintu rumahku secara tiba-tiba untuk membagikan kue ulang tahun anaknya. Ia teriak histeris saat melihat aku melakukan percobaan bunuh diri. 

Teriakkannya mengundang tetangga dan mereka menolongku untuk turun dan menghentikan aksi itu. Aku menangis histeris karena merasa sudah tidak kuat menjalani hidup, tetapi banyak tetangga yang meminta aku untuk bersama dan kuat demi anak-anakku. 

Aku baru tersadar mereka masih tinggal bersama ibu, hanya memikirkan mereka saja membuatku menangis. Kabar kalau aku melakukan percobaan bunuh diri pun sampai di telinga suamiku. Ia menangis dan meminta maaf atas perbuatannya, ia tidak ingin ditinggalkan olehku. 

Ia tidak ingin menyudahi pernikahan kami, responsku hanya diam. Aku hanya mendengarkan dan tidak bergeming dari tempat dudukku. Selama sebulan ia melayani kebutuhanku, aku depresi berat. Banyak tetangga yang menghakimi suamiku, aku tidak peduli. 

Ibuku yang setiap hari menelepon dan menyuruhku untuk kuat. Aku mencoba untuk kuat dan bangkit, sakit rasanya tetapi semua harus aku tepis demi anak-anakku. Aku tidak akan merelakan suamiku untuk wanita lain, rugi rasanya menyerahkan begitu saja. 

“Saat dia susah sudah kudampingi sepenuh hati dan setelah sukses masa aku serahkan begitu saja,” pikiranku terus berkecamuk. Mungkin terdengar jahat, tetapi itulah caraku untuk bertahan dan bangkit dari depresiku. Sudah satu minggu anak-anakku tidak bersekolah dan aku tidak ingin membiarkan itu terlalu larut. 

Aku menjemput mereka dan kembali ke rumah. Aku bersikap seperti biasanya kepada suamiku, menyediakan kebutuhan dan melayani layaknya seorang istri. Tiga tahun setelah itu, aku pikir ia sudah jera karena sempat dikucilkan warga tetapi ternyata tidak.

Aku kembali menemukan bukti kalau ia menjalin kasih dengan seorang wanita di lingkup ia bekerja. Aku belajar dari pengalamanku, aku tidak ingin terpuruk dan ditertawakan oleh selingkuhannya. Akhirnya, aku meminta dibelikan rumah di sebuah komplek yang cukup elite. 

Ia mengabulkannya, kemudian aku meminta beragam tas branded dan selalu pergi bersama teman-temanku. Ia pun tidak marah dengan sikapku. Semakin lama, anak-anak semakin besar dan mereka pasti akan mengerti kebenaran di dalam rumah tangga orang tuanya seperti apa. 

Aku mulai mencari kesenanganku sendiri. Aku sisihkan sebagian uang untuk ditabung dan di investasikan, jaga-jaga kalau semua akan berakhir buruk. Aku mulai membeli banyak barang atas namaku, termasuk rumah, mobil, dan beberapa kendaraan lain. 

Aku semakin sering menemukan bukti kalau suamiku berselingkuh bahkan dengan tiga hingga empat wanita. Tetapi aku tetap memperlakukannya seperti biasa, melayani dan memenuhi kebutuhan dia. Aku sudah tidak peduli dengan cinta, aku hanya melakukan kewajiban dan mempersiapkan masa depan anak-anakku dengan baik.


Sumber :kumparan.com

No comments

Powered by Blogger.