Cerpen Horor, Nandi



Perlahan Nandi bangkit. Merasakan tubuhnya terbang ringan. Suasana malam yang dingin, membuatnya menggigil.

Segera Nandi duduk di tepi jalan. Menunggu seseorang lewat. Malam yang sepi di tikungan bulan sabit. Tak ada suara orang bercengkerama. Bahkan binatang-binatang malampun engggan memperdengarkan siulan syahdunya.

Tetiba sorot lampu mobil menusuk mata Nandi. Diiringi suara lolongan panjang anjing hutan pemecah sunyi. Nandi bergegas berdiri, ia lambaikan tangan sebagai tanda mobil untuk berhenti.



Harapan Nandi meleset. Mobil berlari kencang tak mempedulikan lambaian Nandi. Sekilas dilihatnya sang sopir sempat menoleh ke arah Nandi. Reflek kedua tangan Nandi menutupi wajahnya. Dilihatnya wajah sang sopir serupa tengkorak. Menyeringai dengan mata bulat purnama.

Udara dingin semakin menusuk. Perlahan angin menampakkan wujudnya. Daun-daun jatuh dan rebah di kerasnya trotoar. Pertanda akan turun hujan.

Nandi masih berdiri menunggu. Tak seberapa lama dari arah timur memancar dua sorot lampu sepeda motor. Nandi segera melambaikan tangan. Berharap pengendara motor berhenti di dekatnya.

Untuk kedua kali, harapan Nandi meleset lagi. Pengendara sepeda motor memang sempat memperlambat laju motor. Akan tetapi hanya sekejap dan langsung tancap gas. Nandi kembali menutup wajahnya. Baginya wajah pengendara sepeda motor lebih seram. Rambut mereka gimbal dengan mata sebesar bola pingpong, seakan ingin melompat keluar. Lidah mereka terjulur memanjang keluar. Mirip Leak.

****

Nandi mulai bengong. Takut dengan yang ia alami. Bergegas ia berlari tak tentu arah. Di pikiran Nandi hanya ada satu keinginan. Secepatnya sampai di rumah orang tuanya.

Entah sudah berapa persimpangan jalan ia lalui. Sudah berapa deretan lampu jalanan ia lewati. Nandi terus berlari. Hingga tubuhnya terasa melayang ringan. Sedikitpun letih tak ia rasakan.

Pada pertigaan jalan nan sepi, Nandi berhenti. Senyumnya menyungging. Dilihatnya pohon asam yang sangat ia kenal berdiri gagah menjulang. Pohon asam yang sudah sejak ia lahir tegak menjulang di depan rumah orang tuanya.

Segera Nandi menuju rumah orang tuanya. Suasana tengah malam nan sunyi diramaikan datangnya rintik hujan. Nandi mengetuk pintu dan memangil ayahnya. Tidak ada jawaban. Beberapa kali diulanginya mengetuk pintu dan diselingi memanggil ibunya. Tetap tak ada jawaban.

Reflek Nandi mendorong daun pintu. Aneh...., pintu terbuka tak terkunci. Tak ada seorangpun terlihat di ruang tamu. Berjingkat Nandi ke pintu kamar orang tuanya. Terkunci rapat dan sunyi. Diarahkan kakinya ke kamar adiknya. Juga terkunci dan sunyi.

Tiba-tiba letih dan kantuk merayapi tubuh Nandi. Segera Nandi ke kamarnya. Gelap adanya. Tangannya menggerayang stop kontak, namun tak ditemukannya. Nalurinya mengajak ke pembaringan. Masih dengan menggerayang gelap, akhirnya sampai jua Nandi di pembaringan. Direbahkan tubuhnya. Tak berapa lama kemudian matanya lelap dalam tidur panjang.

****

Entah berapa lama Nandi tertidur pulas. Saat terbangun, didengarnya suara orang-orang bercengkerama. Sayup terdengar pula suara tangis dari kamar ibunya. Nandi segera beranjak ke luar kamar. Aneh...., meskipun riuh mendayu terdengar suara orang bercengkerama, tak ada seorangpun yang Nandi lihat di dalam rumah.

Perlahan Nandi membuka pintu kamar ibunya. Mata nandi membelalak. Dilihatnya seorang perempuan tengah menangis mendayu. Perempuan berpakaian putih terjurai hingga ke tapak kaki. Di tangan perempuan itu terdekap foto dalam frame yang cukup besar. Foto Nandi berkebaya warna hitam. Yang lebih miris, punggung perempuan itu berlubang. Tulang rusuknya yang putih dan denyut jantungnya yang jelas terlihat, membuat Nandi menjerit sangat ketakutan.

Nandi berlari ke luar rumah. Mendadak larinya terhenti saat akan melewati teras rumah. Dilihatnya banyak pocong bercengkerama di teras rumahnya. Seakan hilang akal, Nandi berlari berjingkrak melewati pocong-pocong yang mulai terlihat tubuhnya seirama bergerak ke kanan dan ke kiri. Sekuat tenaga Nandi berlari meninggalkan rumah orang tuanya.

Entah sudah sejauh mana Nandi berlari. Napasnya terengah-engah dan lututnya terasa lemas. Agak jauh di depan, dilihatnya ada poskamling yang cukup terang oleh sinar lampu. Nandi mencoba mendekat. Ada lima orang laki-laki sedang bercengkerama.

"Sudah dengar belum, Min?"

"Dengar apa Wo...?"

"Nandi yang tewas diperkosa dan dibunuh seminggu lalu itu, arwahnya gentayangan!"

"Gentayangan gimana, Wo?"

"Ya gentayangan.... Jadi hantu penunggu pohon asam di depan rumah orang tuanya. Wujudnya seperti Kuntilanak. Wajahnya putih pucat seperti kapur"

Nandi hanya diam mendengar. Tanpa sengaja Nandi nyeletuk,"Saya baik-baik saja pak!"

Sontak lima orang lelaki itu menoleh ke arah Nandi. Mereka semburat kabur meninggalkan poskamling. Sedangkan Nandi.... masih berdiri kaku tanpa ekspresi.

Sumber : KOMPASIANA

No comments

Powered by Blogger.